"Goethe-Institut Indonesia mengambil bagian dalam Makassar International Writers Festival dengan mengundang penulis Jerman, Shida Bazyar kepada komunitas literatur Indonesia," tulis pernyataan Goethe-Institut Indonesia kepada detikHOT, Kamis (18/5/2017).
Shida Bazyar akan mengisi panel diskusi berjudul 'Women's Roles in A Diverse World' hari ini pukul 15.00 WITA di Museum Lagaligo. Esok harinya, dia akan mengisi 'Writing the Traditions' pukul 14.00 WITA di DKM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penulis kelahiran 1988 di Hermeskeil itu sudah menerbitkan banyak cerita pendek untuk majalah dan antologi. Orang tuanya adalah aktivis politik yang melarikan diri dari Iran di tahun 1987 karena revolusi Islam di bawah Khomeini.
Novel 'Nachts ist es leise in Teheran' atau dalam bahasa Indonesia yang artinya 'Pada malam semua tenang di Teheran' itu menceritakan tentang empat anggota keluarga yang diceritakan lewat masing-masing perspektif dari 1979 hingga di Jerman.
Di tahun 1979 seorang revolusioner komunis muda Behsad berjuang untuk sebuah tatanan baru setelah pengusiran Shah. Sepuluh tahun kemudian, Behsad dan istrinya melarikan diri bersama anak-anaknya. Di tahun 1999, putri mereka Laleh melakukan perjalanan ke Teheran. Antara 'Kafishaps', ritual kecantikan dan rahasia yang dibisikkan, dia mengenal negara yang hampir tidak menyerupai ingatan masa kecil. Satu dekade berikutnya, saudaranya Mo mengamati demo pseudo-gaged siswa Jerman sampai Revolusi Hijau mengambil alih pemerintahan Jerman. (tia/doc)










































