Cerita Pendek

Epilepsicoronabilia

Alif Febriyantoro - detikHot
Sabtu, 23 Apr 2022 10:35 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

--untuk Tety Fajrul 'Aini

"Jika malam ini adalah malam terakhir untuk kita, apa yang akan kau lakukan?" tanya laki-laki itu kepada istri keduanya yang sedang berjalan ke arahnya sambil memegang dua cangkir: kopi dan cokelat hangat.

Seminggu yang lalu laki-laki itu juga bertanya kepada istri pertamanya, tetapi istri pertamanya itu mendadak kejang-kejang, dan mati begitu saja.

"Kau benar-benar menanyakan hal itu kepadaku?" kata wanita itu sambil meletakkan dua minuman di atas meja dan menyodorkan satu untuk suaminya.

"Tentu saja."

Di ruang tengah itu, pada sebuah meja bundar dekat jendela, mereka duduk berhadapan dan seperti ingin membicarakan hal yang serius.

"Entahlah. Kau sendiri bagaimana?" Wanita itu mulai meminum cokelat hangatnya.

"Aku juga tidak tahu."

"Jadi kenapa kau menanyakan hal itu kepadaku?"

"Apa salahnya bertanya?"

"Tapi paling tidak kau punya alasan."

"Entahlah."

"Kau ini bagaimana."

"Aku hanya merasakannya. Ada sesuatu yang membuatku gelisah."

"Apa?"

"Kematian."

Mata wanita itu melotot. Seperti menemukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Maksudmu?"

"Dunia sepertinya akan hancur."

"Apakah ini ada hubungannya dengan konspirasi yang katanya dibikin-bikin itu?"

"Aku juga tidak tahu."

"Apakah akan ada perang?"

"Aku juga tidak tahu."

"Apakah virus baru itu akan melenyapkan umat manusia?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Bukankah semakin sedikit yang kita tahu, akan semakin baik untuk kita?"

"Jadi apa yang kau tahu?"

Laki-laki itu memutar gagang cangkir. Ada jeda sekitar 5 detik. "Yang aku tahu, aku mencintaimu." Kemudian ia mulai meminum kopinya.

"Ah, bukankah cintamu terbagi dua?"

"Kau tahu, aku lebih mencintaimu."

"Apa karena ia sudah mati lebih dulu?"

"Bisa jadi."

"Jadi, jika aku mati, kau tak akan mencintaiku lagi?"

Laki-laki itu terdiam. Ia menoleh ke belakang. Tampak dua gadis kembar sedang bermain di depan televisi. Rambut mereka pirang seperti senja, sama persis seperti milik ibunya.

"Masih ada anak-anak. Aku akan mencintai mereka."

"Ah, sudahlah. Lebih baik kita tidur."

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Apa lagi?"

"Apa yang akan kau lakukan jika malam ini adalah malam terakhir untuk kita?"

"Hmm... sederhana."

"Apa?"

"Kita hanya perlu melakukan rutinitas seperti biasanya."

"Apakah tidak bosan?"

"Justru jika kita melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita, malah akan terkesan aneh."

"Aku mendadak lupa rutinitas kita."

"Itu karena kau terlalu memikirkan sesuatu yang belum pasti terjadi."

"Tapi...."

"Apa lagi?"

"Aku merasakannya. Kau tahu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ini tak seperti biasanya."

"Aku baru tahu kalau laki-laki ternyata juga mempunyai firasat yang begitu kuat. Bahkan aku merasa kau terlalu berlebihan."

Laki-laki itu kembali terdiam. Ia memandang ke luar jendela. Cukup lama. Setengah menit. Lebih. Bahkan hampir satu menit.

"Aku ingin kau tahu satu hal," kata laki-laki itu sambil memegang tangan istrinya. "Aku sungguh mencintaimu."

"Apakah ini isyarat sebelum kau bunuh diri?"

"Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu."

"Tapi kau sudah melakukan hal bodoh malam ini."

"Apa?"

"Menanyakan sesuatu yang sebenarnya tak perlu aku jawab."

Laki-laki itu membuang muka. Ia menatap langit-langit, tapi ia tak melihat langit-langit. Dalam pikirannya ia hanya membayangkan sesuatu yang mungkin akan terjadi malam ini: semua orang akan mendadak kejang-kejang dan mati begitu saja.

Entah virus macam apa yang sudah berkembang sejak Covid-19 sampai Covid-32 yang terus-menerus menyebabkan kematian demi kematian.

Sementara seminggu yang lalu beredar kabar bahwa telah muncul virus baru yang merupakan gabungan dari Covid-32, yang awalnya hanya menginfeksi sumsum otak belakang, kini berkembang dan menyerang ke seluruh bagian otak sehingga manusia akan mengalami kejang-kejang dan mati begitu saja.

Laki-laki itu menarik napas.

"Tapi apakah berita yang beredar tidak membuatmu takut?"

Wanita itu menggeleng.

"Tapi kau tahu kan," kata laki-laki itu sebelum akhirnya menenggak habis kopinya. "Selama seminggu ini, virus baru itu sudah menyebar luas. Dan sebelum orang-orang mati, mereka akan kejang-kejang terlebih dahulu."

"Sungguh, aku sama sekali tidak merasa takut."

Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi apa yang membuatmu takut?"

"Aku takut kehilanganmu. Juga anak-anak. Aku hanya mengkhawatirkan kalian bertiga."

"Nah, bagaimana jika itu terjadi kepadaku? Atau anak-anak?"

