Cerita Pendek

Dia Sudah ke Seberang

Armin Bell - detikHot
Minggu, 23 Jan 2022 09:58 WIB
ilustrasi cerpen
iIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Ela rèngè sudah disembelih di depan pintu rumah. Anak babi berusia sekitar tiga bulan itu adalah pengikat doa-doa yang dilantunkan Tua Adat beberapa menit sebelumnya. Uiknya sesaat sebelum sebilah parang menghentikan jatah hidupnya adalah lambang tersampaikannya permohonan kepada para leluhur.

"Dia sudah ke seberang," kata seseorang. Ferdi mendengar itu dan merasa hatinya seperti leher anak babi yang dipersembahkan pada upacara hari itu; luka, menganga, berdarah --sebentar lagi semuanya selesai, pikirnya. Langit Ruteng yang mendung seumpama cermin wajahnya.

Dia sudah ke seberang. Ferdi memikirkan lagi kalimat yang telah didengarnya berulang-ulang itu. Tadi, pagi-pagi sekali, ketika dia dan beberapa orang lain menyembelih ela utè, seekor babi yang hampir setinggi dadanya-untuk lauk makan siang itu-dia mendengar juga kalimat serupa.

Pa'ang be sina adalah tempat yang akan dituju mertuanya setelah hari ini. Dunia seberang. Dan upacara saung ta'a yang mereka lakukan hari ini seumpama bendera start pada sebuah perlombaan, doa-doa yang terus didaraskan untuk keselamatan jiwanya sampai upacara kèlas nanti adalah atmosfer di sepanjang lintasan lomba; doa bagus, jiwa selamat. Kenduri arwah akan dilaksanakan tahun depan dan Ferdi menunggu waktu itu dengan cemas, apakah dia akan turut serta?

Bapa mertuanya meninggal dunia empat hari yang lalu. Dikuburkan hari itu juga sebab semua keluarga telah berkumpul. Beberapa waktu sebelumnya, dua kakak Sofi bersama pasangan dan anak-anak mereka telah datang dari kota-kota yang jauh ketika lelaki itu dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya.

Saya kira sudah waktunya saya pergi sekarang, begitu kata lelaki itu ketika Ferdi menjaganya di rumah sakit. Sejak hari itu, tiga malam doa bersama di rumah duka, sesaat sebelum ritual adat saung ta'a tadi, tak pernah berhenti Ferdi menyampaikan harapannya berulang-ulang-ke telinga lelaki yang sekarat, ke telinga lelaki yang sudah berhenti bernapas ketika memandikannya, ke dinding tempat foto lelaki itu dipajang-agar lelaki itu kembali, jangan mati, tetap menjadi satu-satunya jalan dia tetap bisa melihat wajah istri dan anak-anaknya.

***

Saya sudah pernah bilang to? Kau jangan ke sini lagi! Untuk apa kau ke sini? Saya sudah tidak mau lihat kau punya muka lagi.

Saya mau ketemu Amè. Jawaban itu adalah yang paling benar yang bisa Ferdi sampaikan pada istrinya yang telah tiga bulan terakhir tidak mau lagi bertemu dengannya.

Mereka telah menikah lebih dari sepuluh tahun. Dua anak yang lucu, perempuan dan laki-laki membuat kebahagiaan pernikahan Ferdi dan Sofi terasa lebih lengkap. Sampai suatu ketika, tiga bulan yang lalu itu, Sofi, dengan membawa serta dua anak mereka, pulang ke rumah orangtuanya dan tidak kembali ke rumah mereka lagi. Peristiwa itu bermula dari tiga bulan sebelumnya.

Ferdi diberhentikan dari tempatnya bekerja. Rasionalisasi karena pandemi, kata bosnya, terpaksa harus dilakukan tetapi kalau situasi normal kembali, akan kami panggil lagi. Ferdi adalah satu dari sekitar dua puluhan pegawai tanpa keterampilan khusus di kantor itu, dua puluhan orang yang ikut hilang ditelan gelombang rasionalisasi.

Ferdi putus asa, Sofi panik, anak mereka yang pertama memerlukan lebih banyak uang. Sekolah di masa pandemi yang harus dilakukan serba online membutuhkan handphone yang lebih baru, paket data yang lebih banyak, persediaan masker dan hand sanitizer, dan masih banyak lagi.

Kau laki-laki tidak berguna. Dulu, kalau kau selesaikan kuliah atau ikut kursus apa saja, kau pasti tidak ikut dipecat. Kita mau makan apa nanti? Nona punya kebutuhan sekolah mau ambil dari mana? Kata-kata istrinya terus bergema berhari-hari di telinganya, hari-hari yang sepi penumpang.

Ferdi telah memutuskan membeli sepeda motor bekas milik tetangga mereka berbekal pesangon seadanya ketika itu dengan harapan bisa menyambung hidup dari mengojek. Keputusan yang hanya menambah kemarahan istrinya, kemarahan yang benar, sebab, "Sekarang orang-orang harus terus tinggal di rumah dan kau mau jadi tukang ojek? Ferdi...!" Dan semuanya menjadi semakin rumit. Tentu saja demikian.

