Toko Buku Aksara 'Terlahir' Kembali

Tia Agnes - detikHot
Senin, 23 Jul 2018 14:45 WIB
Toko Buku Aksara 'Terlahir' Kembali Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Aksara terlahir kembali. Bagi para pecinta buku, mendengar nama Aksara pastinya akan teringat pada dua jaringan ritel yang baru saja ditutup pada April lalu. Di Jakarta, usia toko buku Aksara bukan hitungan tahun.

Sejak didirikan pada 2001 silam, toko buku Aksara memfungsikan dirinya sebagai 'alternatif' bagi toko-toko buku yang ada di Ibu Kota. Namun setelah 17 tahun berdiri, jaringan ritelnya harus ditutup dengan alasan biaya operasional yang terlalu besar.

Aksara pun 'balik kandang' ke asalnya yakni di Kemang, Jakarta Selatan. Akhir pekan lalu, Aksara Kemang kembali buka dengan sebuah perayaan kecil lewat diskusi mengenai dunia penerbitan independen dan pop-up Mie Panjang Umur yang bakal buka di bangunan tersebut.



Tak hanya sebagai toko buku, Aksara merambah fungsinya sebagai pusat kegiatan. "Kita masih bookstore, jantung yang kecil tapi mendenyutkan energi juga dan yang terpenting di bangunan ini kita sharing energi juga," kata creative director Aksara Adinda Simanjuntak ketika ditemui di Aksara akhir pekan lalu.

Toko Buku Aksara 'Terlahir' KembaliToko Buku Aksara 'Terlahir' Kembali Foto: Tia Agnes/ detikHOT


Sebagai bangunan yang bernama Aksara, Adinda bersama timnya pun mengajak komunitas atau ruang lainnya sebagai mitra. Ada Ruang Seduh yang posisi ruangannya pindah ke bagian depan, ada Lab Rana, donat kampung, analog photography, Mie Panjang Umur hingga Ganara Art Space yang memenuhi hampir 50 persen bangunan.

Sebagai toko buku, lanjut Adinda, pihaknya ingat dengan tujuan awal berdiri yang ingin menjadi alternatif.

"Apa yang tidak ada saat itu, apa yang dibutuhkan orang yang tidak terpenuhi itu apa. Dari dulu, Aksara ingin memberikan pilihan alternatif dan ada banyak pilihan. Jadi kami kembali ke awal," tutur Adinda yang juga pendiri Kinosaurus tersebut.

Toko Buku Aksara 'Terlahir' KembaliToko Buku Aksara 'Terlahir' Kembali Foto: Tia Agnes/ detikHOT


Kalau Adinda mengibaratkan Aksara dengan 'kembali ke awal'. Yusi Avianto Pareanom yang dikenal sebagai novelis 'Raden Mandasia' menyebutkan Aksara sebagai 'mualaf independen'.

Adinda pun tak masalah dengan penyebutan dari Yusi. Sepanjang 17 tahun berdiri, Aksara sudah mencoba berbagai cara untuk mempertahankannya. "Kayak beneran manusia. Aksara harus belajar dan mungkin ini bagian dari perjalanan Aksara. Siapa yang tahu jati diri kalau bukan belajar," ujar Adinda yang pernah bekerja di Aksara selama 5 tahun dari 2002 hingga 2007 silam.

Di ruangan luas bersama Ruang Seduh itu, Aksara menghadirkan buku-buku fiksi dan sastra berbahasa Indonesia dan Inggris. Ada satu bagian meja bundar di pojok yang terdapat 10 buku pilihan hasil kurasi POST Santa.

Ya, Aksara selama beberapa tahun ke depan di meja bundar itu selama 3 bulan sekali akan menghadirkan buku-buku pilihan.

Toko Buku Aksara 'Terlahir' Kembali (Foto: Aksara Kemang)Toko Buku Aksara 'Terlahir' Kembali (Foto: Aksara Kemang) Foto: Tia Agnes/ detikHOT


"Sekarang kami menghadirkan 10 buku dari 10 karya penulis. Highlight per-3 bulan sekali akan diganti, berikutnya bisa macem-macem. Tapi yang jelas alternatif literature," tambah salah satu pendiri POST Santa Maesy Ang.

Di meja bundar tersebut, ada buku 'Muslihat Musang Emas' karya Yusi Avianto Pareanom' dan 'Kiat Sukses Hancur Lebur' karya Martin Suryajaya oleh penerbit Banana. Ada juga 'We Are Nowhere and Its Wow' karya Mikael Johani dan 'Na Willa' karya Reda Gaudiamo yang diterbitkan oleh POST Press, dan buku-buku lainnya.

Penasaran melihat wajah baru Aksara yang 'terlahir' kembali? Lokasi Aksara masih sama seperti toko sebelumnya di Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan.


(tia/tia)