detikHot

Cerita Pendek

Rahasia Lelaki

Minggu, 28 Apr 2019 12:19 WIB Eko Setyawan - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - "Anak di perutku ini ingin terbang. Jika kau memang percaya pada orangtua kita dulu bahwa orang ngidam jika tidak dituruti kemauannya, maka aku takut nanti dari mulut anak kita nanti akan keluar air liur secara terus menerus. Apa kau menginginkan hal menjijikkan itu terjadi pada anak kita?"

Itulah permintaan istriku. Sebuah keinginan yang kuanggap cukup konyol sekaligus mengagetkan. Tentu saja konyol. Apakah mungkin sebuah janin dalam perut bisa memiliki keinginan aneh semacam itu? Keinginan untuk terbang. Kurasa itu tidak mungkin dan tidak akan terjadi di dunia mana pun. Tak akan pernah ada hal semacam itu.

Kalau pun memang ada. Manusia terbang hanya ada dalam film rekaan atau paling buruk ada di dunia dalam kepala istriku. Bagaimana cara manusia terbang kalau tidak dibantu dengan sebuah alat atau dengan keajaiban? Semua itu bisa saja terjadi jika ada mukjizat. Tetapi mukjizat juga tidak turun pada sembarang orang. Kalau pun itu benar-benar terjadi, tak mungkin sebuah mukjizat menghinggapi istriku. Apa lebihnya dia hingga dapat keajaiban yang sulit dijangkau akal dan pikiran manusia? Tak ada. Istriku tidak ada lebihnya. Tapi aku memang menganggapnya lebih dari yang lain. Bukan lebih dalam artian yang istimewa.

Kenyataan itulah yang membuatku semakin mencintainya. Aku menganggap istriku lebih baik dari perempuan mana pun. Lebih dari keistimewaan yang dimiliki perempuan lain. Sebab bagiku, mencintai istriku adalah sesuatu kelebihan yang kumiliki. Bukankah demikian hakikat sebuah pernikahan? Bahwa tidak ada perempuan mana pun yang lebih baik dari istri sendiri. Sebab segalanya telah sah. Begitu juga seorang perempuan seharusnya berbuat. Menganggap suaminya adalah lelaki terbaik yang ada di muka bumi. Yang terpenting adalah tidak ada laki-laki lain yang mampu menggantikan peran seorang suami. Karena bagaimanapun, sepasang suami istri tetaplah sepasang suami istri dan tidak ada yang berhak menyela di antara keduanya.

"Apa kau yakin?" Aku mencoba meyakinkan istriku. Kurasa keinginannya itu sulit untuk terpenuhi. Ah keras kepala sekali diriku jika menganggap apa yang dikatakan istriku adalah sepenuhnya keinginannya. Tapi aku tak mungkin mempercayainya begitu saja, sebab aku ragu dengan apa yang ia katakan. Sebuah janin yang ingin terbang. Aku berpikir keras akan hal itu.

Janin tetaplah sebuah janin dan belum mampu bicara. Terlebih suaranya dapat didengar oleh istriku sendiri. Meskipun dalam kepercayaan yang beredar, hubungan batin janin yang dikandung oleh perut ibunya mampu menyampaikan sesuatu. Mungkin saja hal itu disebabkan karena janin berada di dekat hati seorang ibu, jadi memang ikatan itu tak berbatas. Sebuah hubungan yang tak dapat diuraikan dengan akan sehat. Tapi kurasa mempercayai hal itu tidaklah mudah.

"Apa kau tak mempercayaiku?" istriku memancing dengan pertanyaan yang menusuk. Laki-laki mana pun akan hanyut dengan pertanyaan yang demikian. Sebab bagi seorang lelaki terlebih seorang suami, membahagiakan istri adalah hal yang paling menakjubkan yang pernah ada di dunia.

Aku tak ingin mengecewakannya lagi. Kurasa kesedihan sudah cukup menyelimuti hidupku dan sebuah kebahagiaan adalah mimpi yang harus kuwujudkan. Terlebih ketika aku tahu bahwa kini ia hamil. Ya, aku akan menjadi laki-laki yang sesungguhnya. Sebuah pembuktian yang kutunggu dan sebuah kelegaan yang layak kukabarkan pada setiap orang.

Ada yang meluap-luap dari dalam hatiku ketika ia mengatakan hal itu. Seperti halnya sebuah air terjun, kabar jika ia hamil adalah pelangi yang membias dan melengkung di hadapan air terjun. Segalanya adalah keindahan dan kekaguman sebab hal itu sudah kutunggu begitu lama. Bahkan, aku sudah mulai bosan ketika mertuaku berulang kali menyampaikan bahwa mereka sudah tidak tahan jika ingin menggendong cucu.

"Kapan kau akan punya anak? Kau tak kasihan sama ibumu yang sudah tua ini?" Keluhan demi keluhan selalu terucap dari bibir ibu istriku. Sebuah ucapan yang pelan tapi mencabik-cabik. Lembut tetapi menyayat dan terasah tajam dan menghunus dalam hati.

"Sabar, Bu. Semuanya juga perlu proses. Bukankah segala yang dipaksakan itu tidak baik?" sahut istriku mencoba mendinginkan suasana. Karena memang hanya ia yang berani menjawab pertanyaan itu dengan sangkalan-sangkalan yang sama.

"Tapi sampai kapan ibu harus menunggu?"

"Sampai waktunya tiba, Bu."

Pertengkaran kecil itu selesai ketika ibu memilih diam. Tetapi diamnya mertuaku itu malah membuat segalanya mencekam. Aku tak mampu bicara banyak. Bahkan untuk menenangkan suasana dan menjawab pertanyaannya pun aku tak mampu. Segalanya serupa neraka. Aku merasa dihukum di neraka yang panas. Aku tak kuasa menolak hukuman itu. Menerima, bagiku adalah jalan keluar yang baik dan tidak akan melahirkan masalah yang baru.

Tetapi pertengkaran itu hanya mereda sesaat. Dua hari berselang, rumah kami kembali memanas. Lebih sial lagi karena aku belum mampu memiliki rumah sendiri dan semuanya masih bergantung di rumah mertuaku. Semua bencana yang menimpaku secara terus menerus dan harus kuhadapi. Istriku membantah dengan jawaban yang sama. Katanya, bahwa segala yang dipaksakan tidak akan baik. Tetapi ibu mertuaku tak mau kalah.

"Dipaksakan? Berarti kalian berdua tidak pernah memiliki keinginan untuk memiliki anak?" Pertanyaan itu benar-benar membuatku tak tahan. Tapi apa boleh buat −sebagai orang yang bertanggung jawab− tugasku hanyalah membuat pembuktian. Bahwa aku dan istriku kelak akan punya anak.

Pada akhirnya ketika istriku benar-benar hamil, segera kabar itu sampai di telinga mertuaku. Senangnya bukan kepalang. Serupa anak kecil yang baru saja mendapat uang jajan lebih atau semacam anak yang dapat oleh-oleh jajanan pasar dari nenek mereka. Ah, apa aku durhaka berani mengumpamakan ibu mertuaku dengan hal-hal itu. Tapi itu tak kupikirkan. Bagian terpentingnya adalah sekarang istriku hamil dan aku berbahagia.

Tapi kebahagiaanku juga kupertanyakan ketika istriku menyampaikan tentang ngidam dan meminta hal aneh yang kuceritakan di atas. Aku berusaha memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Hakikat seorang lelaki adalah tak boleh mengecewakan istri. Maka kuputuskan untuk benar-benar menurutinya kali ini.

"Katakan saja dengan jelas apa yang kau minta," aku mencoba mengurai masalah yang kami perdebatkan. Karena bagiku, jika apa yang dikatakan olehnya jelas, maka aku tinggal menurutinya saja.

"Bukan aku yang memintanya, tapi anak yang ada di perutku," kata istriku sedikit membentak.

Bukan hal yang mudah bagiku menemukan jawaban dari apa yang kami bicarakan. Jawaban yang jauh lebih sulit kutemukan dari yang kubayangkan sebelumnya. Karena jika saja ia mengatakan dengan sejujurnya dengan langsung mungkin aku bisa langsung mewujudkan dan memenuhi apa yang ia minta. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Segalanya sudah kupikirkan. Bahkan cara yang paling mudah sudah kuusulkan padanya; tinggal mengatakan ia minta apa. Cukup sampai di situ saja semuanya akan beres.

"Baiklah. Begini saja," aku menarik napas panjang, "Jika memang benar yang meminta itu adalah anak yang ada di perutmu, kita bersabar saja dulu barang sejenak. Mungkin akan jelas apa yang ia minta dalam beberapa hari ke depan daripada kita dibuat pusing."

"Sampai aku lupa. Begitu maksudmu?" istriku memprotes. Kurasa ia memang keras kepala serupa ibunya. Aku sudah paham benar bagaimana tabiat ibunya. Kurasa istri dan mertuaku itu tak jauh beda sifat-sifatnya. Ibu dan anak yang sama-sama keras kepala. Padahal sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Mungkin bisa kusimpulkan bahwa jika mereka menginginkan sesuatu harus segera dituruti. Itulah kesamaan di antara keduanya.

Seorang laki-laki tetaplah seorang laki-laki dan dalam dirinya memiliki tanggung jawab penuh. Seburuk-buruknya tabiat lelaki sebenarnya tak lain untuk membahagiakan orang yang ia cintai. Mengusahakan. Itulah yang ada dalam benak semua laki-laki. Ketika segala hal dirasa buntu, maka ia yang merasa dirinya seorang lelaki pasti akan mengusahakan. Sebab hal itulah yang menjadi harga diri laki-laki. Tak ingin mengecewakan. Karena membuat yang ia cintai kecewa sama saja melukai dirinya sendiri. Perempuan harus tahu akan hal ini.

"Minggu depan aku akan ambil cuti, kita akan pergi ke Bali." Aku memutuskan untuk mengajaknya berlibur. Ini adalah jawaban dari keinginan terbang dari permintaan istriku. Ah, bukan istriku, tetapi janin yang ada di dalam perutnya.

"Apa kita akan benar-benar terbang?" ia meyakinkan dirinya. Tiba-tiba gerombolan kupu-kupu mengitari kami di beranda rumah.

Eko Setyawan lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Literasi Kemuning, Komunitas Sastra Senjanara Surakarta. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com