Namun, Rabu pekan lalu (6/7), usai menjalani proses persidangan, Murugan kembali angkat bicara. Seorang hakim di India memutuskan mendukung Murugan atas kebebasan berekspresi yang seharusnya didapatkannya. Dalam sebuah wawancara, Murugan mengatakan akan 'bangkit'.
"Saya akan bangun, meski tahun lalu saya sudah mengumumkan kematian sebagai seniman kreatif," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: Novel Saddam Hussein Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris
Karya-karya berbahasa Tamil garapan Murugan serta salinan buku-bukunya telah dibakar. Sanjay Kishan Kaul dari pengadilan tinggi Madras yang membela kebebasan berekspresi Murugan angkat suara.
Di penilaian setebal 150 halaman yang ditulisnya, ia mengatakan, "Perumal Murugan seharusnya tidak merasa takut. Dia harus bisa menulis dan memajukan tulisannya. Karya-karyanya menjadi kontribusi sastra, dan jika ada orang lain yang berbeda materi dan gaya berekspresinya, maka bisa kami simpulkan bahwa biarkan penulis bangkit dengan apa yang akan ditulisnya. Menulislah!"
Novel 'One Part Woman' menceritakan tentang tradisi ritual di sebuah desa terpencil di India. Para wanita yang ingin hamil bisa melakukan hubungan seksual dengan pria asing. Tradisi ini dilakukan di sebuah kuil lokal. Hampir satu abad ritual ini dijalankan dan menimbulkan polemik dalam hubungan berumah tangga. Di dalam novel, Murugan menggunakan nama tempat dan budaya masyarakat tanpa menyamarkannya hingga mengundang reaksi publik.
Polemik seperti ini juga pernah terjadi ketika novelis Salman Rushdie menerbitkan bukunya 'The Satanic Verses' di tahun 1988 silam. Saat itu, organisasi muslim di India melarangnya menjual dan menyebarluaskan buku tersebut. Buku itu dianggap terlarang dan menghina Islam. Salman pun dilarang tampil di Festival Sastra Jaipur di tahun 2012.
(tia/tia)











































