Atasi Stres Saat Pandemi, Ridwan Kamil Bikin Karya soal Redefinisi Publik

Erika Dyah - detikHot
Kamis, 21 Okt 2021 23:12 WIB
ICAD 2021
Foto: Erika Dyah/detikcom
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung hampir 2 tahun lamanya tak ayal membuat banyak orang stres dan lelah, tak terkecuali bagi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Kendati demikian, pria yang akrab disapa Kang Emil ini mengaku punya cara tersendiri untuk mengatasi stres tersebut.

Kang Emil mengungkap stres yang ia rasakan akibat pandemi COVID-19 disalurkan lewat 3 rutinitas, seperti olahraga, membuat tulisan, dan juga melahirkan karya seni. Ia mengaku, selama pandemi berlangsung telah memproduksi sebanyak 126 lukisan. Bahkan, salah satu lukisannya berjudul 'Neo Public Face' ditampilkan dalam sebuah pameran yang kini tengah berlangsung di wilayah Selatan Jakarta.

"Di sini saya kapasitasnya bukan sebagai Gubernur Jawa Barat, kurator dari ICAD XI ini meminta saya menampilkan karya. Temanya kan PUBLIK, lukisan yang saya lukis ini temanya bahwa hari ini wajah kita itu sudah berubah yang dulunya bisa terlihat penuh, sekarang yang terlihat hanya mata karena memakai masker saat COVID. Termasuk di situ ada self portrait saya, wajah saya memakai peci, kacamata, sehari-hari mayoritas tetap di rumah," ungkap Kang Emil dalam Pembukaan Pameran Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) XI di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Ia pun menjelaskan lebih lanjut soal 4 lukisan lain buatannya yang menampilkan seorang individu di masing-masing lukisan.

"Kemudian di bawahnya ada lukisan tentang orang ingin happy ingin piknik, tapi takut kalau ramai-ramai kan. Maka lahirlah budaya soliter di ruang publik, sendirian tapi menikmati pariwisata atau keindahan lain," terang Kang Emil.

Kang Emil mengatakan lukisan tersebut menjadi ekspresi dirinya dalam mendefinisikan kembali publik di masa post COVID. Meski demikian ia menyebutkan seni bagiannya memiliki hak bagi setiap orang untuk menerjemahkan suatu karya.

"Kalau karya saya karena temanya publik ada perubahan dari definisi publik. Pakai masker contohnya. The new public face, tema saya, dipaksa tidak seperti biasanya. Kedua kita dipaksa jaga jarak, dan macam-macam. Itulah definisi publik baru. Cuci tangan jadi lebih sering, keamanan jadi perhatian. Itulah wajah baru pasca-COVID. (Karya ini) meredefinisi apa itu publik," jelasnya.

Tak hanya mendefinisikan kembali soal publik, Kang Emil pun menjelaskan soal karyanya yang tampil tak hanya dalam bentuk lukisan. Sebab, karyanya juga diaplikasikan dalam berbagai barang terapan, mulai dari tas, piring, jaket, dan lain sebagainya.

ICAD 2021Atasi Stres Saat Pandemi, Ridwan Kamil Bikin Karya soal Redefinisi Publik Foto: Erika Dyah/detikcom

"Orang mengira lukisan itu jodohnya dengan dinding kan. Nggak juga, lukisan itu sekarang jodohnya bisa menjadi tas, fashion, piring, dan lain sebagainya. Tempat pameran itu bukan galeri, tapi tubuh manusia yang jalan-jalan di trotoar. Nah itulah perubahan-perubahan yang disebut definisi publik pasca COVID yang saya ekspresikan," ujarnya.

Disinggung soal gaya seninya, Kang Emil mengaku tak punya gaya khusus dalam mengekspresikan karya seni.

"Jangan melihat karya saya sebagai karya artis yang profesional. Ini mah Gubernur Jawa Barat stres, melampiaskan stresnya ngelukis gitu. Apa gayanya? Nggak ngerti juga. Di mana saya suka saya ekspresikan, kira-kira seperti itu. Pokoknya inimah ekspresi pemimpin dalam menampilkan visual," tutur Kang Emil.

Sementara itu, Festival Director ICAD, Edwin Nazir mengaku tak setuju jika Kang Emil mengatakan karya seninya bukan berasal dari seniman profesional. Sebab menurutnya, Kang Emil merupakan insan kreatif profesional Tanah Air.

"Tentu ini sangat profesional karena kalau tidak, tidak akan lulus kurasi. Karena ini dipilih oleh kurator dan ditampilkan, pasti bukan hanya karena namanya saja tapi karena memang karyanya sangat menarik untuk ditampilkan. Dan kalau dilihat kan cukup menyita perhatian, makanya sengaja kami tampilkan di area center juga," ucap Edwin.

Edwin pun mengungkap keterlibatan Kang Emil dalam gelaran ICAD sudah berlangsung lama. Ia mengatakan, saat masih berprofesi sebagai arsitek beberapa tahun silam, Kang Emil pernah menjadi salah satu pembicara utama ICAD yang membawakan materi soal arsitektur.

Kendati demikian ia mengakui bahwa ini adalah kali pertama Kang Emil hadir di ICAD sebagai perupa seni. Ia pun berharap keikutsertaan ini akan hadir di tahun-tahun berikutnya.

(akn/ega)