"Tentu saja aku akan menangis. Siapa yang sanggup kehilangan orang yang kita cintai?"

"Maka dari itu aku bertanya kepadamu, jika malam ini adalah malam terakhir untuk kita, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tadi sudah menjawabnya."

"Hmm...."

Wanita itu sedikit meninggikan suaranya. "Kenapa?"

"Apakah kau tak ingin bercinta?"

Ada jeda sekitar 6 detik. "Boleh."

"Hmm...."

"Kenapa lagi?"

"Aku ingin bercinta di kamar mandi."

"Jangan aneh-aneh!"

"Tapi selama ini kita belum melakukannya di kamar mandi."

"Kalaupun benar malam ini adalah malam terakhir untuk kita, kita tidak harus melakukan hal yang aneh-aneh."

"Hmm.... Baiklah. Selain bercinta, apa lagi yang akan kita lakukan?"

"Tidur."

"Itu saja?"

"Ya."

"Apakah tidak bosan?"

Tapi sepertinya wanita itu yang merasa bosan sehingga ia tak menjawab pertanyaan dari suaminya dan malah memindahkan dua cangkir yang sudah kosong itu ke dapur.
Setelah kembali dari dapur, wanita itu duduk lagi di hadapan suaminya dan mengikat rambutnya.

Merasa gelisah karena istrinya tak menatapnya, laki-laki itu membuka percakapan lagi. "Selama ini hidup kita baik-baik saja kan?"

Tetapi tetap saja, wanita itu tak menatap mata suaminya. "Malam ini kau terlalu banyak bertanya. Sungguh." Ia menarik napas dan mengembuskannya. "Lihat, anak-anak sudah tertidur. Lebih baik kita bawa mereka masuk kamar kemudian kita juga tidur. Ini sudah jam 9. Bukankah besok kita akan berkunjung ke rumah sepupumu?"

Laki-laki itu menoleh ke belakang. Benar saja, tanpa membalas pernyataan istrinya, ia bergegas berdiri dan kemudian berjalan ke arah putrinya yang tertidur di atas sofa. Wanita itu menyusul dan masing-masing dari mereka menggendong putrinya dan membawanya ke kamar.

***

Setelah membaringkan kedua putrinya di kasur, setelah mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur, masing-masing dari mereka bergantian mencium kening putrinya yang sudah tertidur. Kemudian wanita itu mengambil selimut di lemari dan menyelimuti kedua putrinya.

"Kau tahu," kata wanita itu. "Selama ini hidup kita baik-baik saja."

Mendengar ucapan istrinya, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Laki-laki itu tersenyum dan mendekati istrinya dan tiba-tiba memeluknya. Tidak erat memang, tetapi istrinya tahu bahwa selama mereka menikah, pelukan itu adalah satu-satunya pelukan paling berperasaan yang diberikan suaminya.

Kemudian laki-laki itu melepaskan pelukannya dan menatap mata istrinya dalam-dalam. Dan laki-laki itu merendahkan suaranya, "Ya, setidaknya selama ini hidup kita baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup."

Wanita itu menggenggam tangan suaminya lantas dengan bibirnya yang halus ia mencium bibir suaminya yang tak mulus. Dan hening. Tidak lama. Hanya 5 detik. Tetapi dalam 5 detik itu suaminya tahu bahwa selama mereka menikah, ciuman itu adalah satu-satunya ciuman paling berperasaan yang diberikan istrinya.

"Malam ini kita tidur di sini saja," ucap wanita itu pelan sebelum kemudian berbaring di kasur, tepat di samping putrinya.

Laki-laki itu menyusul. Pasangan suami-istri itu tidur saling berhadapan. Dan di bawah tangan mereka yang saling tersulam, kedua gadis kembar itu terlihat tidur pulas sekali.

"Aku lelah," ucap wanita itu.

Laki-laki itu membenarkan rambut yang menutupi separuh wajah istrinya dan tersenyum kepadanya. "Kita sama-sama lelah."

Kini jam dinding menunjukkan pukul 9 malam lewat 40 menit.

Sekali lagi, laki-laki itu menggenggam erat tangan istrinya dan berkata pelan, "Aku mencintaimu."

"Kau tahu, aku juga mencintaimu," balas wanita itu dengan kelopak mata yang pelan-pelan mulai menutup.

Setelah itu, jam menunjukkan tepat pukul 10 malam.

Lalu, pukul 11 malam.

Dan hening. Begitu hening.

Sementara di luar sana, orang-orang menghabiskan malam mereka dengan caranya masing-masing. Tapi sungguh, waktu begitu cepat berlalu. Kini jarum jam berpelukan di angka 12. Pasangan suami-istri itu sudah tertidur. Laki-laki itu mendengkur. Sementara wanita itu membenarkan posisi tidurnya.

Dan malam ini, barangkali mereka sudah melupakan semuanya: Mereka lupa bercinta, lupa menutup gorden, lupa menutup pintu kamar, dan lupa dengan sebuah pertanyaan tentang apa yang akan mereka lakukan jika malam ini adalah malam terakhir untuk mereka.

Jember, 20 November 2021

Alif Febriyantoro lahir di Situbondo, 23 Februari 1996. Buku kumpulan cerpennya antara lain Sebelum dan Setelah Hujan, Sebelum dan Setelah Perpisahan (2020)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Nirina Zubir Ungkap Nilai Parenting yang Bisa Diambil dari 'Keluarga Cemara 2'"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)