Gita Savitri Tak Mau Punya Anak, Antara Kodrat atau Tubuhku Otoritasku

Tim Detikcom - detikHot
Senin, 16 Agu 2021 15:18 WIB
hijabers gita savitri
Gita Savitri. Foto: Instagram
Jakarta -

Pegiat konten dan YouTuber Gita Savitri dan suaminya, Paul Andre Partohap, memutuskan untuk bicara terbuka mengenai ketidakinginan mereka untuk memiliki momongan. Keputusan itu diungkapkan keduanya dalam sebuah video di akun YouTube-nya.

Bagi Gita dan Paul, memiliki anak adalah tanggung jawab yang besar dan harus berdasarkan rencana yang matang sebelum memutuskannya.

Keputusannya itu pun mengundang pertanyaan warganet. Di akun media sosialnya, Gita Savitri tampak mencoba menjelaskan pemikiran yang melandasi keputusannya tersebut.

"In my honest opinion, lebih gampang nggak punya anak daripada punya anak. Karena banyak banget hal preventif yang bisa dilakukan untuk tidak punya anak," ujar perempuan yang kini berdomisili di Jerman itu.

Untuk sebagian besar orang yang lahir dalam budaya dan ajaran yang konvensional, keputusan seorang perempuan untuk tidak memiliki anak mungkin terdengar layaknya hal baru dan tak biasa.

Sebab, konstruksi gender dalam budaya patriarkal, kerap kali menempelkan perempuan terhadap peran menjadi ibu. Perempuan dianggap memiliki keharusan menjalankan fungsi reproduksi mereka dengan melahirkan anak setelah menikah untuk dianggap utuh dan 'normal' dalam norma sosial tertentu.

Konstruksi sosial itu kerap kali diartikan sebagai 'kodrat' sesuatu yang terjadi dan menjadi keharusan. Namun, benarkah memiliki anak adalah keharusan? Ataukah sebenarnya, perempuan juga dapat memilih untuk tidak memiliki anak?

Dalam esai Lapisan Identitas yang Kuhidupi yang dimuat dalam buku Queer etc., Victoria Tunggono menuliskan bahwa pada dasarnya, tidak semua perempuan diciptakan untuk menjadi ibu. Dirinya berpandangan, perempuan bisa saja memiliki pemikiran yang lain, termasuk berpikir untuk tidak menginginkan kehadiran seorang anak.

Menurut perempuan yang juga menulis buku Childfree & Happy (2021), kebahagiaan memiliki banyak bentuk dan setiap orang memaknainya secara berbeda. Kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh keberadaan anak.

Lebih jauh, baginya, memutuskan untuk memiliki momongan bukanlah perkara lucu-lucuan semata, lebih dari itu adalah tanggung jawab, komitmen, dan ikatan batin seumur hidup.

Victoria Tunggono juga menjelaskan bahwa tidak semua orang siap untuk memiliki anak. Mereka yang tidak memiliki kesiapan mental dan memutuskan memiliki anak justru bertindak tidak selayaknya orang tua.

"Banyak sekali kasus yang kulihat di mana orang tua mengusir anak dari rumah hanya karena pilihan sang anak dianggap menyerang harga diri orang tua atau mencoreng kehormatan keluarga," tulisnya.

Dia juga menuliskan, "Banyak orang tua menagih pengabdian anak karena merasa telah berkorban waktu, tenaga, dan materi untuk membesarkan sang anak."

Anak-anak yang lahir dari orang tua yang tidak memiliki kesiapan mental untuk memiliki momongan dikhawatirkan justru akan menjadi korban dan memiliki beban mental ketika mereka dewasa nanti.

Sebenarnya, wacana untuk menormalisasi pilihan perempuan untuk tidak memiliki anak yang datang dari publik figur bukan pertama kali diungkapkan oleh Gita Savitri. Sebelumnya, Chef Juna juga mengatakan dirinya memberi keleluasaan pada sang istri untuk memutuskan apakah mereka ingin memiliki anak atau tidak.

"Jika istri saya menginginkan anak, kami punya anak. Jika istri saya tidak ingin anak, maka kita tidak harus punya anak," kata Juna dalam bahasa Inggris pada sesi wawancara di kanal YouTube Deddy Corbuzier.

"Apakah kamu yang akan hamil sembilan bulan? Tidak, kan? Bagaimana kamu bisa meminta pasangan kamu untuk menderita seperti itu jika dia tidak menginginkannya?" sambungnya.

Pernyataan itu kemudian banjir pujian dari para aktivis perempuan yang menyebutkan bahwa Chef Juna menyadari adanya hak reproduksi dan hak memilih yang dimiliki oleh perempuan.

Perempuan tentunya memiliki hak untuk memilih. Bila ingin slogan, 'Tubuhku, otoritasku' benar-benar terkabul tanpa berakhir hanya menjadi sebuah slogan, seharusnya masyarakat pun berhenti menjadi polisi tubuh perempuan dan menghargai keputusan mereka atas tubuh mereka, apapun itu. Termasuk pada keputusan untuk tidak mengandung dan melahirkan.



Simak Video "Sejumlah Kritikan Perempuan Afghanistan ke Taliban"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/nu2)