Taring Padi Tegaskan Karyanya Bukan Anti-Semit, Sentil Rezim Suharto

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 22 Jun 2022 16:36 WIB
Cardboards, work of the collective Taring Padi from Indonesia are seen at the Friedrichsplatz square in front of the Fridericianum Museum, one of the venues of the documenta fifteen contemporary art exhibition, in Kassel, central Germany, on June 16, 2022. - documenta 15 tales place in Kassel from June 18 to September 25, 2022 and is curated by the Indonesian artists collective ruangrupa. - RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY MENTION OF THE ARTIST UPON PUBLICATION - TO ILLUSTRATE THE EVENT AS SPECIFIED IN THE CAPTION (Photo by Ina FASSBENDER / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY MENTION OF THE ARTIST UPON PUBLICATION - TO ILLUSTRATE THE EVENT AS SPECIFIED IN THE CAPTION / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY MENTION OF THE ARTIST UPON PUBLICATION - TO ILLUSTRATE THE EVENT AS SPECIFIED IN THE CAPTION (Photo by INA FASSBENDER/AFP via Getty Images)
Foto: AFP via Getty Images/INA FASSBENDER
Jakarta -

Karya seni Keadilan Rakyat ciptaan Taring Padi yang dipamerkan di documenta fifteen, Kassel, Jerman, dituding anti-semitisme. Setelah menuai kontroversi kolektif seni asal Yogyakarta itu sudah meminta maaf melalui pernyataan terbuka di akun Instagram.

Karya instalasi yang berbentuk spanduk berskala besar itu dibuat 20 tahun lalu atau sekitar tahun 2002. Melalui akun Instagram pribadinya, Taring Padi menjelaskan mengenai konteks karya tersebut.

Keadilan Rakyat dibuat Taring Padi sebagai kampanye melawan militerisme dan kekerasan yang terjadi selama masa pemerintahan era Suharto. Selama 31 tahun, Indonesia merasakan Suharto memimpin negara ini dengan diktator.

"Bahkan warisannya terus berdampak sampai saat ini," terang Taring Padi di akun Instagram, seperti dilihat detikcom, Rabu (22/6/2022).

Karya Seni Taring Padi di Kassel Dituduh Anti-SemitKarya Seni Taring Padi di Kassel yang dituduh anti-Semit kini ditutupi kain hitam. Foto: Taring Padi/ Instagram

Taring Padi juga menjelaskan penggambaran tokoh militer pada spanduk merupakan ekspresi dari pengalaman tersebut. Semua tokoh yang tergambar mengacu pada simbolisme yang tersebar luas dalam konteks politik Indonesia.

Mereka menggambarkan simbol pemerintahan yang korup, para jenderal militer dan tentara mereka, yang dilambangkan sebagai babi, anjing dan tikus untuk mengkritik sistem kapitalis yang eksploitatif dan kekerasan militer.

Spanduk Keadilan Rakyat pertama kali dipamerkan di Festival Seni Australia Selatan di Adelaide pada tahun 2002. Sejak itu, spanduk tersebut telah ditampilkan di banyak tempat dan konteks yang berbeda.

Tapi untuk pertama kalinya spanduk Keadilan Rakyat itu dipajang di Jerman dan mendapatkan reaksi yang keras.

"Karya kami tidak mengandung konten yang bertujuan untuk menggambarkan populasi mana pun secara negatif," tegas Taring Padi.

"Karakter, tanda, karikatur, dan kosa kata visual lainnya dalam karya-karya tersebut secara khusus terkait budaya dengan pengalaman kita sendiri," sambungnya.

Mereka juga membantah karyanya terkait dengan isu anti-Semit yang beredar sejak pembukaan documenta fifteen.

"Pameran Keadilan Rakyat di Friedrichsplatz adalah presentasi pertama spanduk dalam konteks Eropa dan Jerman. Ini sama sekali tidak terkait dengan anti-Semitisme. Kami mohon maaf bahwa detail spanduk ini disalahpahami selain dari tujuan aslinya," tukasnya.

Dilansir dari situs resminya, Taring Padi menggunakan seni sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, seni bisa digunakan sebagai media pendidikan untuk semua. Taring Padi yang berdiri pada 1998 memberlakukan sistem keanggotaan terbuka yang prasyaratnya adalah komitmen terhadap garis kerakyatan.



Simak Video "Bantahan Dito Mahendra soal Tudingan Kirim Teror dan Bunga ke Nikita Mirzani"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/nu2)