Cerita Pendek

Mengusir Kerbau Bapak

Saharuddin Ronrong - detikHot
Sabtu, 03 Okt 2020 12:10 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Selama beberapa tahun ini, aku belum juga berhasil menaklukkan hati bapak. Hati itu terkunci dan berantakan karena lelaki tua yang kini keriput itu tak memperbolehkan siapapun masuk merapikannya, terlebih aku.

Kata orang, pikiran bapak telah bertukar. Ia tampak seperti orang gelisah sepanjang waktu. Yang dilakukannya hanya mengurus satu-satunya ternak yang dimiliki keluarga kami, seekor kerbau hitam besar yang diberi nama Labbu Tanru, artinya si panjang tanduk.

Pernah satu pagi di beranda rumah panggung kami yang dikepung angin dan tempias hujan permulaan, aku berkata pada bapak, "Pak, harga kerbau sekarang lagi naik. Apa tidak sebaiknya Labbu Tanru dijual, apalagi atap rumah sudah waktunya diganti, begitu juga kolong rumah yang perlu timbunan agar air tidak terus-menerus masuk."

Bapak tak menjawab, seketika lelaki kurus itu menerabas hujan, menggiring kerbaunya ke pematang sawah, merumput seharian. Padahal bapak sedang demam hari itu. Aku sangat menyesal menanyakan hal yang sudah aku tahu jawabannya, apalagi hujan semakin deras setelah itu. Bapak pulang pada perbatasan tipis antara petang dan malam dengan baju basah kuyub.

Beberapa hari kemudian, aku tahu bapak semakin demam. Aku mendekat hendak menghibur, tapi ia meludah dua kali ke pekarangan yang penuh air menggenang. Aku memandangi ludah itu, berpendar, lalu mengikuti aliran air ke kubangan entah.

Aku adalah anak tunggal yang dahulu konon sangat disayang oleh kedua orangtuaku, terutama bapak. Tapi setelah kedatangan Labbu Tanru, semua berubah.

Kerbau yang dibeli sangat tiba-tiba oleh bapak itu dari hasil memecahkan celengan ibu bertahun-tahun merenggut semuanya. Sejak saat itu anggota keluarga kami hitungannya empat, bapak, ibu, aku dan kerbau sialan itu.

Bahkan bagi bapak kerbau itu hitungannya bisa jadi dua, empat, delapan, delapan puluh, delapan juta, delapan miliar. Maka dalam keluarga kami yang mendapatkan perhatian lebih banyak dari bapak adalah Labbu Tanru.

Bapak lalu menatap lurus dan dingin ke arahku, bukan tatapan bapak kepada anaknya, tapi aku bergeming. Kami melalui momen-momen itu dengan terus diam.

Aku mengalihkan pandangan menatapi pohon randu di kejauhan yang diterpa hujan. Pohon itu meliuk-liuk dengan buah yang tak juga berwarna cokelat karena kurang paparan sinar matahari. Cabang-cabangnya yang panjang itu menjadi mudah patah karena angin, serta berat buah muda yang ranum memberatinya.

Hujan akhirnya mereda, bapak meninggalkan beranda sambil mendengus. Aku tahu, ibu menyaksikan semuanya tapi ia menolak terlibat, seperti biasa. Seperti setiap kali bapak berlaku kasar padaku, dia akan diam saja dan tak akan membelaku. Perempuan berparas ayu itu terbiasa diam beberapa tahun ini, terlebih pada momen-momen aku bertikai dengan bapak. Kadang aku tidak bisa membedakan apakah aku masih punya ibu atau tidak.

Semalaman aku hampir tak bisa tidur, memikirkan berbagai rencana. Pagi-pagi sekali dengan mata cekung karena kurang tidur, aku menuju kandang Labbu Tanru di samping rumah.

Mata kerbau itu awas tatkala melihatku mendekatinya, pengalamannya bertahun-tahun telah mengajarinya bahwa aku tak pernah menyukainya, pada beberapa kesempatan yang luput dari pengawasan bapak, tak jarang aku mengasarinya dengan cara mencambuk-cambuk badannya atau menarik tali yang dicokol ke hidungya dengan kasar.

Kandang Labbu Tanru yang kami sebut bara tedong berbentuk segi empat, hampir bujur sangkar. Di daerah kami tanah kandang akan digali sekitar setengah meter lalu sebagian tanahnya dimasukkan kembali untuk digenangi air hingga menjadi lumpur, untuk memagarinya biasanya digunakan kombinasi bilah-bilah bambu serta pagar hidup dari pohon-pohon perdu yang tidak terlalu besar. Kubangan lumpur itu selain membuat si kerbau nyaman juga untuk melindungi si kerbau dari gangguan nyamuk dan lalat hijau yang besar-besar.

Aroma lumpur mulai membuatku mual; bercampur dengan bau kotoran kerbau serta amis air seninya itu membuat kepala dan perutku tambah kacau. Tapi jika tak bergerak cepat, sebentar lagi bapak pasti datang membawa Labbu Tanru ke sungai untuk dimandikan lalu ke pematang sawah untuk merumput.

Aku buru-buru membuka pintu bara tedong yang terdiri dari beberapa batang bambu, balok dan seng bekas yang diletakkan saling memalang, dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara gaduh, lalu kulepaskan tali pengikat pada salah satu bilah bambu di pinggir kandang. Kerbau itu lalu kuusir keluar dengan menyodok-nyodok badannya dengan galah kecil.

Kerbau berbadan besar itu bergerak perlahan ke arah pintu kandang, begitu keluar kandang dia menggeliat, ekornya bergerak-gerak lincah kiri dan kanan, membuat lumpur di badannya terpercik ke mana-mana. Beberapa serangga yang mengerubungi sekitar hidung dan area telinga membuatnya terganggu dan semakin menggeliat kasar.

Kerbau itu rupanya bergerak sangat lambat, aku mencoba menyodok-nyodoknya lagi dengan galah yang kupakai tadi, lalu kucambuk dia menggunakan pelepah pisang yang sudah diambili daunnya. Kali ini berhasil, dia menggelinjang lalu berlari-lari kecil ke arah sawah belakang rumah. Aku tersenyum puas dan dengan mengendap-endap, aku kembali ke atas rumah melalui pintu belakang.

Aku masih sempat melanjutkan tidur dan terbangun saat kudengar bapak berteriak-teriak kesetanan mencari kerbaunya. Rupanya dia kesiangan. Semoga saja kerbau celaka itu sudah jauh perginya.

Saat mengintip lewat jendela samping kulihat beberapa tetangga ikut berkerumun sambil mengamati bara tedong yang kini kosong itu. Aku memilih tak mengurusi berita kehilangan Labbu Tanru.

Pagi itu juga bapak berangkat mencari kerbaunya hanya dengan berjalan kaki. Kudengar dia akan menyusuri sepanjang aliran sungai dan kalau perlu akan masuk ke kampung para penyamun, tempat yang biasanya kerbau curian disimpan sementara sebelum dijual, yang terkenal berbahaya. Meski aku agak khawatir, aku tak mencegah bapak pergi, apalagi berterus terang atas apa yang telah kulakukan.

Hingga menjelang magrib bapak tak kunjung pulang, dan karena ia pergi sendirian, maka tak ada informasi apapun yang bisa kami peroleh. Ibu diam saja di beranda depan. Wajahnya sedatar biasanya tapi aku bisa melihat dadanya kembang-kempis seperti sedang menahan sesuatu.

Aku yang bosan dengan keheningan itu mencoba membuka percakapan, "Bu, kenapa bapak sangat menyayangi kerbau itu, bahkan lebih sayang dari pada keluarganya sendiri?" Aku tak mendapatkan jawaban sama sekali. Perempuan lima puluh tahunan itu hanya memandang hampa ke arah pohon randu di kejauhan.

Ke mana bapak, apakah dia baik-baik saja, batinku, terbersit penyesalan dalam hatiku. Seharusnya aku tahu, bapak akan melakukan apapun demi mendapatkan kerbaunya kembali. Dan di petang menuju malam itu, aku mendoakan agar bapak pulang dengan selamat, hal yang sudah lama tidak kulakukan.

"Aku, akan menyusul bapak, Bu!" kataku.

Ibu terkesiap, "Tunggu saja, bapak pasti pulang. Dia tidak akan pernah bisa meninggalkanmu, Murni. Kamu adalah harta paling berharga di dunia ini bagi bapakmu," kata-kata itu mengalir dengan tenang dan jernih.

Aku terbahak mendengar kata-kata ibu, semoga aku tidak salah dengar. Mana mungkin lelaki yang selalu memperlakukanku dengan kasar selama ini justru menganggapku sebagai harta paling berharga baginya.

"Murni, saat kamu berusia sebelas tahun, bapak mendengar suara-suara dalam mimpinya yang menyuruhnya menyembelihmu persis seperti dulu Ibrahim diperintahkan menggorok leher Ismail," ibu menelan ludah dan melanjutkan kalimatnya, "berhari-hari bapakmu memikirkan itu hingga hampir gila dan hampir bunuh diri karena suara-suara itu terus datang setiap malam."

Mendengar itu sebenarnya aku tidak sepenuhnya percaya, lalu ibu melanjutkan ceritanya,

"Pada malam kesekian akhirnya suara lain datang, suara itu meminta ayahmu memelihara seekor kerbau untuk dibesarkan sebagai penggantimu saat nanti kamu berusia dua puluh tahun nanti," ibu berhenti sejenak.

"Sambil menunggu itu, menurut suara-suara misterius itu, kerbau itu harus kami perlakukan seperti anak sendiri, sebaliknya kamu harus diperlakukan layaknya orang lain. Kerbau itu jangan sampai mati atau hilang sebelum ritual penyembelihannya dilaksanakan."

Aku tercekat. "Bu, kenapa kalian sebegitu percayanya sama tahayul semacam itu. Bagaimana kalau itu hanya halusinasi bapak?" cecarku. "Betapa ruginya kalian telah memperlakukanku seperti ini selama bertahun-tahun," aku protes.

"Kami sudah pernah kehilangan satu kali, Murni. Jauh sebelum kamu lahir, saat itu kami pikir itu hanyalah suara iblis sesat, tapi apa yang terjadi? Ibu kehilangan janin yang sebulan lagi lahir ke dunia saat itu, kakakmu," ibu bersikukuh dengan pendapatnya.

Bapak tidak juga muncul menjelang malam. Aku menangis diam-diam di belakang ibu. Dan bapak memang tak pernah muncul lagi pada hari-hari berikutnya.

Kata orang, pikiran ibu telah bertukar. Ia tampak seperti orang gelisah sepanjang waktu. Yang dilakukannya hanya termenung memandang pohon randu di kejauhan yang buahnya tak juga berubah cokelat.

2020

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Viralnya Tangisan Wibu Dengar Rumor Naruto Meninggal"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)