detikHot

book

Komik Kontroversial 'Tintin in Congo' Terbit di Perayaan Ultah ke-90

Jumat, 11 Jan 2019 12:00 WIB Tia Agnes - detikHot
Komik Kontroversial Tintin in Congo Terbit di Perayaan Ultah ke-90   Foto: Istimewa Komik Kontroversial 'Tintin in Congo' Terbit di Perayaan Ultah ke-90 Foto: Istimewa
Komik Kontroversial Tintin in Congo Terbit di Perayaan Ultah ke-90   Foto: Istimewa Komik Kontroversial 'Tintin in Congo' Terbit di Perayaan Ultah ke-90 Foto: Istimewa
Jakarta - Karakter Tintin dan anjing setianya Snowy terbit perdana pada 10 Januari 1929 silam. Merayakan ulang tahun yang ke-90, pemegang lisensi Tintin sekaligus ahli waris Herge menerbitkan komik kontroversial 'Tintin in Congo' di Brussels.

Edisi terbaru 'Tintin in Congo' menuai kontroversi ketika terbit di 1930. Saat itu kisah petualangan Tintin di Kong yang meliput kawanan kriminal mafia pimpinan Al Capone dianggap penuh dengan cerita rasis dan kolonialis.

Di dalam komik terdapat adegan yang kejam terhadap binatang, di halaman 56 Tintin meledakkan seekor badak dengan dinamit. Di dalamnya juga terdapat penggaraman orang Kongo berkulit hitam, bibir berwarna merah, bertubuh gemuk, dan mengenakan cawat.



Banyak pembaca yang mempermasalahkan penggambaran orang Kongo di komik Tintin. Namun para ahli waris mendiang Herge menuturkan bukan penggambaran kontroversial yang menjadi alasan komiknya diterbitkan kembali.

"Dialog dan cerita adalah hal yang penting. Pekerjaan dekonstruksi, dekolonisasi itu sama pentingnya," ujar Robert Vangenberg dilansir dari Reuters, Jumat (11/1/2019).

Saat komik 'Tintin in Congo' menuai kontroversi termasuk di Indonesia, pengadilan Belgia pun melarang penerbitan dan cetak ulang dari komik tersebut. Para hakim menuturkan komiknya menggambarkan sikap kolonial di masanya tapi tidak ada bukti sang komikus yang meninggal di tahun 1983 memiliki pandangan rasis.



Atas dasar itulah, para ahli waris Herge menerbitkannya ulang. Meski begitu seorang komikus asal Kongo yang tinggal di Brussels, Barly Baruti mengatakan tidak tepat menerbitkan ulang komik tersebut.

"Tanyakan pada diri sendiri, apakah tepat menerbitkan ulang komik 'Tintin in Congo' saat Eropa sedang bergejolak dengan kelompok nasionalis dan rasis yang menjadi pembicaraan," pungkasnya.



(tia/ken)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com