Cerita Pendek

Olympusnicus

Eka Wangge - detikHot
Sabtu, 02 Apr 2022 09:57 WIB
ilustrasi cerpen
IIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Batas

Zeus memanggil kami sapi-sapi, ternak yang ia pelihara di kandangnya selama enam jam sehari, enam hari dalam seminggu, dengan jatah enam hari libur saja dalam setahun. Ia begitu suka angka enam sehingga dipangkasnya jatah cuti yang seharusnya empat belas hari, dan pada hari keenam dalam perhitungan hari kerja, ia menyuruh kami berkumpul di lapangan sepak bola pada pukul enam untuk senam pagi. Enam, enam, enam.

"Apa bapak tidak takut disebut antikristus karena menyukai angka enam enam enam?"

Athena memperhatikan bapak kesayangannya dengan seksama, meski ia tahu yang dipanggilnya bapak bukan ayah, tetapi ibu. Ia keluar dari Zeus sebagai perempuan dewasa, sama seperti bayi keluar dari rahim perempuan. Siapakah ibunya?

Seseorang mengatakan, perempuan yang jadi ibunya berumah di luar Olympus. Lari dari kejaran Hera. Ia percaya, ibunya tak pernah benar-benar ada, sekadar tokoh rekayasa, sama seperti dirinya dalam benak orang-orang yang tinggal di luar batas-batas yang ditetapkan sebagai Olympus. Zeus barangkali menghamili ibunya dalam mimpi, atau bahkan tak pernah menghamilinya sama sekali, karena ibu tak pernah benar-benar ada. Jika ibu benar-benar ada, sudah tentu ia terlahir sebagai bayi.

Tapi, ia keluar dari Zeus sebagai perempuan dewasa, lengkap dengan senjata, dan bakat-bakat cemerlang yang membuat segala urusannya di Olympus menjadi serba gampang. Zeus tubuh. Ia isi kepala. Zeus niat. Ia gerak. Zeus arah. Ia yang menuju.

"Aku tak takut pada apa pun. Enam, enam, enam hahaha. Itu bilangan nama seseorang. Bilangan namaku tidak berjumlah enam ratus enam puluh enam. Kalau pun berjumlah enam ratus enam puluh enam mengapa aku harus takut? Kau ingin aku mengubah hari kerja jadi lima saja? Untuk apa? Apa yang kau lakukan pada Sabtu-Minggu? Apa kau sudah punya pacar?"

Harusnya kekasih. Athena tahu, Zeus tak bisa berkata-kata dalam kalimat romantis, kecuali jika ia sedang ingin meniduri seseorang, dewi atau perempuan, di luar Olympus, jauh dari intaian Hera, sang istri yang mata-matanya ada di mana-mana, yang bahkan bisa membuat pilar-pilar istana Olympus melapor padanya soal siapa saja yang mencuri pandang Zeus, dan mengganggu ketenangan kelaminnya.

Kekasih adalah pilihan kata yang lebih manis-kudus, pacar adalah kata yang vulgar, seperti nama tanaman yang daunnya bisa digunakan untuk mewarnai kuku.

Aphrodite pernah mencobanya sekali. Ia ingin kuku-kukunya yang lentik dihiasi warna jingga, meniru langit senja. Namun, ia salah meramu. Daun-daun yang ditempelkan pada kukunya tak memunculkan warna jingga saat dilepas, tapi kuning kunyit kehijauan. Aphrodite tak suka warna kuning, termasuk kuning kunyit. Warna itu mengingatkannya pada bendera partai yang sering dipasang di wilayah luar Olympus, dan ia tak suka partai politik yang berkuasa. Sama seperti kami, ia inginkan hanya Zeus yang berkuasa, bahkan di luar batas-batas yang ditetapkan.

Aku ingin Zeus menguasai segala sesuatu, dan semua orang. Aku ingin Zeus tinggal di dalam benak orang-orang, dan berumah dalam pikiran mereka. Ia akan mengatur segalanya demi kebaikan bersama. Ia mengada-ada soal kebaikan bersama, tapi kami memaafkan Aphrodite karena ia juga dipanggil sapi. Sapi yang paling cantik, meski sapi tetap saja sapi. Alasan lainnya, warna kuning hijau seperti warna tahi, eek, kotoran manusia, karena itu ia jadi jijik sendiri melihat warna kukunya.

Aphrodite mual-mual, dan berkeliling Olympus untuk menjumpai dewa-dewi lain yang sedang duduk-duduk di kubikelnya masing-masing, meminta mereka membatalkan nasibnya yang paling tragis: memiliki kuku sewarna partai, dan eek. Hephaestus memberinya cairan kimia untuk meluruhkan warna. Si cantik dan si buruk rupa pun saling membantu, dan ingatan tentang peristiwa bantu membantu itu menghampiri Athena ketika ia mendengar kata pacar yang vulgar.

Di sini, kami adalah sapi-sapi, tapi kini Zeus bertanya tentang kekasih. Keluar dari sini, apakah kami sapi-sapi, atau dewa-dewi, atau orang-orang tanpa identitas kecuali nama?

Siasat

Olympus berdiri puncak bukit, satu-satunya bukit, di utara kota. Dari pantai, di selatan kota, terlihat kabut tebal menutupinya siang dan malam. Memang, keberadaan Olympus, keberadaan kami; Zeus dan sapi-sapinya masih merupakan misteri bagi orang-orang kota, termasuk bagi perempuan-perempuan yang ditiduri Zeus, termasuk ibu Athena yang dianggapnya tidak ada, karena ia perempuan dewasa yang keluar dari tubuh Zeus. Usianya dua puluh ketika ia muncul dengan senjata lengkap dan rambut sepinggang yang mengombak kelam malam. Di punggung kirinya bertengger seekor burung hantu. Uhu uhu si burung sungguh mengganggu; mengganggu Athena ketika ia tidak sedang berada di Olympus, ketika ia tidak sedang bekerja sebagai pesuruh Zeus yang paling tangguh. Saat-saat ia bukan Athena adalah saat-saat ia bukan dewi, melainkan perempuan biasa yang tinggal di salah satu sudut kota, sebatang kara tanpa keluarga, tampa sahabat, tanpa seorang pun yang diajaknya mengobrol.

Demikian juga dengan kami. Di luar Olympus, kami adalah orang-orang biasa yang tinggal di rumah-rumah di dalam kota. Sebagian memiliki keluarga, sebagian tidak memiliki keluarga. Sebagian tampak biasa-biasa saja layaknya para penduduk yang tidak berurusan dengan Olympus. Sebagian tampak luar biasa. Ada yang kaya raya, ada yang bersuara merdu, ada yang sangat tampan, ada yang cerdik. Di atas rata-rata. Meski tak semua yang di atas rata-rata berhubungan dengan Olympus.

Ada seseorang di kota yang sungguh pandai menenun. Namanya Arachne. Ia tak hanya merajut motif-motif bunga pada kain tenunannya, atau dedaunan, atau hewan, tapi, ia juga pandai merajut tokoh-tokoh, menjadikannya cerita. Orang-orang yang membeli tenunannya hingga berlembar-lembar kini juga jadi penikmat cerita. Cerdiknya, ia merangkai cerita bersambung. Maka ia menghubungkan orang-orang kota lewat sebuah cerita. Si A yang memiliki lembaran cerita halaman pertama, berkongsi dengan si B yang memiliki lembaran cerita halaman kedua... Si C, si D. Ia tak mau menjual kepada orang yang sama dua kali sama seperti ia tak menenun kisah yang sama dua kali. Telah ada seratus lima puluh lembar. Ada kisah tentang Zeus yang jadi angsa cuma untuk kawin!

Hermes yang baru saja jalan-jalan melapor dengan riang. Ia pembawa pesan yang cekatan, namun bukan penarik kesimpulan yang andal. Aphrodite bermuka masam. Cantik kau bilang? Apa lebih cantik dariku? Hephaestus penasaran. Ha! Dengan alat apa ia menenun? Artemis mengilapkan anak-anak panahnya. Ia tak peduli pada apapun yang disampaikan Hermes. Tempatnya bukan di Olympus, ia kebetulan saja sedang singgah. Masa bodoh. Athena mengernyitkan dahi. Apa ia berpotensi mencegah Zeus menguasai orang-orang?

Ia tak mungkin bisa mencegah Zeus menguasai orang-orang. Tidak seorangpun percaya Zeus benar-benar ada. Banyak yang menganggap ceritanya kocak. Tetapi, orang-orang memuji ia di mana-mana. Tenunannya, yang bermotif cerita, adalah tenunan terbaik. Kemampuannya menenun tak tertandingi oleh siapa pun. Athena bergerak-gerak gelisah. Ia perempuan dewasa yang keluar dari tubuh Zeus. Tak tertandingi oleh siapa pun terdengar seperti tantangan sekaligus cemoohan.

