detikHot

book

Menikmati Sajian Nyeni di Ubud Writers and Readers Festival 2018

Sabtu, 27 Okt 2018 15:21 WIB Tia Agnes - detikHot
Foto: Agnes/detikHOT
Ubud - Ubud diciptakan oleh Dewata yang keindahannya melebihi Kuta, Canggu, dan Nusa Dua sehingga membuat Julia Roberts dan Charlie Chaplin kepincut. Setiap tahunnya, Ubud menarik perhatian turis mancanegara dengan hadirnya Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) di bulan Oktober.

Berusia 15 tahun, perjalanan UWRF ibarat seorang remaja yang sudah mandiri dengan hidupnya. Bisa memilih dan memutuskan sendiri ingin berlanjut ke mana, begitupun dengan cita-cita sederhana dari penyelenggaraan UWRF yang dilontarkan pendiri dan direktur UWRF, Janet DeNeefe.

"Kami ingin siapapun yang datang ke festival ini dapat bahagia dan pulang dengan senyuman. Miliki teman baru, berjejaring, dan terinspirasi dari bahasan atau forum kami," ujar Janet DeNeefe.

Sejak awal hari pertama, ada banyak sajian menarik. Ada penayangan film 'Chaplin in Bali' di Betelnut, Jalan Raya Ubud yang mengisahkan Chaplin yang 'kabur' ke Bali di tahun 1932. Ia terpesona oleh gaya hidup setempat dan menemukan inspirasi bagi karyanya.

Saat malam pembukaan, ada penyair Sapardi Djoko Damono yang menerima lifetime achievement. Esok harinya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengisi sesi utama di NEKA Art Museum yang dihadiri oleh ratusan orang memadati area. "Saya adalah euforia nasional yang tidak biasa," ujar Susi dari atas panggung.
Menikmati Sajian Nyeni di Ubud Writers and Readers Festival 2018Foto: Agnes/detikHOT

Lewat 'family footsteps' antara Rain Chudori - Leila S.Chudori dan Kamila Andini - Garin Nugroho, hubungan orangtua dan anak pun dibicarakan. Di hari ketiga, sejarah 1998 dengan kejatuhan kepemimpinan Soeharto dibahas dalam satu sesi khusus.

Gerakan #metoo pun dibahas jadi percakapan antara penulis Indonesia, India, dan Australia. Program penulis emerging atau pendatang baru jadi spesial karena eksis diselenggarakan di UWRF yang memunculkan nama-nama baru. Tahun ini ada Rosyid H Dimas, Darmawati Majid, Reni Nuryanti, Pratiwi Julianti, Andre Septiawan, Carma Citrawati, dan Reni Nuryanti.

Tak hanya diskusi, UWRF menghadirkan sajian poetry slam, perbincangan intim di klub buku, pameran seni, workshop membatik, belajar memasak, tur kuliner sampai pertunjukan Teater Kalangan yang mengapresiasi 'Hujan di Bulan Juni' karya Sapardi Djoko Damono.

Ribuan turis rela mendatangi Ubud demi UWRF serta membayar aneka forum menarik selama acara berlangsung. Seperti Grace asal Jakarta yang cuti kantor selama sepekan demi UWRF. Ia setia hadir dan memilih tiga diskusi setiap harinya untuk memuaskan rasa penasarannya dengan penulis yang hadir.

"Ini untuk pertama kalinya datang dan memang niat membayar tiket masuk selama 5 hari sekitar Rp 500 ribuan untuk UWRF. Kalau orang goal nonton konser musisi terkenal, ini goal saya tahun ini," ujarnya terkekeh.

Phillipe dari Australia pun sudah tiga kali datang ke UWRF dan tak pernah bosan dengan isu yang dihadirkan. "Saya selalu suka dengan isu atau tema yang ada di UWRF. Seperti forum Menteri Susi kemarin, kami yang turis ini jadi tahu seperti siapa sih Menteri Susi dari dekat dan tahu-tahu cerita-ceritanya. Seperti tidak ada jarak," katanya.

Penyelenggaraan UWRF tinggal dua hari lagi. Aneka forum menarik lainnya tak ketinggalan bakal disajikan di beberapa titik lokasi, yakni NEKA Art Museum, Indus Restaurant, Taman Baca, dan titik lannya di pusat Ubud, kabupaten Gianyar, Bali.

UWRF bukan hanya persoalan buku yang dibahas namun festivalnya menyajikan Indonesia dalam bentuk yang lain. Serta isu-isu global yang sedang hangat dibicarakan di berbagai negara.

Kalau Julia Roberts dalam 'Eat, Pray, Love' menuturkan Ubud sebagai lokasi ketiganya untuk 'menyepi' setelah Italia dan India , maka UWRF adalah 'persemedian' yang tepat bagi pecinta buku. Aneka sajian di festival bakal memuaskan dahaga yang langka ada di Indonesia.
(tia/nu2)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com