5 Fakta Djokolelono, Penulis Buku Anak yang Tenar di Dekade 1970-an

Tia Agnes - detikHot
Senin, 25 Apr 2022 15:46 WIB
Djokolelono
5 Fakta soal Djoko Lelono dan karya-karyanya. Foto: Courtesy of Center Of Excellence (CoE) Budaya Jawa
Jakarta -

Bulan April juga dirayakan sebagai momen kelahiran Djokolelono. Nama Joko Lelono atau lebih dikenal dengan nama pena sebagai Djokolelono merupakan seorang penulis buku anak yang aktif di dekade 1970 sampai 1980-an.

Pria kelahiran Desa Beru, Wlingi, Blitar, Jawa Timur, pada 10 April 1944 sukses menerbitkan berbagai buku seri anak dan petualangan.

Berikut 5 fakta soal Djokolelono dan karya-karyanya, seperti dirangkum redaksi detikcom:

1. Penulis Buku Fiksi Ilmiah

Djokolelono dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak).

Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak. Di antaranya adalah seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Dia juga menerjemahkan sejumlah buku.

2. Novelis

Djokolelono juga dikenal sebagai penulis novel. Debut karyanya Jatuh ke Matahari merupakan novel fiksi ilmiah yang diluncurkannya. Buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1976.

3. Lanjutkan Sekuel

Sukses dengan novel pertamanya, Djokolelono juga menerbitkan sekuelnya berjudul Bintang Hitam (Pustaka Jaya, 1976). Berlanjutdengan menulis novel seri Penjelajah Antariksa (3 judul, Gramedia 1985-1986).

4. Penerjemah Buku

Tak hanya sebagai novelis dan penulis buku anak, Djokolelono juga menerjemahkan sejumlah karya sastra internasional. Di antaranya adalah Petualangan Tom Sawyer dan karya Mark Twain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers, buku-buku karangan Enid Blyton, seri Rumah Kecil karya Laura Ingalls Wilder, dan lain-lain.

5. Setan van Oyot

Lama berkecimpung di dunia buku anak, akhirnya Djokolelono menerbitkan novel Setan van Oyot yang diterbitkan oleh Marjin Kiri. Novel ini menceritakan tentang orang-orang yang hidup di Wlingi, salah satu kecamatan di Blitar pada 1930an dengan konflik kompleks era Hindia Belanda.

Seorang pemuda Belanda yang nekat ke Jawa untuk mencari ayahnya, seorang perempuan pribumi cantik yang berambisi menjadi nyonya Belanda, seorang sinder korup dengan istrinya yang penjudi, seorang detektif partikelir misterius, dan seorang nona Tionghoa pewaris usaha perkebunan cokelat-semuanya terlibat dalam sebuah jalinan kisah cinta dan tragedi yang memikat di tengah kemelut drama sejarah.



Simak Video "Nirina Zubir Ungkap Nilai Parenting yang Bisa Diambil dari 'Keluarga Cemara 2'"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/pus)