"Bapak tidak khawatir, mana tahu orang-orang makin sibuk berkelompok membahas cerita, mereka jadi kehilangan waktu untuk menyendiri, merenungkan misteri Olympus yang berkabut. Mereka bisa saja tak lagi takluk dan menyerah pada Zeus yang berkuasa. Zeus yang tak akan turun dari tahta."

"Kau tahu apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikan urusan ini kan?"

Tarung

Di sini kami adalah sapi-sapi, tapi juga dewa-dewi. Sang dewi perang tak menggunakan strategi yang persis seperti yang kau baca dalam cerita. Ia gunakan cara lain, yang menurutnya lebih jenaka. Mengganggu pikiran Arachne dengan kisah-kisah lebih lengkap tentang Olympus. Ia kirim mimpi-mimpi yang membikin penasaran, tentang istana yang senantiasa diselimuti kabut, yang namanya telah diketahui seluruh penduduk kota, tapi keberadaannya tidak pernah dibicarakan. Olympus yang ada sekaligus rahasia. Dan, bagaimanakah rupa Zeus? Bukankah kau ingin tahu? Bukankah kau selalu ingin tahu?

Di sini, kami adalah sapi-sapi. Maka, pada pukul empat, dini hari yang sepi, ketika Athena menggiring roh Arachne menuju Olympus, perempuan penenun itu bermimpi melihat ratusan ekor sapi tengah memamah biak di tanah lapang. Seekor sapi, yang kulitnya paling cokelat dan bulu matanya paling lentik, mengejarnya seolah ia adalah rumput yang mesti dikunyah. Ia berlari, memanjat pohon, dan bertengger di salah satu dahan. Sembari menengok ke sekeliling, tampak olehnya, kota dan rumah-rumah penduduk. Ia ingat di mana letak rumahnya, dan kamar tidurnya. Ia ingat, pada jam empat, ibunya telah bangun untuk berdoa. Lalu, ibu akan membangunkannya karena ia pun harus berdoa sebelum memulai hari. Ditunggunya sang ibu, ditunggunya sang ibu....

Arachne masih menunggu sambil menjalin kulit-kulit kayu yang ia kupas dengan kukunya yang kian panjang. Sementara Arachne yang dibangunkan ibunya sudah memulai hari. Ia tak lagi menenun. Ia tak lagi bisa berpikir. Kadang-kadang, ia katakan pada ibunya: Ma, saya merasa ada sesuatu yang telah dicuri dari dalam diri ini, tapi saya tidak tahu itu apa. Ma, sungguh mengerikan mencari bagian diri yang hilang. Ma, ma, ma. Ibunya hanya mendengar saja. Bagaimana ia bisa ikut mencari sesuatu yang hilang dari putrinya, jika yang hilang itu adalah akal. Bagaimana ia bisa menemukan sesuatu yang barangkali tak berbentuk, dan jika berbentuk pun tak bisa ia lihat, tak bisa ia sentuh? Ia hanya bisa menjadi pendengar yang pandai menyembunyikan air matanya sendiri. Arachne ada di hadapannya, sekaligus tak ada. Tatapannya kosong. Sering, Arachne jadi bayi yang mesti dimandikan, disuapi, diganti pakaiannya.

Saat hari kerja, ketika dewa-dewi Olympus sedang sibuk di kubikelnya masing-masing, Athena mengubah roh Arachne jadi laba-laba yang pandai mengetik. Si laba-laba bergerak lincah di atas keyboard, meloncat dari satu huruf ke huruf lainnya sesuai yang didiktekan Athena. Jika telah selesai, diubahnya lagi kembali ke bentuknya yang mula-mula, dan ditaruhnya di dahan pohon sebagai tontonan penghuni Olympus.

Dan kami...kami adalah sapi-sapi Zeus yang kadang-kadang berjumpa ibunda Arachne, dan menanyakan kabar anak perempuannya seolah kami adalah karib Arachne. Ibunya selalu tersenyum ramah mengatakan bahwa anak perempuannya baik-baik saja, meski tak lagi menenun dan tak pernah keluar rumah. Zeus mengatakan, melenyapkan sekaligus tidak melenyapkan Arachne adalah prestasi Athena yang paling ia banggakan.

"Apa kau punya pacar, Athena?"

Ah, betapa vulgar!

(2022)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Cynthiara Alona Bakal Polisikan Oknum yang Rugikan Asetnya"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)