Kondisi Terkini Tukul Arwana: Tekanan Darah Naik Turun, Alami Hipertensi Akut

Hanif Hawari - detikHot
Selasa, 28 Sep 2021 12:25 WIB
Tukul Arwana saat ditemui di Studio Hitam-Putih
Kondisi Terkini Tukul Arwana: Tekanan Darah Naik Turun, Alami Hipertensi Akut (Foto: Ismail/detikHOT)
Jakarta -

Tukul Arwana ternyata mengalami hipertensi akut saat dilarikan ke rumah sakit. Pembuluh darahnya pecah hingga mengalami perdarahan otak.

Saat tiba di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), Rabu (22/9), Tukul Arwana langsung mendapatkan tindakan medis. Tim dokter saling berkoordinasi hingga akhirnya memutuskan untuk mengoperasi Tukul Arwana.

Setelah operasi, kondisi Tukul Arwana mulai membaik. Namun tekanan darahnya sesekali mengalami naik turun sehingga harus mendapatkan pemantauan ketat dari tim dokter.

"Sampai saat ini kondisi pemantauan di ruang semi intensif yaitu di ruang stroker unit, jadi memang tekanan darah terlihat masih naik turun. Jadi kadang-kadang stabil kadang-kadang tiba-tiba naik," ujar dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes, saat konferensi pers secara virtual, Senin (27/9/2021).

Dalam kondisi yang masih terbaring lemah, dokter mencoba memberikan obat untuk menurunkan tekanan darahnya yang tinggi. Kendati demikian, Tukul Arwana sudah mulai bisa merespon dengan anggota tubuhnya meskipun masih belum bisa diajak bicara.

"Karena kondisinya masih pascaakut, dan memang saat ini untuk tensinya itu ada target yang kita targetkan dan itu sudah diberikan obat anti hipertensi," ungkap dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.

"Jadi Factor risk itu yang menyebabkan terjadinya stroke perdarahan ini adalah hipertensi. Jadi mungkin karena faktor yang disampaikan Mas Kimon (Manajer Tukul Arwana) tidak pernah medical check up jadinya tidak terdeteksi," lanjut dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.

Sardiana Salam menduga hipertensi yang dialami oleh Tukul Arwana sejak awal memang sejak awal tidak diketahui oleh yang bersangkutan. Karena tidak pernah dicek sehingga kini menjadi fatal.

"Tapi pada saat vaksinasi kan dilakukan screening juga dan di situ sudah didapatkan memang tensinya sudah 160/100 tapi memang secara screening vaksinasi secara batasannya adalah 180/100. Kemungkinan ini hipertensinya yang memang tidak diketahui jadinya tidak terkontrol," tutur dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.

"Jadi mungkin kami menjelaskan riwayat yang tidak terdeteksi inilah yang ternyata hipertensi yang akhirnya menyebabkan pecah pembuluh darah yang menyebabkan stroke pendarahan yang luas," tukas dr. Sardiana salam, Sp.S,M.kes.

(hnh/dar)