Pemberangkatan Jenazah Rahayu Supanggah Diiringi Gendhing Karyanya

Bayu Ardi Isnanto - detikHot
Selasa, 10 Nov 2020 14:56 WIB
Jenazah Rahayu Supanggah
Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom
Solo -

Suasana pilu mengiringi pemberangkatan jenazah maestro karawitan Rahayu Supanggah. Gending Jawa dan sejumlah penari juga mengiringi jenazah yang diangkat dari rumah duka menuju pemakaman.

Tampak tujuh penari berpakaian hitam-hitam dan membawa tongkat berada di barisan depan. Di belakangnya terlihat peti jenazah Panggah diselimuti kain hijau. Peti digotong masuk ke dalam mobil jenazah.

Iringan gendhing dan tari merupakan penghormatan terakhir bagi Panggah yang telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan musik tradisional.

Gendhing yang dimainkan dipilih secara khusus. Yakni berjudul Bedhaya Amartya, karya Panggah yang dinilai paling istimewa.

"Beliau dan mungkin banyak orang menilai gendhing ini sangat istimewa. Beliau juga sangat menyukainya," kata Suraji, pengelola sanggar seni milik Panggah, Garasi Seni Benowo, saat ditemui di rumah duka, Benowo RT 06 RW 08, Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Selasa (10/11/2020).

Jenazah Rahayu SupanggahJenazah Rahayu Supanggah Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom

Menurutnya, Bedhaya Amartya dibuat untuk sebuah acara kolaborasi dengan seniman Sri Astari Rasjid. Saat itu ditampilkan fragmen tokoh Drupadi dalam cerita pewayangan.

"Gendhing ini dimainkan dalam fragmen Drupadi di Jakarta. Isinya terkait Pandawa yang moksa," ujar dia.

Selain gendhing khusus tersebut, dimainkan pula gendhing-gendhing yang biasa digunakan untuk acara kematian. Antara lain Pamegatsih, Ketawang Yikma dan Mijil Ratri.

"Pamegatsih itu tentang perpisahan dengan orang yang dicintai. Ketawang Yikma itu saat raga dan ruh yang sudah tidak menyatu. Lalu Mijil Ratri yang digunakan untuk kematian," tutupnya.

Jenazah Rahayu SupanggahJenazah Rahayu Supanggah Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom

Jasad Panggah kemudian dikebumikan di Astanalaya Benowo, Ngringo, Jaten, Karanganyar yang tak jauh dari rumah duka. Dia meninggalkan seorang istri, Sundari dan dua orang putra, Gandang Warah dan Wirid Nugroho Pamungkas.

Selain sebagai seniman kawakan, Panggah juga merupakan seorang akademisi. Dia mulai diangkat sebagai CPNS sejak 1976.

Terakhir, dia diangkat sebagai guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan purna tugas pada 2019. Dia juga pernah mengemban beberapa jabatan, yakni Rektor ISI (dahulu Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo pada 1997-2001, Direktur Pascasarjana tahun 2002-2006 dan dosen terbang Pascasarjana ISI Solo tahun 2019-2020.

Jenazah Rahayu SupanggahJenazah Rahayu Supanggah Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom


Simak Video "Suasana Rumah Duka Maestro Gamelan Solo Rahayu Supanggah"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/tia)