Hot Questions

Realita, Cinta dan Rocky Gerung

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Selasa, 14 Des 2021 10:06 WIB
Jakarta -

Nama Rocky Gerung sudah muncul sejak awal program HOT Questions ini dibuat. Buah pemikirannya terhadap politik atau situasi kenegaraan sudah sering diucapkan, tapi masa kecilnya, padangannya atas selebriti, pergaulan dan bahkan cinta, tidak begitu kedengaran.

Menyusuri jalur Jakarta - Bogor, detikHOT kemudian memasuki wilayah Sentul. Naik tinggi ke atas Sentul Selatan, tepatnya Desa Bojong Koneng, Bogor, kami sampai pada kediaman Rocky Gerung. Pagar rumahnya membentang hampir tak dikenali, atau mungkin itu memang tujuannya. Ketika masuk, kami disuguhkan dengan pemandangan hijau yang meneduhkan.

Posisi bangunan utama berada di bawah jalan masuk tadi. Menyusuri jalan setapak ada dua pendopo kecil, salah satunya berisi barisan buku dan poster Nelson Mandela. Di rumah utama, suasana serba kayu, aroma kopi bercampur ribuan lembar buku, dan dedaunan sehabis hujan menyambut kedatangan. Ditambah lantunan musik blues yang mengalun lirih lewat YouTube, membuat suasana siang itu makin khidmat. "Satu jam ya," kata tuan rumah, Rocky Gerung yang santai mengenakan celana pendek dan kemeja putih.

Rocky GerungRocky Gerung Foto: Rocky Gerung dok detikhot

Pada realitanya, suasana siang yang tenang itu, berbanding terbalik dengan suara lantang yang kerap diucapkan Rocky Gerung di berbagai kesempatan. Bahkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, selain memang nama keluarganya dari Minahasa, kata 'gerung' punya arti sendiri yang bermakna meraung. Apakah memang begitu sejak kecil?

"Gue enam bersaudara, anak nomor satu. Dulu ya biasa, sekolah saja. Ya mungkin (lantang bersuara) karena mahasiswa awalnya, mengerti politik. Semua orang kan mengalami second choice ketika dia bertemu dengan realita, kemudian dibekali dengan alat analisis. Ada teori dan logika yang kuat, kita terpaksa harus teriak," Rocky membuka cerita panjang masa mudanya.

"Gue remaja tahun 80-an, rumah keluarga gue di daerah Menteng. Dulu ada beberapa pub yang jaraknya kalau jalan itu 10 menitan dari rumah. Ada Pitstop di Hotel Sari Pan Pacific (sekarang Hotel Sari Pacific). Ada Green Pub di Djakarta Theater. Dulu di situ ada band namanya Jack and The Gold Guys (Embong Rahardjo, Jack Lesmana), musiknya jazz. Ada lagi BB's di Lapangan Menteng, di situ ada reggae, blues. Jadi ya, mainnya di situ-situ."

"Duduk di pub, minum tequila sambil dengan blues. Kalau bosan di Jakarta, kita cari musik-musik underground Remy Sylado di Bandung. Sebetulnya, anak Bandung itu lebih paham filosofi musik dibanding anak Jakarta, karena mereka ditopang literatur. Dulu ada toko buku di Braga jual majalah-majalah musik dari luar, kita juga baca di situ. Kalau anak Jakarta ini bagian jingkrak-jingkrak dan eksperimen."

Nyatanya, musik jazz memang mengiringi kehidupan Rocky muda hingga dewasa. Hari ini, musik etnik dari Afrika menjadi favoritnya.

"Jazz, blues itu dasarnya. Lo bisa bosan dengerin musik pop, tapi bisa kembali ke jazz, blues. Sekarang gue lagi suka musik etnik dari Afrika, Sona Jobarteh. Dia main alat musik namanya kora. Terus perkusinya juga kuat, groovy kind of. Anak milenial harus dengar ini," sambungnya.

