Rupanya, Almarhum ayahnya lah yang ingin anaknya segera menikah. Keinginan Gito itu disampaikannya melalui seorang kerabat.
"Dia bilang kalau Gito mau lihat Puja menikahi Nurlyana secepatnya. Saya pikir kenapa nggak. Lalu saya, Pak Abdillah musyawarah dan akhirnya kami sepakat," cerita ibunda Puja, Michelle usai pernikahan di kediamannya, Jl Mabad II, Rengas, Bintaro, Tangerang, Minggu (2/3/2008) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perasaan berbeda dirasakan Puja. Menikah di usia muda, rupanya membuat mahasiswa 22 tahun itu deg-degan. "Soalnya banyak wartawan sih. Kalau nggak ada mungkin saya nggak deg-degan," jelas Puja beralasan.
Soal bulan madu, pengantin baru yang satu kampus itu belum punya rencana. Bagaimana dengan momongan? "Secepatnya," jawab Puja singkat disertai senyum malu-malu sang istri.
Puja baru memulai perjalanannya. Sedangkan Michelle hanya bisa sekadar mengenang saat ia menikah dengan Gito dulu. 1 September 1984 di KUA Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saat itu, kata Michelle, Gito hanya bermodalkan Al Quran, cincin, dan mukena.
Kini tinggal Michelle bersama dua anaknya, Bayu dan Bintang di Jakarta. Puja bersama Nurlyana rencnanya akan menetap di Singapura.
(dit/dit)











