Pandemi tai! Ferdi mengumpat berkali-kali dan berkali-kali pula dilihatnya istrinya menangis ketika menyuapi anak mereka yang kedua dengan nasi putih yang porsinya semakin berkurang dari hari ke hari. Rencananya menjual kembali sepeda motornya ditertawakan istrinya, tertawa yang benar, sebab, "Kau pikir ada yang mau beli kau punya motor bekas di masa sulit begini? Pikir kau, Ferdi!"

Tetapi kalimat istrinya itu melukainya, atau membuatnya tersinggung, atau karena dia memang sedang sangat bingung. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan ketika itu tetapi menurut Sofi, Ferdi menendangnya. Istrinya itu sedang menyuapi anak lelaki mereka yang dengan segera menangis kencang di piring nasi tiba-tiba menutup mukanya penuh.

Setelah hari itu, tak ada lagi rumah yang sama. Ferdi berulang kali meminta maaf, berulang kali pula datang orang-orang menagih utang, berulang kali pula dia menjemput Sofi dan dua anaknya di rumah mertuanya; telah berapa kali kekerasan ini terjadi? Ferdi tidak ingat apa-apa.

Kau tahu? Setiap sabar adalah seumpama padang yang luas, akan tetap sampai ke tepi. Bisa di kaki bukit, juga bisa jadi di mulut jurang. Di mulut jurang itu Ferdi berteriak keras sekali, menangis, gemanya baru datang ke telinganya setelah sekian lama, yang didengarnya bersamaan dengan suara lain.

Suara Sofi ketika tadi dia menjemputnya berbunyi lagi di kepalanya. Saya sudah tidak sanggup, Ferdi. Kami tinggal di sini. Kau jangan datang lagi. Kau jangan ke sini lagi.

Ferdi memikirkan tentang jurang yang dalam itu akan membantunya menghilangkan suara-suara. Ke sana dia hendak terjun. Dia menarik napas panjang, mengambil ancang-ancang dan hendak melompat tetapi bunyi yang lain muncul di kepalanya, kali ini lengkap dengan gambar.

Bapa mertuanya menepuk pundaknya di pintu keluar. Pulang saja dulu. Nanti datang lagi, minum kopi dengan Amè. Ferdi mengangguk lemah. Baik Amè, jawabnya.

Sejak saat itu, setiap kali berkunjung, Ferdi dan bapa mertuanya minum kopi bersama, bicara tentang apa saja, juga tentang ibu mertuanya yang telah lama meninggal.

Sejauh yang saya ingat, saya tidak pernah menempelengnya. Dia memang keras sekali. Sofi sepertinya mewarisi itu. Saya tidak pernah melakukan itu. Rasanya itu buruk sekali dan yang saya pikirkan adalah kedua orang tuanya yang mencintai dia setengah mati. Kalau kau ingin Sofi kembali, pastikan bahwa kau tidak akan pernah melakukannya lagi.

***

Tamu-tamu dan anggota keluarga jauh segera pergi setelah makan siang. Para tetangga menyusul setelahnya. Tinggal beberapa orang saja di rumah itu: Ferdi dan Sofi dan anak-anak mereka, dua kakak Sofi, perempuan dan laki-laki, bersama suami, istri, dan anak-anak mereka, dan dua orang lain, laki-laki dan perempuan, anak kerabat dekat bapa mertuanya yang selama ini tinggal di rumah itu atas permintaan almarhum.

"Kamu yang jaga rumah sekarang." Ferdi tahu kalimat dari kakak iparnya itu untuk mereka. Dia, Sofi, dan anak-anak. Ferdi melihat Sofi yang juga balas memandangnya. Tepat di titik tengah saling tatap itu menari-nari sebuah ingatan. Sofi pernah menyumpah.

Lebih baik saya mati daripada tinggal satu rumah lagi dengan kau. Dan siapa saja yang berusaha supaya kita jadi suami-istri lagi, lebih baik dia mati saja. Di seberang ingatan yang menari itu Ferdi lihat jurang yang dulu ditinggalkannya begitu saja.

"Ferdi?"

"Nanti Sofi dan anak-anak yang di sini, Kaka. Saya mau cari kerja dari Labuan Bajo, sepertinya banyak peluang di sana."

"Sofi?"

"Kita masih harus bikin satu upacara lagi nanti malam," kata Sofi setelah hening yang lama. Lalu menceritakan semuanya. Juga sumpahnya yang dulu itu. Kisah yang memuntahkan amarah kakak-kakaknya; kau yang membuat Amè pergi?

Hari sudah malam. Upacara wencu lancung sebagai ritual menarik kembali sumpah Sofi berjalan canggung. Makan malam dengan lauk daging ayam yang dikorbankan pada upacara perdamaian itu berlangsung dingin.

Gelap malam mengingatkan Ferdi pada jurang di batas padang. Dia berdiri, hendak menutup tirai jendela, tetapi lututnya gemetar hebat sebab sepintas dia melihat punggung bapa mertuanya saat berjalan menjauh dengan langkah-langkah ringan. Dia jatuh berlutut, dan menangis. Tangisannya yang pertama setelah kematian lelaki itu.

Armin Bell bergiat di Bacapetra.co dan Komunitas Saeh Go Lino Ruteng; buku kumpulan cerpennya berjudul Perjalanan Mencari Ayam (Dusun Flobamora, 2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Kuasa Hukum Riri Selalu Bahas Surat Kuasa, Nirina Zubir Heran"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)