Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo Populerkan Warisan Indonesia

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 06 Agu 2020 14:25 WIB
Pertunjukan Ketoprak Virtual Persembahan Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo
Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo warisan Tanah Air Foto: Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo/ Istimewa
Jakarta -

Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo yang berdiri sejak 2003 sukses mempopulerkan warisan Indonesia. Pagelaran tari persembahan paguyuban yang didirikan Luluk Sumiarso itu telah melanglang buana ke ranah internasional.

Luluk Sumiarso menceritakan awalnya paguyuban bernama Puspo Budoyo. Ia menyadari nama yang tampak sangat 'Jawa banget'.

"Karena kami diundang menampilkan tarian Jawa ke luar negeri. Ada Spanyol, Yunani, Vatikan, Barcelona, dan lain-lain. Akhirnya kita mulai melengkapi dari Aceh sampai Papua, nama Budaya Nusantara juga ditambahkan jadi Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo," kata Luluk Sumiarso, saat dihubungi detikcom.

Tugas dari Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo, lanjut dia, adalah melestarikan dan mengembangan warisan Indonesia kepada publik umum.

"Tarian ada juga yang diciptakan oleh tim kami, diolah jadi kolaborasi. Untuk melestarikan dan mewarisi seni tradisi Nusantara," ujarnya.

Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo bermula menampilkan seni tari, lalu kesenian campur sari yang dikembangkan dari grup Srimulat. Akhirnya bikin pagelaran dan mengajak tokoh-tokoh," tutur Luluk Sumiarso.

Pertunjukan Ketoprak Virtual Persembahan Rumah Budaya Nusantara Puspo BudoyoPertunjukan Ketoprak Virtual Persembahan Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo Foto: Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo/ Istimewa

"Akhirnya ketoprak, tontonan yang menengah ke bawah, karena tokoh-tokoh yang main jadi tontonan menengah ke atas. Kolega ikut nonton, keluarganya juga. Moto kami, kalau seniman profesional abis main dibayar, tokoh-tokoh abis main bayar," tutur Mantan Dirjen Terbarukan Kementrian ESDM ini sembara tertawa.

Cara itu dinilai ampuh menghadirkan pertunjukan ketoprak dengan cara yang berbeda. Luluk Sumiarso pun secara khusus ingin ketoprak bisa ditonton oleh siapa pun, bahkan sekelas orang yang tidak pernah naik ke atas panggung.

Menurutnya, lakon yang dimainkan menjadi luwes, dialog pun tidak harus berbahasa Jawa. Terkadang dialog yang dibawakan para pemain campur-campur bahasanya.

"Jadi koreografinya menyesuaikan. Bahasanya juga, ada Jawa, nuansa Betawi, Sunda, Jawa, Mandarin, ada tim koreografi dari kami juga. Kami pernah membawakan Lenong Betawi, Ludruk, dan sekarang Ketoprak," tukas Luluk.



Simak Video "Kuliner Legendaris Jakarta Sejak 1955, Ketoprak Ciragil "
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)