Anya Geraldine Punya Pesan Buat Demonstran UU Ciptaker

Tim detikcom - detikHot
Sabtu, 10 Okt 2020 08:45 WIB
Anya Geraldine
Foto: Dok. Instagram/anyageraldine
Jakarta -

Anya Geraldine memberikan pesan manis untuk para demonstran dalam aksi unjuk rasa menolak pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Pesan itu ia sampaikan di akun Instagram milik dia. Awalnya, tersebar foto-foto yang menunjukkan sejumlah mahasiswa tengah berdemonstrasi dengan menuliskan nama Anya Geraldine pada kertas orasinya.

Foto itu kemudian sampai pada Anya Geraldine, kemudian dia unggah ulang foto-foto tersebut di akun Instagram-nya.

Pemain serial Pretty Little Liars versi Indonesia itu pun menuliskan pesannya pada kolom keterangan di Instagram-nya.

"Tolong jaga diri kamu baik-baik buat aku ya, I love you all. Stay safe yah. Salam paguyuban AG garis keras," tulis dia.

Serangkaian kata lucu yang muncul dalam foto itu antara lain, "Aku benci DPR, Aku sayang Anya", "Tolak UU Omnibus Law, Sahkan saja aku dengan Anya Geraldine", dan "Ada yang sudah sah tapi bukan aku & Anya".

Ada pula yang menuliskan, "Walau DPR tak punya hati, Anya Geraldine selalu di hati" hingga "DPR dulu, baru kamu! #AnyaGeraldine".

[Gambas:Instagram]

Kalimat-kalimat jenaka mengenai Anya Geraldine bukan baru pertama kali muncul. Tahun lalu, saat terjadi demo besar-besar menuntut penolakan pengesahan revisi UU KPK dan RKUHP, nama Anya Geraldine juga ikut masuk dalam sejumlah spanduk dan kertas orasi.

Unggahan menggelitik itu pun mendapatkan sejumlah respons dari warganet. Tanggapan warganet tidak kalah lucu.

"DPR terlalu Lutgi Agizal buat aku yang Anya Geraldine," kata pemilik akun @toni_ramadhan_p.

"Kebayang kalau jadi pacarnya Anya, harus banyak legowo, no jealousy at all," tulis @irpanreeves.

Sedangkan @hikmat.herdiansyah menuliskan, "Kalau massa rusuh hadirkan Anya biar jadi peneduh."

Aksi menolak Omnibus Law UU Ciptaker sendiri terjadi serentak di berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bekasi, dan Tangerang, Yogyakarta, Surabaya dan lain-lain.

Gelombang protes itu muncul karena UU Cipta Kerja dianggap memiliki sejumlah pasal bermasalah yang dapat merugikan pekerja dan alam.

Selain karena isinya, proses pembuatan UU itu juga dianggap terburu-buru dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat hingga kritik yang datang dari berbagai pihak, termasuk akademisi hingga organisasi nirlaba.

(srs/aay)