Cerita Pendek

Tulah

F. Ilham Satrio - detikHot
Minggu, 03 Mei 2020 11:33 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Kami hendak mengungsi kala itu, namun lewat penjuru mana pun kau mencoba keluar dari sini, kau hanya akan bertemu portal dengan tak kurang lima petugas berselempang karabin menyuruhmu kembali ke rumah. Sia-sia memang. Bukan berarti kami tak cari cara lain, hanya saja setelah enam bulan kami mencobanya, dalam kondisi seperti ini, satu-satunya jalan keluar memang kembali ke dalam.

Persis seperti fuku yang dialami Lola.

Syukur semua hal yang menyangkut perut sudah kami persiapkan. Meski ibu sempat cekcok dengan tetangga hanya untuk satu kilo tepung panir; bapak menendang bokong seseorang demi segalon minyak mesin generatornya; saya menyaksikan dari kejauhan sembari menyelipkan empat sabun batangan yang tergapai lengan ke balik jaket.

Ini semua tentang upaya kami di tengah pandemi. Sementara generasi baby boomer menjudulinya sebagai tulah, sebagai pagebluk, kami --yang hanya tersisa separuhnya saja dari apa yang Washington Post dengan menyesal pernah juduli sebagai milenial-- setengah mati menjaga kewarasan dan sejumput harapan yang tersisa ihwal hari esok yang lebih baik. Harapan yang, kupikir, makin mirip lotre bila disandingkan dengan papan putih pucat di batas kota: 234.987 terinfeksi; 8043 meninggal; 27 sembuh.

Apa yang kau dapat hari ini? Suara bapak dari kamar tamu, disusul gebrak pintu tertutup. Aku bawa gula, pasta gigi rasa jeruk, dan empat batang sabun. Sudah cukup dengan sabun! Bentaknya. Tapi ini kali terakhir, teman-temanku berjanji esok akan mereka sendiri yang mencomot sabun-sabun itu. Lagi pula aku dapat selai coklat. Ya. Baiklah. Bagaimana dengan ibu? Ia di dapur. Yap belum kembali. Kakakmu itu, kata bapak, terlalu pemurah di tengah keadaan sulit begini. Apa ia akan menukarkan satu ginjalnya untuk makan malam anak-anak panti asuhan?

Yap adalah yang paling sejati di antara kami. Sejak muatan ojek daring semakin berkurang, sementara kelayapan mencari penumpang sama dengan menyetor nyawa, Yap kini tersadar. Kau dapat menebak keberadaannya di tengah masa suram seperti ini. Pagi hari membantu dapur umum membuatkan sarapan; siang hari membantu paramedis; sore berada di pasar menyiapkan bahan panganan, dan di malam hari pukul sembilan ia masuk kamar mandi sambil bersenandung:

Country roads take me home, to the place I belong, West Virginia, mountain mama, take me home, country roads.

Bapak dan ibu segan merutuki kelakuan Yap di hadapannya. Mulanya bapak memuji tindakan Yap. Ibu bahkan rajin menengoknya di dapur umum. Tapi lama kelamaan mereka jengah. Entah karena sekembalinya ke rumah kakak sulungku itu hanya tinggal mendaratkan buritnya, memasukkan ke dalam perutnya segala yang tersaji di meja makan. Bapak dan ibu jengah, barangkali, oleh lusinan pujian di luaran sana yang mereka dengar tentang Yap. Seperti yang baru saja kudengar dari temanku, kakakmu terlihat memanggul mayat seorang diri ke arah tanah makam. Ia seperti nabi saja; ia dewa penyelamat. Kupikir itu pujian yang berlebihan. Dalam menanggulangi rasa bosan, umat manusia diberi dua pilihan. Berbuat hal-hal yang berguna bagi umatnya, atau tidak sama sekali.

Aku bersyukur dalam beberapa bulan ini hanya melihat batang hidung Yap saat kami makan malam. Sebelum pandemi, ia hanyalah kakak sulung yang di mana pun spesies itu berada, selalu memiliki ragam keunikan dan dapat membuat rahang guru matematikaku mengeras. Ia memiliki bakat alami layaknya pawang sirkus menjinakkan beruang madu. Ia mampu meyakinkanku bahwa bokongku memang layak untuk ia tendang. Dan kini, seolah-olah ia menyadari dengan lusinan bakat bawaan itu bukan berarti ia dapat melakukan hal-hal berguna dengan bakatnya.

Selalu ada harga yang harus dibayar, dan itu adalah suster Astika, tanpa pernah memberi diskon sepeser pun. Ia ditugaskan secara khusus oleh rumah sakit membantu penanganan pandemi di daerah kami. Ia baru saja lulus dari fakultas kedokteran ternama, menjalani magang, dan langsung diterjunkan ke medan perang. Tapi, ini bukan kisah seorang pemuda yang berhasil memenangi pujaan hatinya untuk lantas berkuda menuju matahari terbenam. Hei tolol, aku bukan sedang mendorong batu ke atas bukit untuk kugelindingkan lagi ke bawah sana, katanya suatu hari. Jadi kau menantangnya? Plak! Ia mengemplang kepalaku. Dengar bocah kecil, kelak kau akan belajar, yang sesungguhnya perempuan inginkan adalah tantangan. Seperti Anna Karenina? Ya, tapi tidak sekonservatif itu. Yap berlalu dan sesuatu dalam tempurung kepalaku terasa gatal. Tantangan macam apa yang dapat diarungi perempuan baik-baik macam suster Astika dari seorang Yap, yang telah menjuarai kontes ejakulasi di lusinan saluran peranakan perempuan baik-baik?

Bapak menghampiriku dan bersabda: Hari-hari berlalu dan orang-orang semakin dekat ke kematiannya masing-masing; ayo, tebak puisi siapa? Sambil melotot ke arahku --siapapun yang pernah berpapasan dengannya, sebagai anaknya, aku minta maaf bila di antara kalian ada yang merasa berdosa akibat tatapan bapakku itu, ia terlahir dengan kedua bola mata yang nyaris tak tertampung kelopak matanya --memaksaku untuk menjawab pertanyaan ceroboh itu. Puisi dari mana, Pak? Tanyaku. Ya puisilah, dari mana, ya dari penyair! Kupikir Maxim Gorky tidak sedang berpuisi saat menulis Ibunda. Oh, itu dari novel Ibunda? Bapak dapat dari Google he he he.

Kau tahu, di saat akses keluar kota ditutup rapat dan pandemi semakin menggila, kenyataan bahwa kau dikelilingi orang-orang semacam itu dapat membuatmu berpikir ulang tentang mengapa kita semua harus ada di dunia ini. Aku membayangkan suster Astika, apakah ia berpikir hal yang sama dengan yang dipikirkan Dr. Bernard Rieux? Apakah ia terbersit tentang peran yang dilakoni istri sang dokter buta saat wabah kebutaan melumpuhkan seisi kota? Apakah si Yap hanya memusatkan tujuan hidupnya pada semata urusan berkhalwat? Dan aku, apakah aku benar-benar menginginkan keadaan segera pulih seperti sedia kala, dan kembali ke sekolah, bertemu teman-teman yang membosankan, dikacungi Yap saban malam, dan untuk seribu tahun lagi, apakah aku benar-benar menginginkannya?

Enam bulan berlalu, sederet tenda darurat itu masih berdiri kokoh. Sesekali kain terpalnya bergemuruh ditingkahi angin, dan tetap di situ meski di pagi hari merelakan embun yang membaluri sekujur tubuhnya menguap ke arah matahari bertengger. Dari halaman rumah, tampak suster Astika sibuk hilir mudik dari tenda ke tenda. Permata, bila diletakkan di antara adukan semen, tetap saja sebagai permata yang mencuri perhatian siapapun. Hanya saja tak tampak Yap di antara mereka yang berpakaian rompi relawan. Sangat mudah untuk mencari Yap, kau tinggal mengganti perumpamaan 'permata' itu dengan, misalnya, kaleng sarden di antara tumpukan instalasi kaleng Warhol.

Kau tahu tentang Zafa, adik kecil? Tiba-tiba suara lembut membuatku terjengkang. Seperti semilir angin yang mengoyak telingamu, pelan dan sekejap berubah jadi beliung. Suster Astika tertawa di punggungku, tangan kirinya berada di perut menahan mulas sementara telapak jemari kanan di bibirnya. Sesekali tampak giginya yang mungil dan rapi. Bukan, bukan hal demikian yang membuatku terjengkang. Ia baru saja memanggilku dengan sebutan 'adik kecil' dan kurasa puting beliung menumbukku tepat di bagian itu.

Apa karena badanku kecil kau lantas memanggilku dengan sebutan yang hanya pantas diterima bocah ingusan? Sergahku. Ayolah, jangan marah begitu, kakak bercanda. Kau memang adik kecil, benar begitu? Kini ia duduk bersila. Sial, Yap membuatku seperti barang dagangannya, seolah meyakinkan suster Astika di hadapanku ini: Aku mengajarinya kebijaksanaan yang luhur. Siapa yang bilang begitu? Tanyaku. Siapa lagi kalau bukan Yap. Eh, begini, kini ia duduk mendekat. Kuhidu harum parfumnya yang silih susup dengan bau obat-obatan. Meski orang tua kita menganggap wabah ini sebagai tulah, kita harus tetap berpikir dan berjuang secara positif, tetap berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini, dan kapan pun itu, wabah ini pasti akan berakhir, ya kan?

Wahai suster Astika, apakah aku tampak seperti adik kecilmu dengan raut wajah depresif, yang diintai burung bangkai dari kejauhan, dan tinggal menanti moncong lokomotif menabraknya? Atau jangan-jangan, Yap berhasil mencuci otak suster belia ini, dan bila memang itu terjadi, rupanya pandemi membuat semua orang menjadi gila, termasuk suster Astika si permata di antara kaleng-kaleng sarden ini.

Lantunan Country Roads tiba-tiba terngiang di kepalaku, seolah ikut menertawai posisiku sekarang.

Begini, Sus, kataku, aku tahu Zafa, aku tahu fuku. Bukan berarti aku menyerah hanya karena tokoh favoritku, Oscar Wao yang malang itu, pada akhirnya mati mengenaskan dari kesia-siaannya selama ini. Lalu apa yang akan kau lakukan di saat-saat seperti ini? Tanyanya penasaran. Aku akan tetap ke swalayan, mengambil apa yang dapat kuambil; membaca buku-buku yang selama ini tak serius kubaca sampai selesai, menulis sebanyak aku perlu menulis, membantu bapak membawa jeriken, membantu ibu bila ia sedang ingin dibantu. Aku terdiam, memandang matanya. Ia melongo dengan kedua alis menyatu. Bibirnya yang tipis disepuh lipstik coklat tembakau muda menganga.

Baiklah, kau ini memang berbeda dengan kebanyakan seusiamu. Suatu hari, akan kuajak menumbuk serbuk di ruang obat. Bila kau tertarik, kau bisa menemuiku kapan pun. Jaga dirimu baik-baik. Ia menghambur memelukku dan pergi seperti tak pernah terjadi percakapan absurd ini. Aku hanya ingin bilang, jaga dirimu dari manusia kaleng sarden bernama Yap, tapi kuurungkan dan memilih kembali masuk ke rumah. Di balik jendela, kedua mata ibu dan bapak bersembunyi. Mereka kalang kabut saat kubuka pintu rumah. Ibu membaca buku yang tergeletak di meja -itu adalah buku ekonomi-politik yang bernas, dan aku percaya kini ibuku sudah hilang akal sehatnya-bapak lebih parah: push-up dengan kedua tangannya yang gemetar di hitungan pertama.

Dengan kemenangan Yap, cara suster Astika memperlakukan anak kecil ini, serta tingkah ibu dan bapak yang aneh itu, kukira fuku memang benar adanya. Hanya saja, memang aku masih urung memutuskan apakah kejadian seminggu setelahnya sebagai tulah atau sebatas teguran. Atau malah sudah seharusnya demikian? Hari itu adalah hari yang biasa saja, maka kau akan melihat relawan hilir mudik di depan tenda, dan suster Astika menenteng obat dari satu tenda ke tenda lain. Seolah-olah mereka ditakdirkan untuk mengulang-ulang sebuah de javu tanpa mereka sendiri sadari.

Baru di pagi buta aku terbangun, dan ibu menangis di sampingku. Kupejamkan kembali mataku namun ibu menamparku, Bangun! Ini bukan mimpi, apa kau tak dengar tentang kakakmu? Dengan lunglai aku terduduk, bila tidak menghamili anak orang, mabuk di muka umum, berkelahi gara-gara wanita, apalagi prestasi Yap yang boleh dibanggakan? Sedikit di ambang pintu berdiri suster Astika. Ia tersedu dengan mata yang sembab. Di luar tetangga berkerumun. Di kepalaku Country Roads mengalun dengan merdu.

Catatan

Fuku: semacam tulah yang membuat hidup Oscar Wao, tokoh dalam novel karya Junot Diaz, sekeluarga sial tujuh turunan. Kau tak ingin jenis tulah seperti ini menyambangi hidupmu, dan tiap kali kau mendengar namanya diucapkan, maka kau harus sesegera mungkin melafalkan doa apa saja yang kau hapal untuk menghapusnya dari pendengaran. Sedemikian hebat tulah itu, sampai-sampai menulisnya saja dilarang, meski aku sudah terlanjur menulisnya.

Tepung panir: bukan untuk membuat pisang goreng crispy. Tepung ini ibu gunakan sebagai tolak bala. Ia taburkan di sekeliling halaman, agar wabah tak masuk ke dalam dan menjangkiti para penghuni rumah.

Milenial: kata ini oleh para baby boomer dan gen x mereka ucapkan seperti sesuatu yang lazim dikais dan ditimbun kucing di pekarangan atau pot bunga. Sedemikian hebohnya, redaktur Washington Post sampai turun tangan membuat bagan pembenaran, sebagai permintaan maaf halus atas keteledoran bahasa.

Dr. Bernard Rieux: dokter yang menjadi dokter, yang tersohor saat wabah kolera melanda negerinya.

Wabah kebutaan: wabah ini disebut juga wabah putih. Hanya Jose Saramago yang mengetahui bagaimana mereka kembali sembuh, sementara istri sang dokter mendadak buta saat seluruh kota pulih dari wabah.

Zafa: kata ini diucapkan oleh Junot Diaz sendiri saat dirinya terlanjur menulis fuku. Karenanya, ia terselamatkan dari tulah tujuh turunan itu.

F. Ilham Satrio lahir di Cimahi, 1989



Simak Video "Nadin Amizah Minta Maaf soal Kontroversi Kaya dan Miskin"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)