detikHot

Cerita Pendek

Vanisse Meertruida dari Zoutlanden

Sabtu, 28 Mar 2020 11:21 WIB Edy Firmansyah - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Mata Joop Roeting membelalak saat menatap beberapa lembar foto yang dilemparkan Martin van Pagee, sahabatnya yang mantan fotografer De Patriot ke meja di ruang tamunya. Air mukanya berubah jadi sedih bercampur ngeri. Semakin banyak foto ia amati, mendung kesedihan makin dalam menyelimuti wajahnya.

"Gila! Mayat-mayat ini dibakar seperti babi guling," Joop Roeting membuat tanda salib setelah mengamati foto-foto itu. Beberapa foto memperlihatkan mayat-mayat ditumpuk sehingga membentuk gundukan dengan kobaran api yang besar.

"Ya. Kemudian para marinir dengan satu buldozer menggali sebuah lubang besar di depan masjid itu dan mempekerjapaksakan para pejuang yang ditangkapi dan ditahan untuk mengubur mayat-mayat yang notabene saudara mereka sendiri," tambah Martin van Pagee.

"Sadis! Tuan sendiri yang ambil?" tanya Roeting makin penasaran.

"Anne Lot Moek mengirim lewat pos dari Pamekasan. Salah satu wilayah di Zoutlanden. Kejadiannya minggu lalu, 16 Agustus. Dia sendiri mendapatkan foto-foto itu dari salah satu marinir Belanda yang berhasil memotretnya," ujar Martin.

"Siapa dia? Teman wartawanmu?"

"Aku juga tak tahu. Tapi ia terkenal sebagai informan. Sumber-sumbernya selalu valid," ujar Martin.

"Bukankah republik sudah merdeka? Lagi pula PBB memerintahkan gencatan senjata," kata Joop Roeting menyanggah.

"Ini soal garam, Joop," tukas Martin van Pagee. Ia kemudian menyerahkan selembar dokumen rahasia. Dengan kepala surat dari NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service). Isinya, Jenderal Spoor memerintahkan puluhan peleton untuk mendarat kembali ke Madura dan melakukan pengamanan dan penyelamatan terhadap industri garam secepat mungkin sebelum dikuasai para pejuang.

Joop Roeting tak meragukan pendapat Martin. Berdasarkan catatan Van der Kemp yang pernah ia baca menyebutkan Madura adalah zoutlanden. Tanah garam. Garam merupakan komunitas yang menguntungkan pemerintah Belanda. Berdasarkan catatan tersebut masing-masing wilayah di Madura (Pamekasan, Sampang, dan Sumenep) memiliki kompleks lahan garam yang luas. Sampang memiliki sekitar 1. 377 empang, Pamekasan memiliki 1.547 empang, dan Sumenep memiliki 1.648 empang. Jumlah tersebut sanggup menyalurkan garam sebanyak 12.480 pikul (1 pikul = 60 kg) dengan rincian 96.085 pikul di Malaka dan 30.340 pikul di Kalimantan dalam setahun.

Apalagi monopoli garam yang dilakukan VOC dan diteruskan Pemerintah Kolonial Belanda menjadikan Batavia sebagai pengekspor (memperdagangkan kembali) utama garam terutama ke Sumatera. Keuntungan yang di dapat semakin berlipat ketika kebijakan ini tidak memperbolehkan para pedagang garam swasta memasuki Sumatera. Jadi wajar jika jenderal Spoor bersikas menduduki Madura kembali.

Selain laba dari perdagangan itu bisa untuk membantu biaya perang, juga dimungkinkan untuk memperkaya diri sendiri. Bukankah sudah jadi umum kebanyakan pejabat kolonial korup?

"Sepertinya aku harus ke sana!"

"Jangan sekarang. Pertempuran sedang berlangsung di beberapa daerah pasca serangan di Masjid Syuhada. Terlalu berbahaya. Selama satu bulan tentara Belanda mengadakan gerakan pembersihan di sekitar Bangkalan. Memburu para pemberontak. Perang. Belanda juga membakar gudang beras di Arosbaya untuk melemahkan perlawanan. Kau bisa celaka jika memaksakan diri."

"Aku mengkhawatirkan Meetje."

"Siapa? Vanisse Meertruida?" tanya Martin setengah heran.

Joop Roeting mengangguk menjawab pertanyaan Martin.

"Kau masih mencintainya, Joop? Hahaha...pantas kau tak juga menikah. Rupanya kau menunggu pelacur itu," ledek Martin.

"Jaga mulutmu, Martin!" teriak Joop Roeting.

Pelacur? Meertje bukan pelacur. Ia hanya korban perang. Joop mengenang pertemuan pertamanya dengan Vanisse Meertruida. Ia bertemu perempuan itu di kamp internir di Surabaya, tak lama setelah pengumuman resmi takluknya Jepang kepada Sekutu. Ia perempuan yang keras. Waktu itu tubuhnya begitu kurus.

Kepalanya botak. Tapi itu semua tak mampu menutupi kecantikannya. Juga ketangguhannya. Perempuan Eropa kelahiran Semarang, Jawa Tengah. Anak semata wayang dari pasangan suami istri yang berprofesi sebagai musisi.

"Aku akan terus hidup selamanya," ujarnya berkelekar ketika aku menghampirinya pertama kali sambil membantu mengangkat salah satu kopernya. Ia memutuskan tak ikut menaiki truk menuju penampungan berikutnya. Sebelum kemudian diangkut ke Belanda. Ia memutuskan pergi ke Madura. "Aku akan menjadi petugas palang merah," lanjutnya sambil tersenyum. Senyumnya! Lesung pipitnya membuat Joop Roeting terbius. Indah dan memesona.

Dalam perjalanan menemaninya ke pelabuhan tanjung perak itulah Meetje bercerita soal deritanya. Dia dipilih bersama sembilan perempuan Eropa lainnya. Bukan untuk dibebaskan. Tetapi menjadi comfort women. Perempuan-perempuan Eropa yang dipaksa menjadi budak seks perwira-perwira Jepang. Dia menceritakan semuanya dengan tenang. Mula-mula Joop ragu atas semuanya kisahnya.

"Tulis ini kalau kau berani," ujar Meetje sambil menyerahkan selebaran-selebaran pencarian lowongan kerja untuk Jepang yang ditandatangani banyak penguasa lokal di Jawa Timur. Termasuk daftar nama perempuan Eropa dan pribumi yang menjadi budak seks Jepang. "Semua tahu kalau mereka tidak pernah dipekerjakan sebagaimana tercantum dalam lowongan itu. Melainkan dipaksa jadi pelacur."

"Dari mana Nona dapat ini semua?" teriak Joop saat Meetje melompat ke kapal menuju Madura.

"Selidiki sendiri! O, ya, panggil aku Meetje. Aku akan berkirim surat," balas Meetje sambil melambai. Kapal menjauh dari pelabuhan.

Joop Roeting membuat laporan berdasarkan catatan harian milik Meetje dan beberapa dokumen yang ada. Sulit mencari dokumen mengenai kejahatan perang di tengah peralihan kekuasaan. Tapi Wijkman, redakturnya di De Republiken menggeleng.

"Aku tahu kau wartawan yang punya reputasi gemilang, Joop. Tapi berita ini, berdasarkan satu narasumber sungguh tak bisa dibenarkan. Mungkin menarik. Tapi bisa bikin rumit di tengah peralihan kekuasaan ini. Aku tak akan memuatnya," kata Wijkman. Setelah berkata demikian ia meninggalkan Joop sendirian di ruang rapat redaksi.

Sementara surat Meetje yang pertama dan mungkin yang terakhir datang dengan kalimat yang pendek tertanggal 22 April 1947: aku tinggal di samping rumah sakit Pamekasan, Sedangdang. Dan aku akan hidup selamanya. Di belakang surat terlampir sebuah foto Meetje. Rambutnya kini tumbuh. Aura kecantikannya makin terang. Rindu menyergap dada Joop seperti asma.

***

Joop terjaga saat Ford tua yang ditumpanginya melindas lubang cukup besar. Sarkoni, sopirnya, terlihat tegang mengendalikan kemudi. Joop menguap. Angin menyapu wajahnya yang memerah.

"Sampai di mana kita, Koni?" Joop membuka pembicaraan.

"Branta, Tuan. Beberapa menit lagi kita tiba di Pamekasan," ujar Sarkoni sambil terus menatap jalanan.

Joop menarik napas panjang. Menghirup lagi angin gending (angin pegunungan menuju laut). Ini kali pertama Joop datang ke Madura. Tubuhnya mulai terasa gatal karena cuaca begitu panas dan membuat kulitnya yang pucat gampang sekali berkeringat.

Memasuki kampung Patemon, menjelang spoorstation Pamekasan, mobil yang dikendarai Sarkoni melambat. Sebelum akhirnya berhenti di depan barikade bambu. Tampak dua orang penjaga bersenjata clurit, berselempang sarung, dan berikat kepala kain berwarna merah putih mendekat. Satu di antaranya menggebrak kap mobil. Beberapa saat kemudian puluhan orang telah mengepung mobil. Keluar dari balik persawahan.

"Turun!" salah seorang berkulit gelap, berambut gondrong dengan kumis melintang dan codet di pipi kanannya berteriak sambil menodongkan pistol ke kening Sarkoni.

Joop Roeting dan Sarkoni turun. Beberapa orang menggeledah keduanya. Dari saku Joop, penggeledah mengambil sebungkus rokok Mascot yang tinggal lima batang.

"Tujuan?" Tanya yang berambut gondrong dengan codet di pipi kanannya. Nada suaranya mengancam. Sepertinya ia pemimpinnya.

"Sedangdang. Samping rumah sakit," ujar Sarkoni cepat.

"Aku tak tanya kau, patek!" sergah si gondrong sambil memukul kepala Sarkoni dengan gagang pistol. "Bukannya berjuang, kau malah membantu penjajah."

"Dia tak bisa Indonesia. Asli Belanda. Seorang wartawan," kata Sarkoni berbohong.

"Mau wartawan, mau tentara. Semua Belanda sama saja," si Gondrong memukul Sarkoni lagi. "Kasih jalan mereka," teriak si Gondrong memberi perintah. Barikade dibuka. Joop dan Sarkoni bergegas masuk mobil. Melanjutkan perjalanan.

"Kamu tak apa-apa, Koni?" Joop membuka pembicaraan setelah mobil melaju sepelemparan batu.

"Tak apa-apa, Tuan. Hanya para berandalan yang memancing di air keruh revolusi," ujar Sarkoni.

Joop terdiam. Mobil menikung tajam. Memasuki jalan sempit. Kemudian berhenti.

"Samping rumah sakit. Rumah bercat kuning dengan dua pot bunga tulip di dua sisi pintu pagar, betul itu, Tuan?" Sarkoni menunjuk rumah di seberang jalan. Rumah itu dipenuhi marinir Belanda. Joop mengangguk. Kemudian bergegas turun.

"Tunggu di sini, Koni," teriak Joop sambil menyeberang.

Joop menembus kerumuman marinir. Masuk ke ruang tamu. Sepertinya penggeledahan, batin Joop. Kursi dan meja berantakan. Buku-buku dan kertas-kertas berserakan di ruang tamu. Sebuah foto menggantung miring di dinding. Foto Meetje. Ada bekas tembakan senapan mesin di dinding. Seorang tentara mendekati Joop.

"Apa yang terjadi, Letnan...Varaney?" tanya Joop sambil melirik nama dada tentara itu.

"Ada informasi rumah ini tempat berkumpul para pejuang. Rumah perempuan Eropa. Kami menggeledahnya. Ternyata sudah kosong. Penghuninya lari," ujar Varaney.

"Rumah Meetje, betul?"

"Anda kenal? Kebetulan sekali. Ada banyak hal yang ingin kami mintai keterangan mengenai dia. Namanya memang Meetje. Vanisse Meertruida. Nama lainnya Anne Lot Moek. Seorang Johobu. Intelijen Jepang. Ia mensuplai informasi-informasi penting pada para ekstrimis. Seorang pengkhinat," ujar Varaney.

Pengkhianat? Joop membatin. Sebab Joop menganggap Meetje seorang pejuang. Tapi pertanyaan-pertanyaan lain tentang Meetje menggunung di kepala Joop. Juga rindu. Meetje, di manakah kau?

Edy Firmansyah penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit berjudul Selaput Dara Lastri (IBC, Oktober 2010)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com