ADVERTISEMENT

Hot Questions

Kak Seto Dipanggil Paspampres, Si Komo Dianggap Sindir Pak Harto

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Kamis, 22 Sep 2022 13:10 WIB
Jakarta -

"Macet lagi, jalanan macet / Gara-gara Si Komo lewat / Pak polisi jadi bingung / Orang-orang ikut bingung. Macet lagi, macet lagi / Gara-gara Si Komo lewat / Jalan Thamrin, Jalan Sudirman / Katanya berkeliling kota."

"Momo Si Komo, hey... mau ke mana? / Saya mau lihat gedung-gedung bertingkat / Momo Si Komo hey... mau ke mana? / Saya mau lihat pembangunan merata."

Di sekitar 1991, stasiun televisi TPI menyiarkan program Si Komo yang dipimpin Kak Seto. Sebuah program untuk anak-anak bermuatan cerita-cerita yang dikarang dengan berbagai bentuk binatang lainnya, seperti bebek dan ulat.

Lagu Si Komo mendadak menjadi lagu tema bagi berbagai anak-anak yang tumbuh di periode tersebut. Nadanya riang, liriknya mudah dinyanyikan, dan ketika dewasa, rasanya relevan dengan situasi dan kondisi ekonomi yang menjadi latar belakang.

Bicara tentang Kak Seto tanpa membicarakan Si Komo adalah hil yang mustahal. Semua ingin tahu bagaimana seekor komodo bisa menjadi inspirasi lahirnya Si Komo. Apa yang dipikirkan Kak Seto saat itu?

Kak SetoKak Seto Foto: Andhika Prasetia/detikHOT

"Sejarahnya itu ada lagu Si Kancil, saya sedih kancil itu sebagai maskot yang ada di Indonesia kenapa dibilang nakal dan suka mencuri. Akhirnya, saya cari tokoh dongeng dari satwa Indonesia lainnya. Ada cendrawasih, tapi dari Papua Nugini punya. Ada monyet kecil, tankesi, Filipina juga ada. Apa yang hanya satu-satunya di Indonesia. Ketemulah komodo, tapi karena komodo terlalu panjang ya sudah antara Si Komo dan Si Modo, jadinya Si Komo aja," Kak Seto mengisahkan ide lahirnya Si Komo kepada detikHOT.

"Lagu Si Komo itu momennya jadi sebelum Aneka Ria Taman Kanak-kanak tahun 74. Saya memang sudah mulai bikin lagu-lagu, tapi belum ada tempat merilis. Di Aneka Ria juga sempet bikin boneka tapi kurang melejit. Kemudian waktu itu ada tawaran dari TPI untuk saya mendongeng. Akhirnya saya siapkan Si Komo dalam seminggu," Kak Seto melanjutkan.

"Karena boneka komodo nggak ada, akhirnya yang ada boneka naga. Bonekanya saya beli tahun 89 di Amerika, saya modifikasi dan boneka ini nggak pernah ganti sampai sekarang, sambung Kak Seto," ucapnya lagi.

Kak Seto berdiri dari kursi, masuk ke sebuah kamar yang tak jauh dari lokasi ruangan tempat wawancara. Dia keluar menenteng Si Komo. Boneka yang sama persis dari tiga dekade yang lalu. Memunculkan nostalgia di kepala, layaknya tayangan flashback pada film.

"Kemudian saya munculkan Belu, bebek lucu. Ada Dombu, itu maksudnya domba putih, ada juga Ulil, yaitu ulat kecil, dia jahil tapi kreatif," lanjutnya lagi.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT