Cerita Pendek

Talam Kue Mak Baso

Teuku Hendra Keumala - detikHot
Sabtu, 04 Jun 2022 10:15 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Mak Baso orang yang baik di kampung kami. Keluarga mereka ramah, suka membantu warga yang membutuhkan, pun bantuan yang diberikan tidak pernah pilih-pilih orang. Hampir di setiap ada acara hajatan orang meninggal maupun pesta perkawinan tidak luput dari kehadirannya. Ringan tulang bahkan mereka selalu datang lebih awal, hadir untuk membantu apapun yang bisa dikerjakan.

Itu sebab Mak Baso disukai warga kampung. Ia tidak pernah berselisih paham di kampung. Tidak ada pula orang yang diam-diam menyimpan dendam dengannya. Meski kehidupan dengan kondisi ekonominya pas-pasan keluarga Mak Baso juga memiliki tingkat kedermawanan yang tinggi. Bahkan setiap ada hajatan tangannya tidak pernah terlihat kosong. Mak Baso selalu membawa buah tangan, baik itu kue maupun benda-benda berharga lainnya.

Bila hadiah itu hendak diberikan untuk hajatan orang hidup, Mak Baso akan membungkusnya dengan kertas kado. Tapi berbeda jika untuk hajatan orang mati, ia akan memilih kain pembungkus berwarna kuning keemasan. Dimasukkannya kue karah, tapi entah mengapa bungkusan itu akan dibuat lebih besar jika tempat yang ingin dituju berada jauh. Justru sebaliknya jika hadiah diberikan kepada warga di kampung, ukurannya sedikit mengecil. Itulah yang membedakan buah tangan bawaan Mak Baso, kata orang-orang di kampung.

Paling sering rutinitas Mak Baso disibukkan dengan pulang-pergi dari tempat hajatan orang meninggal. Itu terlihat dari aktivitas Mak Baso selalu membawa kuenya, yang diletakkan dalam talam berukuran sedang yang ditutupi dengan tudung saji kecil terbuat dari ayaman rotan, kemudian dibungkus dengan kain kuning, sebagai tanda kue itu hendak dibawanya ke tempat orang meninggal, layaknya resam daerah ini.

Apabila ada tetangga atau orang yang menanyakan di jalan, maka Mak Baso akan menjelaskan kue itu hendak dibawanya ke rumah duka, keluarga jauh di Lamkuta di Kota Marua yang meninggal seminggu lalu. Lebih kurang begitu penjelasan yang disampaikan untuk menunjukkan rutinitas yang dilalui Mak Baso.

Bila dihitung-hitung ada puluhan bahkan ratusan tempat duka yang telah dikunjungi Mak Baso sebagai rasa duka citanya. Maka ada banyak pula talam-talam kue yang harus dihantarkannya. Orang-orang di kampung beranggapan bahwa begitulah cara Mak Baso menghibur orang-orang dekatnya yang sedang berduka.

Mak Baso rela menempuh perjalanan jauh untuk mengantar talam-talam kue milikinya itu. Saat pulang, talam Mak Baso dipenuhi dengan buah-buahan segar yang sengaja dibelinya untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak di kampung. Meski tidak memiliki anak, mereka sangat menyukai dan menyayangi anak-anak. Seperti hari itu, Mak Baso sudah siap ke tempat kanduri seunujoh dengan mengendarai sepeda motor yang dibawa Pak Baso suaminya, sementara Mak Baso duduk di belakang, memangku talam kue yang terbungkus kain kuning keemasan.

Jika ada razia di perjalanan, Pak Baso akan menghentikan kendaraannya. Biasanya mereka selalu menghindar dari razia polisi yang berada di perbatasan Marua, menunggu sampai selesai. Itu bukan karena ia tidak memiliki SIM atau surat-surat kendaraan Pak Baso tidak beres, tapi karena memang Pak Baso enggan berurusan dengan polisi. Rumit, kata dia suatu ketika.

Bersebab itu mereka selalu lolos dari razia polisi. Kecuali pada hari itu mereka terjebak razia di tikungan tajam; ia tidak sempat menghindar dari razia itu. Pak Baso dengan sigap segera mengeluarkan surat izin mengemudi dan surat-surat kendaraan lainnya, sementara Mak Baso dengan tenang menuruni kendaraan, kemudian berjalan ke tepian seraya memangku talam kue miliknya. Tidak seperti ibu-ibu lain di kampung, mereka pasti keringat dingin bila berpapasan dengan razia polisi seperti ini.

"Apa hendak ke kenduri?" tanya polisi berbasa-basi sambil melirik talam kue Mak Baso yang khas. "Silakan melanjutkan kembali perjalanannya," ucap polisi itu. "Terima kasih sudah mematuhi rambu-rambu lalu lintas, semoga selamat sampai tujuan," sambung polisi usai memeriksa surat-surat Pak Baso. Hari itu mereka lolos dan kembali melanjutkan perjalanan.

Sudah barang tentu mereka akan lolos dari pemeriksaan itu, bahkan sudah ratusan kali terjadi, karena memang polisi bukan menyasar orang-orang yang berkendaraan seperti Mak Baso dan Pak Baso yang membawa serta talam kue. Mereka hanya warga biasa yang ingin ke tempat kenduri. Tapi polisi memeriksa mobil-mobil pengangkut barang; yang disasar polisi adalah para mafia pemasok ganja ke Marua.

Selama ini barang-barang haram itu telah merasuki pemuda-pemuda Marua. Mereka lebih sering menghabiskan waktu untuk bermabuk-mabukan. Kecanduan membuat mereka hilang kesadaran, kerap melakukan pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan berbagai keburukan lainnya. Sampailah pada suatu kesimpulan, semua itu disebabkan oleh pengaruh ganja yang harus segera dihentikan peredarannya dengan melakukan razia rutin di perbatasan. Razia itu pula yang menghambat perjalanan Mak Baso dan Pak Baso pada hari itu untuk memasuki Kota Marua.

"Lain kali kita mesti waspada," kata Mak Baso mengingatkan suaminya Pak Baso.

"Tidak berlaku ceroboh," ujar Mak Baso lagi

"Harusnya tadi kita berhenti dulu sejenak, menunggu sampai polisi-polisi itu selesai melakukan razia," sambung Mak Baso.

"Bagaimana berhenti, sedang kita sudah sangat dekat dengan mereka," sahut Pak Baso,

"Jika kita berbalik arah aku takut akan mengundang kecurigaan mereka," jelas Pak Baso,

"Lagi pula bukan orang yang berkendaraan seperti kita yang mereka incar, surat-surat kita lengkap, kecuali tutup pentil, yang lupa kupasang, tapi itu tidak menjadi soal," sambungnya lagi.

Jika sudah sampai di kota, tidak semua talam kue karah Mak Baso sampai ke tempat orang kenduri; itu hanya cara Mak Baso menghindar dari orang-orang dan mengelabui polisi. Kadang ia membawanya ke pasar loak, memberikannya kepada seseorang di sana, menukarkan isi talam itu dengan barang bekas. Kadang mereka juga singgah di toko kelontong untuk beberapa saat; diberikan juga kepada seseorang yang menunggu di tempat-tempat sepi.

Bila pulang Mak Baso tidak lupa mengisi talam itu dengan buah-buah segar, kadang juga martabak kacang dan kue apem, kemudian ia bagi-bagikan kepada anak-anak yang mereka temui di sepanjang jalan kampung. Itu pula alasan anak-anak menyukai pasangan suami-istri itu. Kadang mereka rela menunggu lama-lama kepulangan Mak Baso dari tempat kenduri.

Hari-hari aktivitas Mak Baso mengunjungi kota Maruwa semakin padat. Semula sebulan sekali, menjadi seminggu sekali, kemudian tiga hari sekali, sampai kemudian sehari sekali mereka rutin mengantarkan talam kue itu ke kota, menitipkannya kepada seseorang di pasar loak di sana, kadang kepada nelayan, pengamen jalanan, dan penjaga parkir.

Talam-talam itu kadang juga ia kirimkan lewat sopir labi-labi, kendaraan umum di daerahnya, seraya berpesan agar bungkusan talam kuenya tidak dibuka, karena akan berangin membuat kue itu cepat basi, jika basi membuat Mak Baso merugi. "Bawalah talam kue ini, nanti Malih akan mengambilnya di terminal," pesan Mak Baso pada sang sopir, tidak lupa memberikan ongkos yang berlipat-lipat ganda agar kiriman benar-benar dijaga.

Semakin banyak talam-talam itu sampai ke kota, semakin baik pula ekonomi keluarga Mak Baso. Itu terlihat dari cara Mak Baso yang merenovasi rumahnya menjadi istana megah di kampung, dibelikannya kerbau, dan memperluas tanah sawah. Tanah sawah yang dibeli itu ia serahkan kepada warga kurang mampu untuk dikelola. Dari sawah itu menghasilkan padi-padi yang ranum, sesekali dibuatnya kenduri syukuran, diundangnya warga kampung dan pemuka agama untuk menikmati hidangan kuah beulangong.

Di sana pemuka agama akan menyampaikan petuah-petuah agama di hadapan warga yang hadir, bahwa sesungguhnya Tuhan akan melipatgandakan harta bagi orang-orang yang mau bersedekah dan membantu orang lain, tidak lupa diangkatnya keluarga itu tinggi-tinggi sampai ke langit. "Kita patut meneladani keluarga Mak Baso dan Pak Baso, mereka selalu membantu sesama," pesan pemuka agama.

Terkadang keseharian Mak Baso juga mengundang pembicaraan orang-orang di kampung, tapi itu semua tidak sampai membuat Mak Baso terganggu.Ia memaklumi itu semua sudah menjadi kebiasaan orang-orang di kampung yang sedikit sibuk membicarakan orang lain dan melupakan pekerjaan mereka sendiri. Mak Baso tidak pernah merespons berlebihan dan tetap fokus bekerja dan berusaha memberikan yang terbaik kepada warga kampung.

Pun demikian semakin ramai pula orang-orang yang datang kepadanya untuk meminta pinjaman uang maupun meminta agar diberikan kesempatan mengelola sawah-sawahnya, atau kerbau untuk di-mawah. Hebatnya, Mak Baso tidak pernah membuat murung dan kecewa orang-orang yang datang kepadanya; semua akan dibantunya sesuai kebutuhan.

Jika memasuki bulan Ramadan, diundangnya anak yatim untuk berbuka di rumahnya selama sebulan penuh, tidak lupa diberikannya santunan saat Lebaran tiba. Paling meriah saat lebaran haji tiba, Mak Baso akan mengambil kerbau dari hasil pembagian mawah dengan orang kepercayaan untuk dikorbankan dan dibagi-bagikan kepada seluruh warga kampung.

"Murah betul hati keluarga Mak Baso, mereka tidak pernah membiarkan orang yang datang kepadanya pulang dengan keadaan murung," ucap seorang warga di warung kopi.

Masih seperti biasa, meski kesibukan mengantar talam kue ke kota semakin padat, tapi Mak Baso tidak pernah meninggalkan kegiatan-kegiatan sosial di kampung. Ia masih membantu mereka yang membutuhkan; bantuannya tidak pernah pilih-pilih orang. Ia selalu menghadiri pesta perkawinan, bahkan mereka selalu datang lebih awal untuk membantu.

Bantuan itu diberikan berkali-kali lipat, seperti pada malam itu, dalam rapat perencanaan rehabilitasi surau kampung kepada panitia Pak Baso mengaku akan menanggung seluruh biaya renovasi dengan catatan pekerjaan dilakukan secara bergotong-royong. Paginya Pak Baso bersama istrinya benar-benar mengantarkan seikat uang kepada panitia. Perihal sumbangan itu orang-orang tidak pernah mempertanyakan sumber uang tersebut, apalagi itu diberikan untuk kepentingan bersama.

Sampai pada suatu ketika keluarga Pak Baso didatangi orang-orang asing berpakaian preman dari kota Marua. Seseorang mengeluarkan borgol dari saku celana. Digelanginya kedua tangan suami-istri itu, tanpa perlawanan ditariknya ke dalam mobil. Di antara orang-orang asing itu ada seseorang yang ia kenal. Dia Malih, pedagang di pasar loak; dialah yang telah membuat pengakuan kepada polisi bahwa Mak Baso bersama suamilah yang telah memasok ganja ke kota Marua. Barang haram itu diseludupkan lewat talam-talam kue Mak Baso. Tapi warga kampung tetap menolak Mak Baso dibawa. Mereka menganggap pasti Malih telah memfitnah suami-istri itu.

Keterangan :

kanduri seunujoh: tujuh hari orang meninggal

mawah: pemilik ternak menyerahkan ternaknya kepada pihak lain untuk dipelihara dan bagi hasil atau untuk peningkatan nilai jual

labi-labi: angkutan umum khas Aceh berbentuk mobil pick up yang diberi tempat duduk dan penutup bagian atas

kuah beulagong: kari masakan khas Aceh

karah: cemilan tradisional khas Aceh

Teuku Hendra Keumala kelahiran Nagan Raya, 20 Maret 1986; berdomisili di Banda Aceh dan bekerja sebagai jurnalis di salah satu media lokal

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Teaser Album Solo J-Hope BTS 'Jack In the Box' yang Bikin Penasaran"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)