ADVERTISEMENT

Tolak Reklamasi Bali Jadi Topik Seniman Made Bayak di Napoli

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 09 Feb 2016 15:31 WIB
Foto: Made Bayak/ istimewa
Jakarta - Peta Bali digantung rapi di antara karya seni yang dipajang di Jakarta Convention Center (JCC) dua tahun lalu. Setiap kawasan hijau di dalam peta, dituliskan kata 'SOLD' dengan tinta tebal hitam. Mayoritas terjual. Itulah karya seni 'Raped Island' karya Made Bayak yang mendapatkan apresiasi dan perhatian dari para pengunjung di ajang ARTE.

Jauh sebelum ARTE, pria kelahiran Gianyar 1980 silam ini konsisten mengusung isu sosial dan lingkungan hidup dari kampung kelahirannya. Termasuk dalam sebuah seminar 'Plasticology Arte e impegno sociale a Bali' yang akan digelar pada 10 Februari 2016 pukul 15.30 waktu setempat.

Seminar ini merupakan bagian dari ajang eksibisi 'Indonesia Aktual' bersama dua seniman Tanah Air lainnya atas undangan Pusat Kebudayaan Il Ramo d'oro di Napoli, Italia.

Baca Juga: Tiga Seniman Tampilkan Sisi Lain Pulau Dewata di Napoli

Bayak mengatakan seminar esok harinya akan menceritakan tentang isu penolakan reklamasi Teluk Benoa Bali. "Saya akan sampaikan kondisi alam Bali dan Indonesia, serta rencana reklamasi sampai pada gerakan Tolak Reklamasi sebagai gerakan kebudayaan terbesar," katanya kepada detikHOT, Selasa (9/2/2016).



Gerakan kebudayaan 'Tolak Reklamasi' ini menjadi isu kebudayaan terbesar setelah hampir 50 tahun masyarakat Bali diam. "Saya mendukung persoalan tersebut dan akan melakukan detail kontribusi seni lewat gerakan Tolak Reklamasi Bali," pungkasnya.

Berbagai aksi telah dilakukan Bayak. Pada Oktober 2014 lalu, dia bersama ratusan seniman Bali menggelar aksi 'Tolak Reklamasi Art Event' di Pantai Padang Galak, Kesiman. Kala itu, Bayak melakukan happening art berjudul 'reCLAIM our dream and future' serta mengubur dirinya dengan tanah dari pantai.



Menurutnya, segala bentuk reklamasi tidak akan cocok bagi kepulauan yang ada di Indonesia. Dia mencontohkan di pesisir Sanur ke timur sampai daerah Karangasem, sekitar 8 meter bibir pantai berkurang setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena reklamasi Pulau Serangan. Di beberapa daerah, ada yang sampai memakan areal persawahan karena abrasi pantai.

Sampai sekarang, advokasi seni terhadap kerusakan Pulau Dewata terus dipublikasikannya ke penjuru Indonesia dan mancanegara. Lewat, 'Plasticology', Bayak aktif memberikan workshop dan pelatihan bagi siapapun.

Lulusan ISI Denpasar sekaligus salah satu angkatan muda Bali generasi awal dekade 2000-an adalah salah satu perupa muda Bali, yang mencoba memberikan kesaksian atas kondisi sosial yang terjadi di Bali. Dalam beberapa proyek keseniannya seperti mural, art performance, music indie maupun pameran, Bayak banyak berbicara soal isu-isu kapitalisme, turisme, dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Bali.


(tia/doc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT