Prangko Saksi Bisu Sejuta Kisah

Serba-Serbi Prangko Indonesia (2)

Prangko Saksi Bisu Sejuta Kisah

- detikHot
Senin, 13 Jan 2014 11:12 WIB
Prangko Saksi Bisu Sejuta Kisah
Jakarta -

Sejarah Tulis Menulis

Sejarah prangko yang ditampilkan pada museum ini berangkat jauh pada tradisi awal tulis menulis.

"Di Indonesia, sejarah tulis menulis menurut Kerajaan Sriwijaya dimulai dengan menulis di atas daun lontar," ujar Tugiono kepada detikHOT (09/01/2014). Daun lontar ini dimasak untuk kemudian dijadikan dasar medium seperti kertas.

Tak heran, disini ditampilkan sesosok patung yang tengah menulis di atas daun. "Ini seorang pujangga kerajaan sedang menulis, belum ada medium kertas saat itu."

Prangko Pertama di Dunia

Bapak prangko dunia adalah pria asal Inggris, Rowland Hill. Ia adalah pria yang pada tahun 1837, mencetuskan ide penggunaan prangko sebagai bea lunas pengiriman surat.

"Di Inggris mulai diberikan hak kebebasan untuk tidak mencantumkan logo suatu negara." Prangko sendiri secara sah digunakan mulai 6 Mei 1840.

Prangko ini memuat kepala Ratu Victoria, dicetak dalam warna hitam, memuat kata Postage di bagian atas dan memuat kata One Penny di bagian bawah.

Prangko Pertama di Indonesia

Untuk prangko pertama di Indonesia, yang dimuat adalah figur orang barat. Yakni Raja Willem, pasalnya pada 1 April 1964, ketika prangko ini diterbitkan, Indonesia masih berada di bawah kuasa kolonial. Prangko ini dibubuhi dengan nominal 10 sen dan berwarna coklat.

Masuklah ke masa kemerdekaan negeri ini. Dimana PT. Pos Indonesia mulai aktif menerbitkan prangko dengan membawa banyak nilai sejarah dan budaya kita.

Prangko Pasca kemerdekaan Indonesia

Di koleksi ruang sajiΒ  ini, ada edisi pahlawan revolusi, karena kejadian 1965 ikut menjadi peristiwa besar dan sangat penting di Indonesia. "Prangko ini ditujukan untuk sedikit menceritakan kejadian itu," ujar Tugiono.

Ada juga prangko mengenai Hak Asasi Manusia di Indonesia. Setelah itu masuk ke tahun 1974, Indonesia mulai menerbitkan prangko dengan unsur budaya dan kekayaan alam. Tujuannya tak lain tak bukan untuk memperkenalkan identitas bangsa ke negara lain.

Wayang, alat musik, pakaian adat, Candi Borobudur hingga Monumen Nasional turut menghiasi wajah-wajah prangko masa ini.

Filateli

Filateli merupakan hobi mengumpulkan prangko. Kegiatan hobi ini memiliki program besar yang melibatkan banyak negara, Indonesia salah satu negera yang aktif mengikuti ajang ini.

Maka salah satu ruang saji, menggmabrkan beberapa patung anak-anak yang tengah mempersiapkan pemasangan koleksi filateli untuk pameran.

Ada dua tujuan mengkoleksi prangko, yakni untuk koleksi dan investasi. Selain itu kita jadi bisa lebih mengenal frame budaya sebuah bangsa melalui prangko.
Halaman 2 dari 6
(ass/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads