detikHot

book

Puisi Jadi Alat Politik, Agus Noor: Seharusnya Puisi Itu Ruang Kontemplatif

Kamis, 07 Feb 2019 18:17 WIB Tia Agnes - detikHot
Puisi Jadi Alat Politik, Agus Noor: Seharusnya Puisi Itu Ruang Kontemplatif Foto: Twitter Agus Noor (@agus_noor) Puisi Jadi Alat Politik, Agus Noor: Seharusnya Puisi Itu Ruang Kontemplatif Foto: Twitter Agus Noor (@agus_noor)
Jakarta - Maraknya politisi yang berbalas puisi untuk melawan rival politiknya tengah kontroversi belakangan ini. Puisi yang merupakan karya sastra yang unik seharusnya menjadi ruang kontemplatif, reflektif, maupun indah bagi pembacanya.

Hal tersebut diungkapkan oleh sastrawan dan sutradara teater Agus Noor ketika dihubungi detikHOT.

"Masalah hari ini situasi yang jadi semakin banyak dan noise, kita butuh ruang untuk berkontemplatif untuk jalan yang lebih sejuk. Seharusnya dunia puisi menjadi jalan keluar dari yang penuh ujaran kebencian dan caci maki," kata Agus Noor kepada detikHOT, Kamis (7/2/2019).



Puisi yang dilontarkan oleh para politisi, lanjut Agus Noor, merupakan puisi yang buruk. "Semestinya puisi itu ada konten yang lebih sublim, sekarang malah jadi media untuk menyatakan sikap politik," terangnya.

Penulis 'Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia' juga menyayangkan politisi yang berbalas puisi justru menggunakan puisi sebagai sikap pernyataan. Untuk menyampaikan ide dan gagasan ada banyak hal.

"Penyair Amerika Latin dan Spanyol banyak juga yang pernah pakai pamflet tapi tetap ada kandungan puitik, ada yang indah sebagai puisi," tutur Agus Noor.

Puisi yang terjadi belakangan ini, lanjut dia, kalimat biasa yang ditulis menggunakan struktur penulisan puisi. "Tapi itu bukan puisi. Puisi itu kontemplatif, reflektif, dan ada keindahan sublim," tukasnya.


(tia/ken)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed