Broken Strings, e-book yang ditulis aktris Aurelie Moeremans, belakangan ramai diperbincangkan publik.
Buku tersebut viral karena memuat kisah pahit yang dialami Aurelie sekitar 16 tahun lalu. Termasuk pengalaman yang tak mengenakkan di masa lalu.
Tak menyangka karyanya mendapat perhatian luas, Aurelie mengaku awalnya mengira Broken Strings hanya akan dibaca secara terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jujur aku tidak menyangka. Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas. Tapi ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses," kata Aurelie Moeremans kepada awak media, Rabu (14/1/2026).
Respons pembaca justru menjadi hal paling menyentuh bagi Aurelie. Ia mengaku banyak mendapat pesan dari perempuan muda hingga para orang tua.
"Yang paling menyentuh buat aku adalah, ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu. Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan," ujarnya.
Aurelie menjelaskan, Broken Strings bukan ditulis setelah dirinya pulih sepenuhnya, melainkan sebagai bagian dari proses pemulihan itu sendiri.
"Menulis Broken Strings itu bukan karena aku sudah pulih sepenuhnya lalu ingin menunjukkan ke publik kalau aku baik-baik saja. Justru kebalikannya. Proses menulisnya adalah bagian dari proses pulih itu sendiri," ungkapnya.
Ia menyebut selama bertahun-tahun banyak hal yang ia pendam dan anggap sudah selesai. Namun, ternyata masih membekas.
"Saat ditulis, satu per satu memorinya muncul, dan di situ aku baru benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku. Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri," beber Aurelie.
Soal keputusan mencetak buku tersebut, Aurelie menegaskan sejak awal dirinya tak memiliki niat komersial. Bahkan versi e-book dirilis secara gratis.
"Awalnya sama sekali tidak ada niat komersil. Bahkan e-book pun aku rilis gratis karena, jujur aku tidak ingin ada kesan 'menjual trauma'," jelasnya.
(fbr/wes)











































