ADVERTISEMENT

Tolak Reklamasi Bali, Seniman Ini Rela Ditimbun Tanah

- detikHot
Selasa, 28 Okt 2014 12:17 WIB
Dok.Made Bayak
Jakarta - "Kami bukan anti pembangunan atau kemajuan. Kami hanya tidak senang rumah kami dirampok. Dan kami tidak akan tinggal diam."


Ungkapan tersebut dikatakan oleh salah satu seniman asal Bali yang terkenal akan karya seni 'Plasticology'. Yakni kanvas-kanvas sebagai tempat untuk melukis terbuat dari plastik kresek bekas limbah lingkungan rumah tangga.

Dalam gelaran 'Bali Tolak Reklamasi Art Event' yang digelar pekan lalu di Pantai Padang Galak, Kesiman, art performance yang dilakukan Bayak mendapatkan decak kagum. Bukan melukis atau menyanyi, namun aksi Bayak adalah menimbun dirinya dengan tanah.

Happening art yang berjudul 'reCLAIM our dream and future' tersebut menceritakan bahwa reklamasi adalah tindakan bodoh.

"Selain merusak alam dan lingkungan, juga akan mengubur manusia Bali dan kebudayaannya. Bali dan Indonesia pada umumnya mempunyai bentangan kehidupan maritim dan terumbu karang yang tak ternilai harganya," ucapnya kepada detikHOT beberapa waktu lalu.

Menurutnya, segala bentuk reklamasi tidak akan cocok bagi kepulauan yang ada di Indonesia. Ia mencontohnya di pesisir Sanur ke timur sampai daerah Karangasem, sekitar 8 meter bibir pantai berkurang setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena reklamasi Pulau Serangan. Di beberapa daerah, ada yang sampai memakan areal persawahan karena abrasi pantai.

"Oleh karena itu saya menimbun atau mengubur tubuh saya sendiri dengan tanah dari pantai," tutur lulusan seni rupa di ISI Denpasar.

Hingga kini advokasi karya seni Bayak terhadap kerusakan Pulau Dewata dipublikasikannya ke penjuru negeri. Tak hanya Indonesia tapi sampai ke Singapura dan negara-negara lainnya. Termasuk ketika ada turis yang bertandang ke studionya, ia selalu aktif memberikan workshop 'Plasticology'.

Made Bayak Muliana adalah salah satu perupa muda Bali, yang mencoba memberikan kesaksian atau testimoni atas kondisi sosial yang terjadi di Bali. Dalam beberapa proyek keseniannya seperti mural, art performance, music indie maupun pameran, Bayak banyak berbicara soal isu-isu kapitalisme, turisme, dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Bali.

Seperti proyek seni 'Upeti Untuk Macan Asia' pada Februari 2011 merupakan proyek untuk album kedua grup musik 'Geeksmile' yang ia dirikan. Yang menariknya adalah Bayak Muliana menghadirkan karya-karya lukisan yang ia jadikan ilustrasi dari setiap lagu yang ada dalam album tersebut.

"Aksi serentak dan individu dari seniman Bali ini akan terus ada selama Perpers 51/2014 ini belum dicabut. Dan dikembalikannya lagi Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi," tambahnya.

(tia/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT