"Dia nggak boleh sekolah. Saya dapat laporan dari orangtua murid, dari Atalarik pergi umrah anak saya nggak sekolah. Itu saya dapat laporan," beber Marwa di Pengadilan Agama Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (18/4/2017).
Bahkan Marwa mendengar dari sang guru, anak pertamanya, Syarief sempat menangis di sekolah. Sang guru menceritakan bila Syarief mengaku kangen dengan ibundanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Desi Puspasari/detikHOT |
"Nangis terus, katanya kangen umi nya. Dan, ada gerak hati bapaknya untuk nganter anak saya. Bisa lihat sendiri saya diusir, kata kakaknya saya kabur. Nggak punya otak karena saya datang pas suaminya nggak ada," tuturnya.
Sudah sebulan Marwa tinggal terpisah dari dua anaknya yang masih balita. Syarief dan Shabira dibawa paksa oleh Atalarik dari rumah ibunda Marwa.
Marwa tak mengerti mengapa suaminya bisa melakukan hal itu. Bahkan sampai tega tidak mengizinkan Syarief sekolah.
"Saya nggak tahu. Ya mungkin faktor keamanan atau apa saya nggak paham. Cuma saya dapat laporan kalau anak saya dari yang Arik umrah itu nggak boleh sekolah dulu dan saya dapat pernyataan resmi itu dari salah satu orang rumah," tambah perempuan berusia 26 tahun itu.
Wanita berdarah Arab ini mengaku juga dapat laporan dari susternya. "Yang kedua anak saya kemarin ada ambil rapor. Saya dapat info dari salah satu orangtua murid, teman saya. Saya tanya sama suster baik-baik, 'Sus siapa yang besok yang ambil rapor Syarief', kata suster 'Bapak Bu'. Habis itu saya langsung diblok kan, ternyata nggak diambil. Saya dapat info dari gurunya, nggak diambil rapornya Syarief," bongkar Marwa.
(pus/kmb)












































Foto: Desi Puspasari/detikHOT