Serba-Serbi Menerjemahkan Sastra Indonesia, Dari Budi Darma hingga Toeti Heraty

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Jumat, 25 Jun 2021 10:20 WIB
Toeti Heraty Noerhadi
Mendiang Toeti Heraty, sastrawan Indonesia yang karyanya tengah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Foto: (dok. Djarum Foundation)
Jakarta -

Penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa asing adalah suatu hal yang penting. Lewat penerjemahan, karya sejumlah penulis Indonesia dapat dikenal oleh pembaca yang lebih luas.

Sebuah sesi diskusi bertemakan Indonesian Literature in Translations: New Generations and Initiatives dalam rangkaian acara Makassar International Writers Festival membahas mengenai hal tersebut.

Dalam sesi tersebut, penulis dan penerjemah Tiffany Tsao menceritakan pengalamannya dalam menerjemahkan kumpulan cerpen karya Budi Darma, Orang-Orang Bloomington (1980). Tiffany bercerita, ia pertama kali mengenal karya Budi Darma melalui sebuah artikel jurnal.

"Saat itu aku masih menjadi akademisi dan sedang meneliti sastra Indonesia. Lalu aku menemukan pembahasan mengenai warna lokalitas Amerika dalam literatur. Aku merasa hal itu menarik bagaimana orang Indonesia bertutur mengenai sebuah kota kecil, aku sungguh ingin membacanya," kisah Tiffany.

"Di tahun itu, ternyata Orang-Orang Bloomington diterbitkan ulang. Aku terpesona pada ceritanya dan berpikir, akan sangat hebat bila aku bisa menerjemahkannya. Lalu, aku terbang ke Surabaya untuk menemui bapak Budi Darma dan meminta izin untuk menerjemahkan karyanya," sambung dia.

Bagi Tiffany, ada hal-hal menarik yang ia temukan dalam kumcer Orang-Orang Bloomington. Sebab, Tiffany menemukan sudut pandang kosmopolitan sekaligus referensi dari penyair Indonesia dalam kisah-kisah yang ada di dalamnya.

Orang-Orang Bloomington seakan menyoroti kehidupan penduduk Bloomington, di Indianapolis, Amerika Serikat dari sudut pandang penulis Indonesia.

Terjemahan dari Orang-Orang Bloomington akan diterbitkan oleh Penguin Classics pada April 2022.

Dalam kesempatan itu, Tiffany Tsao juga bercerita mengenai bagaimana pekerjaannya sebagai penulis memengaruhinya ketika melakukan kerja penerjemahan, begitu pula sebaliknya.

"Karena seorang penulis, ketika menerjemahkan aku jadi sangat menghargai karya dari penulis aslinya. Aku menerjemahkan dengan terbilang lambat sebab aku memikirkan bagaimana penulis aslinya akan merasa," tutur dia.

"Sedangkan ketika aku menjadi penulis, aku jadi memikirkan tentang rima, aku menjadi lebih puitis dan mindful terhadap karyaku sendiri," lanjutnya.

Diskusi tersebut juga menghadirkan Rara Rizal dan Syarafina Vidyadhana yang tengah menerjemahkan puisi-puisi karya Toeti Heraty.

"Puisi-puisinya tidak hanya berisi kemarahan tapi juga blak-blakan, tapi ditulis dengan halus. Karya-karyanya belakangan menjadi sangat lekat dengan nuansa kenangan dan masih sangat relevan hingga ini," kata Rara.

Bagi Rara, Toeti Heraty menulis mengenai permasalahan yang hingga kini kerap ditemui dan terjadi di keseharian. "Kami berpikir ini menjadi penting untuk membagikan ceritanya pada pembaca dan generasi yang lebih luas," jelasnya.

Kekaguman yang sama juga diungkapkan oleh Syarafina Vidyadhana. Menurutnya, yang membuat puisi karya Toeti Heraty semakin mengena di hati pembacanya adalah karena bahasanya yang mudah dipahami dan topiknya yang dekat dengan kehidupan perempuan, bahkan hingga kini.

"Hal penting dari menerjemahkan karya Toeti Heraty adalah karena pemikiran dan apa yang ia suarakan sangat mirip dengan banyak dari kita saat ini. Tema yang dipilihnya memang berubah-ubah dan bahasa yang ia gunakan bervariasi, tapi ketika kita membacanya, kita bisa tahu itu karyanya," ujar Syarafina.

Selain itu, menurut Syarafina, Toeti Heraty menulis dengan apa adanya. "Dia bisa menulis dengan sangat spesifik, itu mengapa aku mengapresiasinya. Dia sangat hebat dalam metafora maupun simbol tentunya, tapi ia tidak banyak menggunakannya. Ia justru menulis dengan apa adanya tapi tetap relevan," kata Syarafina lagi.



Simak Video "Bela Idola Meski Salah, Psikolog: Tak Siap Terima Kekurangannya"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/wes)