Cerita Pendek

Malam Kematian Kakekku

Yoga Palwaguna - detikHot
Minggu, 11 Apr 2021 10:45 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Waktu itu bulan puasa. Aku tidur sendirian di kamar. Lampu masih gelap ketika aku mendengar suara tangisan.

Akhirnya, batinku.

Kata orang, maut itu misteri, tapi tak ada lagi yang rahasia tentang maut seorang kakek tua yang sudah berhari-hari tak bangkit dari pembaringannya. Bahkan aku yang saat itu baru kelas 6 SD tahu bahwa sebentar lagi orang-orang akan berkumpul di rumah ini bukan untuk menengok orang sakit dan mendoakan kesembuhannya, melainkan melayat seorang almarhum dan mendoakan ketabahan bagi orang-orang yang ditinggalkannya.

Termasuk aku, orang-orang yang ditinggalkan itu.

Tidak ada yang rahasia tentang maut Pak Mahmud, kakekku. Sejak tiga hari sebelumnya, anak-anaknya, terutama yang perempuan, sudah berkumpul di rumah Kakek untuk bergiliran menjaganya. Memberinya makan dan minum sesendok demi sesendok. Mengganti celananya yang basah karena ompol atau kotoran. Juga bergantian membaca kitab suci dan doa-doa.

Malam itu, beberapa jam sebelum waktunya sahur, para ibu-ibu yang biasanya rajin berselisih itu kompak menjadi sebuah paduan suara yang mengoyak kesunyian malam dengan tangisan mereka. Di antara semua tangisan tersebut, aku mengenali dengan mudah dua di antaranya. Tangisan nenek dan ibuku. Mereka menangis paling keras, hampir seperti sedang berebut.

Baru bertahun-tahun kemudian aku mengerti bahwa tangisan mereka tidak hanya terbuat dari kehilangan dan rasa sedih, melainkan juga rasa bersalah. Ibu dan Nenek pernah bertanya pada orang pintar, "Kapan Kakek akan meninggal?"

Ibu menceritakan kisah itu ketika aku sudah kelas 3 SMA. Orang pintar itu bilang, "Tidak lama lagi." Rasa lelah yang mereka rasakan selama mengurus Kakek membuat keduanya merasa lega.

Perasaan lega itu rupanya berubah jadi perasaan berdosa ketika Kakek benar-benar meninggalkan dunia.

Mungkin pada malam kematian Kakek, mereka membayangkan betapa hari-harinya akan sepi tanpa ada lagi orang yang membuat mereka malu karena berjalan ke teras tanpa celana dalam. Mungkin mereka teringat berapa kali mereka kehilangan kesabaran ketika menyuruh Kakek untuk buang air besar di kamar mandi, bukan di teras, hingga mereka mencubit lengan dan perut Kakek yang kurus. Mungkin mereka teringat hari-hari ketika mereka bertengkar tentang siapa yang kebagian giliran untuk mencuci celana Kakek yang dipenuhi kotoran.

Aku menyalakan lampu dan berjalan menuju sumber tangisan. Rumah yang kami tempati berbentuk seperti persegi panjang yang ditempelkan dengan persegi berukuran lebih kecil. Aku tidur di bagian persegi kecil itu. Suara tangisan berasal dari ruang tengah di bagian persegi panjang.

Jadi seperti ini kondisi rumahmu jika ada keluarga yang meninggal malam-malam, kataku pada diri sendiri. Aku berdiri di ambang pintu entah untuk berapa lama, memperhatikan orang-orang tua yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang menangis, ada yang mengaji, ada yang menelepon Pak Ustad, ada yang berdiskusi tentang waktu pemakaman, pembuatan nisan, dan siapa yang akan mengambil kain kafan juga keranda dari masjid.

Dari sela-sela kerumunan orang-orang dewasa, aku melihat tubuh Kakek berbaring tertutup samping kebat. Sudah berhari-hari Kakek berbaring di tempat yang sama persis dengan tempatnya berbaring saat ini, tapi tentu saja kali itu berbeda. Keesokan harinya, ia tak akan ada lagi di sana.

Kakek kehilangan ingatannya tak lama setelah aku kehilangan sebelah penglihatanku. Mata kiriku luka terkena batang lidi saat bermain panah-panahan bersama bocah-bocah lain saat aku baru saja masuk SD. Operasi dan kontrol pasca-operasi setiap hari Senin yang kujalani selama berbulan-bulan tidak membuat penglihatanku kembali. Setidaknya, semua orang tahu kenapa sebelah mata kiriku buta. Setidaknya, aku pernah dibawa ke kota untuk diobati.

Tak ada yang tahu kenapa Kakek kehilangan ingatannya. Tak seorang pun pernah membawanya berobat ke dokter apalagi rumah sakit. Orang-orang dewasa yang mengurus Kakek berpuas diri dengan jawaban dari orang pintar yang mereka datangi: lelembut Kakek sudah tak lagi mendiami tubuhnya. Mungkin karena dia dijahili oleh saingannya dulu sewaktu masih bekerja di perkebunan.

Katanya, semua dimulai ketika aku masih dirawat di rumah sakit. Kakek berkali-kali salah masuk kamar pasien. Namun, saat itu tak ada yang mengira bahwa Kakek akan berangsur-angsur melupakan segalanya. Ia lupa cara mengancingkan baju, memakai celana, dan di mana seharusnya membuang hajat.

Hidup keluarga kami yang semula tenang, berubah. Segalanya jadi rumit. Tiba-tiba ada anak kecil berusia 65 tahun yang memerlukan perhatian penuh. Mungkin karena itulah, setelah sekian lama bersabar, Nenek dan Ibu akhirnya tiba pada sebuah pertanyaan: kapan Kakek akan meninggal? Mereka bahkan sering mencurigai Kakek hanya berpura-pura pikun agar tak disuruh mencari uang. Setidaknya, aku tak pernah dituduh pura-pura buta.

Karena itulah aku tak bisa marah ketika Kakek juga melupakan aku, melupakan namaku. Padahal sebelumnya, setiap kali aku datang berkunjung, Kakek akan mengangkat tubuhku tinggi-tinggi di teras samping rumah. Ia menyambutku bahkan sebelum aku melewati pintu masuknya. Namun setelah itu, aku dan Kakek memiliki permainan baru. Permainan yang dibuat oleh bibi-bibi, ibu, dan nenekku.

Permainan tebak-tebakan. Kakek menebak siapa namaku, dan aku menebak apa warna bajunya sambil menutup sebelah mata. Kami tak pernah berhasil memberikan jawaban yang benar.

Ketika Kakek akhirnya meninggal, aku merasa sebetulnya ia telah pergi bahkan jauh sebelum itu. Mungkin karena itulah aku tidak menangis. Aku telah pernah bersedih ketika Kakek hanya berdiri di teras pinggir rumah. Aku memanggilnya berkali-kali. "Aku peringkat satu lagi di kelas," kataku. Namun ketika Kakek akhirnya menoleh, matanya kosong dan tangannya lunglai tak menyambutku.

Seseorang menyuruhku kembali ke kamar. Aku pikir aku tidak akan bisa tertidur setelah apa yang terjadi. Namun, rupanya pikiranku tidak terbukti. Aku baru bangun keesokan paginya. Jangankan sahur, aku bahkan melewatkan Salat Subuh. Lagi pula, tak ada yang sempat menyiapkan sahur. Semua orang dewasa sibuk menyiapkan prosesi pemakaman.

Suasana di ruang tengah sudah lebih teratur ketimbang dini hari sebelumnya. Mata Ibu dan Nenek masih terus basah tapi mereka sudah tak lagi meraung-raung. Ibu memanggilku untuk menghampirinya yang sedang duduk tepat di samping kepala Kakek. Ia kemudian menyuruhku meminta maaf pada Kakek. Ini kesempatan terakhirku, katanya.

Seperti seorang pengisi suara di tayangan kartun Minggu, Ibu mengucapkan permintaan maaf atas namaku. Aku sebetulnya tak terlalu mengerti dengan apa yang Ibu ucapkan. Aku hanya ingin minta maaf pada Kakek karena belakangan ini aku semakin jarang menemuinya. Aku telah menganggapnya seperti orang asing. Aku melupakannya padahal ingatanku baik-baik saja. Lelembutku masih ada dalam tubuhku.

Siang itu aku membatalkan puasa karena pusing. Selain tak makan sahur, perjalanan ke makam juga jauh, panas, dan melewati jalan menanjak. Ibu bilang, "Tidak apa-apa." Aku tadinya ingin bertanya, jika lelembut Kakek sudah sejak lama tidak lagi ada dalam tubuhnya, apakah setelah ia dimakamkan, lelembut itu akan menemukan jalan pulang?

Aku harap begitu.

Aku baru tinggal di rumah yang sama dengan Kakek tiga tahun belakangan ini, setelah kondisi Kakek semakin parah dan Nenek sudah tak kuat mengurusnya seorang saja sehingga Ibu mengajakku tinggal di sini untuk membantu Nenek. Sebelum itu, setiap habis ujian sekolah, aku akan datang ke rumah Kakek untuk menghabiskan masa liburan.

Jika benar apa kata orang bahwa hidup itu seperti ujian, berarti apa yang ada setelah kehidupan seharusnya adalah liburan. Aku berharap bisa segera menuntaskan semua paket ujianku dan menjalani masa liburan seperti Kakek.

Aku akan berkunjung ke rumahnya, kemudian bilang bahwa aku dapat peringkat satu. Kakek akan memangku badanku dan mengangkatku ke langit-langit sambil tertawa. Tak perlu lagi tebak-tebakan. Namaku sudah pulang pada ingatannya, dan mataku kembali mengenali warna bajunya.

Kemudian aku akan meminta Kakek untuk mendongeng seperti ketika aku kecil dulu.

Kakek akan bertanya, "Mau dongeng apa?"

Aku akan menjawabnya dengan, "Apa saja, yang penting yang ada putrinya."

Dan karena kehidupan berikutnya adalah kehidupan yang baka, itu artinya aku bisa menjalani liburan yang tak ada habisnya bersama Kakek. Kami tak akan merasa bosan karena tentu saja, di Surga, Kakek tak pernah kehabisan bahan cerita. Ia mengingat semuanya.

Ingatan tentang Kakek selalu kembali padaku setiap kali aku mendapatkan soal ujian yang cukup berat, seperti saat ini.

"Jamal! Jamal!" panggil Ibu dari ruang tamu.

"Ya, Bu!" sahutku.

Lagi-lagi, Ibu salah menyebut namaku.

Dan ia baru saja buang air dalam celana.

Gang Kopi, 20 Februari 2021

Yoga Palwaguna karyawan swasta, aktif di Kawah Sastra Ciwidey dan Prosa7

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Hotman Paris dan Gaya Busananya yang Nyentrik"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)