Cerita Konservator Italia Restorasi Mahakarya Lee Man Fong

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 07 Agu 2020 14:26 WIB
Restorasi Mahakarya Lukisan Lee Man Fong di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta butuh waktu selama setahun.
Mahakarya Lee Man Fong dari tahun 1962 sukses direstorasi di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta Foto: Hotel Indonesia Kempinski Jakarta/ Istimewa
Jakarta -

Ahli konservator Italia, Michaela Anselmini, butuh waktu satu tahun lamanya untuk merestorasi mahakarya Lee Man Fong. Lukisan terbesar Lee Man Fong yang berjudul Margasatwa dan Puspita Indonesia ukuran 4 meter x 10,85 meter.

Lukisan Lee Man Fong dibuat pada 1961 atas permintaan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Bung Karno mengatakan ia memajang lukisan flora dan fauna yang ada di Indonesia.

Selama setahun pula, Lee Man Fong mengerjakan. Sayangnya lukisannya kerap berpindah tempat sampai menyebabkan beberapa bagian rusak dan cat warna memudar.

"Tadinya lukisan ini diletakkan di area restoran hotel. Orang-orang yang biasanya makan malam dan makan siang melihat lukisan yang mengagumkan ini. Ada banyak pesta juga di restoran tersebut," tutur Michaela Anselmini dalam webinar yang digelar Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, yang dihadiri oleh detikcom.

Restorasi Mahakarya Lukisan Lee Man Fong di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta butuh waktu selama setahun.Restorasi Mahakarya Lukisan Lee Man Fong di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta butuh waktu selama setahun. Foto: Hotel Indonesia Kempinski Jakarta/ Istimewa

Lukisan yang berada di dalam area restoran, lanjut dia, tidak bagus untuk kelembapan sebuah karya seni.

"Restoran tidak bagus untuk lukisan, manajemen hotel memutuskan untuk memindahkannya agar tidak banyak orang yang bisa menyentuhnya," lanjutnya.

Lee Man Fong membuat tiga panel raksasa untuk lukisan Margasatwa dan Puspita Indonesia. Panel pertama diisi oleh gambar binatang domestik, binatang air atau bawah laut, serta terakhir hewan liar.

Salah satu hewan yang digambar Lee Man Fong adalah babi rusa yang merupakan hewan endemik Indonesia dan berada di Sulawesi.

"Untuk menggambar itu, Lee Man Fong memutuskan untuk mengimpor hardboard dari Jerman, karena Indonesia tidak punya peralatan melukis yang memadai," ucap Michaela.

"Lee Rern (putra Lee Man Fong) menaruhnya di dalam air selama tiga minggu, lalu dikeluarkan, baru dijadikan material melukis," jelasnya.

Setelah 58 tahun berdiri, lukisan Lee Man Fong sukses direstorasi dan dikenalkan kepada publik lewat webinar. Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, senang dengan apresiasi Hotel Indonesia Kempinski Jakarta yang sukses merestorasi.

"Kita berharap ada satu atau dua lagi karya seni Indonesia bisa diselamatkan. Ini akhirnya pekerjaan raksasa yang akhirnya selesai, saya beruntung bisa melihatnya secara langsung, ini termasuk lukisan terbesar di dunia," kata Hilmar Farid.

"Semoga semakin banyak orang bisa menikmati karya akbar ini dan meningkatkan identitas dalam karya ini yaitu ke-Indonesia-an," tukasnya.



Simak Video "SuperM Tampil Gahar di 'One (Monster & Infinity)'"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)