Habib Ja'far Kecil, Anak Ketua Habib yang di-Bully

ADVERTISEMENT

Hot Questions

Habib Ja'far Kecil, Anak Ketua Habib yang di-Bully

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Selasa, 08 Nov 2022 11:34 WIB
Jakarta -

Habib Ja'far di masa kecil hingga remaja punya cerita yang tak kalah menarik dari masa populernya saat ini. Mulai dari beban berlebihan tidak hanya sebagai keturunan Habib tapi juga anak dari ayahnya, masa pacaran yang tak dialami sampai kejadian bully.

Kita mulai satu per satu dari soal gelar Habib yang tersemat di depan namanya. Seperti di banyak informasi tentang dirinya, Habib Husein Ja'far Al Hadar tercatat sebagai keturunan ke-38 dari Nabi Muhammad SAW. Terdaftar pada lembaga bernama Rabithah Alawiyah, lembaga khusus yang bertugas perihal pencatatan keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.

"Habib, Ustad, Syekh, Kiai itu gelar yang sama, yaitu gelar orang yang berilmu agama dan mendakwahkan ilmunya kepada orang lain. Habib sendiri artinya mencintai dan dicintai, jadi landasannya memang cinta. Paling tidak, idealnya mereka yang terdepan dalam mempertontonkan akhlak Nabi yang agung. Ketika orang melihat dia, orang kemudian akan teringat dengan sosok Nabi Muhammad SAW," jelas Habib Ja'far saat berbincang dengan detikHOT.

"Sekarang kalau aku punya anak ya aku catet juga, itu bersambung. Orang mungkin akan kaget masa iya ada catatannya. Karena memang dari awal Nabi Muhammad SAW bilang bahwa semua garis keturunan itu lewat ayah, kecuali garis keturunanku lewat Ibu, yaitu Sayyidah Fatimah, karena Nabi Muhammad SAW tidak punya anak lagi yang melahirkan cucu. Dan, sejak saat itu pencatatan ini jadi Amanah, jadi kemuliaan bagi seseorang, jadi karunia bagi seorang," sambungnya.

Akan tetapi, karena bicara garis keturunan, jadilah Habib Ja'far secara otomatis pun menyandang predikat anak dari seorang Habib. Hal itu, membuat masa kecilnya terasa lebih memiliki beban dibanding anak-anak seusianya, apalagi untuk urusan yang sedikit nakal.

Habib Ja'farHabib Ja'far Foto: Grandyos Zafna

"Makanya dibanding Habib yang lain, atau Sayyid yang lain, itu lebih ketat lagi. Misalnya, teman-teman gue ketika kecil, boleh tuh malam-malam di Bulan Ramadan nongkrong di luar habis Salat Tarawih. Gue nggak boleh, pulang, harus jadi teladan yang baik."

Di periode SD, Habib Ja'far mengenyam pendidikan di pesantren. Ketika masa SMP dan SMA, dia menjalaninya di sekolah negeri. Hal itu membuat dirinya mengalami perundungan karena wajah dan latar belakangnya sebagai keturunan Arab.

"Gua menjadi salah satu dari tujuh orang Arab di 400 siswa, nah di sana sana gue mulai merasakan beban sebagai orang Arab. Di-bully, katanya orang Arab itu rambutnya kayak kambing, keriting. Katanya orang Arab itu begini dan begitu. Mulai tuh punya pemikiran kenapa ya gue terlahir sebagai orang Arab. Sebelum gua pindah pesantren lagi, gue pernah bertengkar sama salah satu teman sebangku. Dia toyor kepala gue, nah buat orang Arab itu kepala ada mahkota."

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT