Made Bayak Kritisi Masalah Limbah Sampah di Bali Lewat Lukisan

Tia Agnes Astuti - detikHot
Senin, 13 Jun 2022 14:09 WIB
Made Bayak
Seniman asal Bali, Made Bayak, saat ditemui di Art Moments Jakarta Online 3. Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Perupa asal Bali, Made Bayak, eksis menyuarakan persoalan lingkungan dalam setiap karya seni yang dibuat. Lewat seri berjudul Plasticology, ia tetap menyentil persoalan limbah sampah yang ada di kampung halamannya, Bali.

Made Bayak mengatakan saat kondisi pandemi mewabah di Indonesia dan Pulau Dewata juga terkena dampaknya, kritisisme yang digaungkannya kembali melempem.

"Di satu sisi ya masa pandemi memberikan bumi untuk jeda, untuk aktivitas yang membuat masalah polusi. Karena aktivitas dibatasi. Tapi celakanya kalau bicara tentang perjanjian dan eksploitasi lingkungan di bawah meja tetap terjadi," katanya kepada detikcom.

"Di masa pandemi, ada banyak tanda tangan kontrak yang membuat eksploitasi lingkungan. Ya, regulasi kebijakan tetap berjalan yang menurut saya jadi ironi," sambung Made Bayak.

Sebagai seorang seniman, Made Bayak mengatakan ada banyak keresahan sehingga membuat gerakannya tanpa limbah sampah plastik jadi membludak ketika pandemi.

"Orang-orang pakai masker, sarung tangan plastik, dan lain-lain. Kritisisme itu jatuh saat pandemi," katanya.

Seniman Made Bayak bicara soal Reklamasi BaliSeniman Made Bayak bicara soal Reklamasi Bali Foto: Made Bayak/ istimewa

Dalam lukisan-lukisannya, Made Bayak tetap memakai material sampah plastik yang menjadi simbol. Dalam seri New Myth I sampai III, dia membahas mengenai figur yang terinspirasi dari wajah tradisional Bali.

"Imej Bali itu ekositisme dengan perempuan Bali atau penarinya. Ini lebih ke mitos baru atau penghuni jurang sungai yang penuh warna-warni dari sampah plastik itu," sambungnya.

Dia menegaskan figurnya adalah penghuni alam lain yang kita percaya biasanya di tempat lain ada. Di kebudayaan Bali atau Nusantara, sebagian besar mempercayainya.

"Di realitasnya penghuni itu adalah warna-warni sampah plastik dan itulah penghuni baru. Saya membuat beberapa lukisan untuk seri itu," tukasnya.

Sejak 2014, Made Bayak konsisten menyuarakan Tolak Reklamasi Bali. Gerakan yang menjadi isu kebudayaan nasional itu tetap digaungkan sampai sekarang.

Berbagai aksi telah dilakukan Bayak. Pada Oktober 2014 lalu, dia bersama ratusan seniman Bali menggelar aksi 'Tolak Reklamasi Art Event' di Pantai Padang Galak, Kesiman. Kala itu, Bayak melakukan happening art berjudul 'reCLAIM our dream and future' serta mengubur dirinya dengan tanah dari pantai.

Lulusan ISI Denpasar sekaligus salah satu angkatan muda Bali generasi awal dekade 2000-an adalah salah satu perupa muda Bali, yang mencoba memberikan kesaksian atas kondisi sosial yang terjadi di Bali. Dalam beberapa proyek keseniannya seperti mural, art performance, music indie maupun pameran, Bayak banyak berbicara soal isu-isu kapitalisme, turisme, dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Bali.



Simak Video "Keren! 3 Seniman Video Mapping Indonesia Lolos Tokyo Light Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)