Dirikan Sekolah Setelah Belajar Origami Ke Jepang

Mengenal Seni Origami (7)

Dirikan Sekolah Setelah Belajar Origami Ke Jepang

- detikHot
Jumat, 13 Sep 2013 16:29 WIB
Dirikan Sekolah Setelah Belajar Origami Ke Jepang
dok. mayahirai.com
Jakarta - Awalnya, Fajar Ismayanti berangkat ke Jepang untuk mendampingi sang suami menempuh pendidikan strata 2 (S2). Tak disangka, ketika pulang ke Indonesia, wanita yang lebih terkenal dengan nama Maya Hirai ini justru membuka sekolah khusus origami.

"Syukur alhamdulillah saya berkesempatan belajar origami di Jepang yang sebenarnya tidak disengaja atau direncanakan. Sampai disini, rasanya sayang sekali jika pengetahuan yang bermanfaat ini tidak dibagi," kata Maya kepada Detik, Rabu (11/9).

Tak tanggung-tanggung, istri dari arsitek Bambang Setia Budi itu menekuni origami selama 2,5 tahun dan berhasil mendapat sertifikat sebagai instruktur origami dari Nippon Origami Association (NOA), Jepang pada 2006.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama 'Hirai' sendiri diambil dari nama belakang instruktur yang mengajarinya, Takako Hirai. Takako sempat memberi ia nama 'Tomoko' yang terinspirasi dari nama origamer ternama, Tomoko Fuse.

"Ya, tapi buat saya nama itu terlalu tinggi. Jadi, saya lebih baik pakai nama Hirai saja untuk menghormati beliau (Takako)," ujarnya.

Maya membagi ilmu tersebut pertama kali pada guru Taman Kanak-kanak dan pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Bandung. Kemudian berkembang kepada siapa saja yang ingin belajar mengenai origami lewat sebuah wadah pendidikan bernama Maya Hirai School of Origami.

"Banyak yang setelah saya buat origami lalu membagi ilmu saya kemudian bertanya, 'itu cara bikinnya gimana sih?', selalu pertanyaan itu yang datang. Dari situ saya berpikir kenapa tidak buat sanggar atau sekolah khusus origami saja," kata Maya.

Pulang ke Indonesia pada 2006, ia mewujudkan mimpi itu secara bertahap dengan mendirikan Sanggar Origami Indonesia yang berlokasi di Bandung dan menerbitkan sejumlah buku tentang origami.

Dari komunitas inilah, ibu empat anak tersebut menjalin komunikasi dan silahturahmi dengan orang-orang sesama pecinta origami. Baru pada 16 Mei 2010, Maya resmi mendirikan sekolah khusus seni melipat kertas.

"Responnya saat itu sangat baik. Ternyata banyak sekali yang ingin belajar dan mengenal origami lebih dekat. Saya juga sering diundang mengisi workshop origami di berbagai daerah," ujarnya.

(fip/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads