Pentas 1'59 Project Indonesia Buka Indonesian Dance Festival 2020

Tia Agnes - detikHot
Minggu, 08 Nov 2020 10:25 WIB
Pembukaan Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
Foto: IDF2020.zip/ Istimewa
Jakarta -

Festival seni kontemporer berskala internasional, Indonesian Dance Festival (IDF) 2020 resmi dibuka pada Sabtu malam (7/11). Pentas 1'59 Project Indonesia karya Eun-Me Ahn membuka gelaran yang berlangsung selama 8 hari hingga 14 November 2020.

Karya 1'59 Project Indonesia merupakan pertunjukan dance on film yang semarak yang diciptakan koreografer Eun-Me Ahn asal Korea Selatan. Ia mengajak 50 pegiat tari Indonesia mulai dari milenial sampai baby boomers, dari amatir ke profesional untuk menjadi bagian dari pertunjukan mini.

"Eun-Me Ahn bekerja sama dengan para kolaborator untuk mendukung upaya berdaya di tengah suasana pandemi," ucap salah satu kurator Rebecca Kezia, saat pembukaan IDF 2020 yang berlangsung daring di YouTube.

Selama 1 menit 59 detik, para kolaborator yang lolos seleksi Eun-Me Ahn menampilkan pertunjukan tari yang menjadi refleksi dari kompleksitas dan keberagaman sosial di Indonesia.

Ada pementasan berjudul Siluman Ajag Jawa yang dibawakan Harry Nuriman asal Bandung. Ada juga karya Happy Walking ciptaan Meinn yang menghadirkan aktivitas seorang perempuan berjalan kaki di tengah terik matahari tapi lengkap dengan masker wajah hingga pakaian serba tertutup.

Tahun ini, IDF secara spesial bertransformasi nama menjadi IDF2020.zip sebagai bentuk adaptasi secara virtual. Tema DAYA: Cari Cara pun dipilih sebagai siasat penyelenggaraan di tengah situasi yang tak menentu.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Restu Gunawan, mengatakan di masa pandemi para pelaku seni menjalankan berbagai metode untuk bertahan.

"Kesenian kita pun dipaksa mencari alternatif untuk mengembangkan strategi dan beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya dalam keterbatasan ruang dan gerak," tuturnya saat membuka IDF 2020.

Seni tari juga ada di garis terdepan dalam perubahan tersebut. Seni tari yang mengharuskan adanya hubungan fisik yang kuat antara penampil dan penonton, sekarang kehadiran fisik tidak memungkinkan.

"Ekosistem seni tari pun mencari jalan keluar, gimana mensimulasikan keadaan fisik itu. Para pelaku tari menjelajahi di teknologi digital," lanjutnya.

IDF pun, lanjut dia, menjadi momentum penting untuk mengaktualisasikan diri dalam memadukan teknologi dan tari. "Semoga IDF menjadi inspirasi untuk karya-karya seni tari di Indonesia dalam perubahan ini," tukasnya.



Simak Video "Netizen Korsel Lebih Pilih Han Ji Pyeong Dibanding Nam Do San"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)