Bicara dengan Rocky tidak sah jika tidak menyerempet kepada hal-hal yang sifatnya politis. Terbukti, ketika bercerita tentang musik, akademisi kelahiran Januari 1959 itu pun mengatakan bahwa musik sebagai budaya pop sudah seharusnya tidak sekadar dinikmati, tapi juga diresapi sebagai bagian dari perjuangan.

Rocky Gerung Hot QuestionsRocky Gerung Hot Questions Foto: Muhammad Ridho

"Dulu, teman-teman gue anak ITB, riset musik itu dengan teori sosial yang kuat. Misalnya lagu 'Give Me One Reason' dari Tracy Chapman, itu ada filosofinya. Karena itu menyangkut perjuangan melawan orde baru saat itu. Kita bisa diskusi tentang The Police, bukan sekadar mendengar musiknya, tapi membedah liriknya. Karena budaya pop itu gabungan keahlian artistik dan keinginan subversi. Bahwa musik itu jadi outlet, bukan medium. Akhirnya membuat diskusi politik jadi ada suasana artistiknya," tutur Rocky.

Melihat tempat tinggalnya kini, dan masa mudanya di pusat kota, apa yang kemudian membawa Rocky Gerung pindah ke atas gunung di tengah hutan? "Itu hijrah batin saja," jawabnya santai sembari tertawa.

Ngomong-ngomong soal batin, detikHOT juga menanyakan perjalanan kebatinan Rocky Gerung. Khususnya tentang kematian, dan konsep kehidupan setelahnya.

"Dulu ada sosiolog Nobert Elias (Jerman), ditanya oleh wartawan. Nanti kalau Anda meninggal, Anda mau dikuburkan di mana? Kata Elias, tanya saja pada jenazah saya. Demikian pertanyaan (kematian) ini."

"Teori Evolusi itu batal akhirnya karena ada konsep tentang surga. Padahal sebetulnya surga itu end result dari perjalanan kita. Tabungan moral kita, tabungan intelektual kita, tabungan finansial bahkan. Karena kalau dalam etika Protestan, semakin kaya manusia semakin mudah masuk surga karena dia semakin mudah berbuat baik. Konsep kematian itu selalu diinginkan untuk dialami sebelum kematian itu datang. Padahal kalau lo mati, gue mati, kamera ini jatuh kemudian terurai, semua jadi mineral. Semua orang akan jadi mineral. Semua disulap oleh bumi untuk bumi memperbaiki dirinya," jelas akademisi 62 tahun ini

Panjang dan lebar obrolan detikHOT dan Rocky Gerung sampai kepada hal-hal terkait dengan cinta dan romansa. Bukan asal tanya, karena banyak cerita-cerita di luar sana yang mengatakan bahwa Rocky Gerung adalah seorang penakluk wanita. Benarkah demikian?

Rocky Gerung Hot QuestionsRocky Gerung Hot Questions Foto: Muhammad Ridho

"Semua spekulasi itu menyenangkan saja sebagai gosip. Ngapain ngomongin cinta, cinta itu dialami saja, bagaimana kita mau terangkan sesuatu di dalam versi yang orang nggak pernah alami." jawabnya.

"Kita nggak bisa menerangkan sesuatu, yang terhadap yang lain dia lebih unggul. Kalau cinta harus didefinisikan, yang lain nggak ada artinya lagi. Itu kenapa energi yang paling dahsyat dari peradaban adalah cinta, karena dia dahsyat, lo nggak bisa definisikan," tandasnya.

detikHOT masih punya banyak cerita anak gunung yang satu ini. Pandangannya atas selebriti yang dianggap kehilangan makna. Tentang akal sehat pergaulan masa kini yang dia sebut green civilization dan tentu saja, menggali lebih dalam soal cinta versi Rocky Gerung. Ikuti terus semuanya hanya di HOT Questions.

Rocky Gerung Hot QuestionsRocky Gerung Hot Questions Foto: Muhammad Ridho
(mif/nu2)