Sisca yang merupakan Wasekjen Hanura itu memang sudah lama menepi dari dunia hiburan. Kini, ia lebih banyak terlibat sebagai pangurus partai.
Dalam diskusi politik itu, Sisca membahas strategi sejumlah Parpol di Pemilu 2014 lalu. Ia mengkaji soal media massa yang menjadi alat pendongkrak popularitas tokoh yang diusung Parpol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sayangnya sebagian mereka tidak bisa membedakan bagian mana yang menjadi advertising dan mana yang public relation," nilai Sisca.
Buku tersebut merupakan karya yang ditulis Didi Apriadi. Dalam bukunya itu, Didi mengupas 'Popularitas Vs elektabilitas Pemilu 2014'.
"Kalau advertising yang dicapai hanya popularitas, sementara kalau public relation elektabilitas. Tak heran kalau banyak orang yang terkenal namun elektabilitasnya atau tingkat keterpilihanya rendah. Jadi jangan dikira tokoh terkenal seperti artis atau selebriti akan langsung dipilih masyarakat, ini-lah yang menjadi Paradoks, pilihan judul yang saya ambil," kata Didi.
Bagi Didi dan Sisca, buku ini bermanfaat bagi masyarakat agar 'melek' di Pilkada 2015 nanti. Gunanya, agar publik punya referensi nyata untuk memilih tokoh.
(kmb/tia)











































