"Sebenarnya berat juga, tapi ini kan takdir. Saya akan jalani apapun resikonya yang penting tidak merugikan orang lain," ujar Cici saat ditemui bersama sang suami, Suheibi Hamzawi, di Kafe Payon, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (19/3/2009) malam.
Cici tak ingin lagi mempermasalahkan status suaminya yang pernah beristri. Yang penting ialah jangan sampai ia menikah dengan pria yang masih dimiliki perempuan lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keduanya pun lalu menikah di Masjidil Haram. Setelah menikah, Cici dan suaminya yang sudah beranak 4 melangsungkan ibadah Umroh. Mereka berdoa di depan Ka'bah memohon agar dikaruniai Allah pernikahan yang langgeng.
Saat ditanya mengapa Cici terkesan menutupi pernikahannya, ia membantahnya. "Sebenarnya kemarin nggak menyembunyikan, tapi memang belum saatnya," jelasnya.
Sebagai mas kawin, Ebi yang sudah menduda selama 5 tahun menyerahkan seperangkat alat salat dan uang senilai 1200 Real. Nilai uang itu didasarkan kepada tanggal pernikahan keduanya. (fjr/fjr)











































