detikHot

Cerita Pendek

Elia, Gereja, Cinta, dan Kekasihnya

Sabtu, 08 Feb 2020 11:18 WIB Radja Sinaga - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Kebenaran adalah penawar paling menyakitkan. Setelah lebih empat tahun, di sana akhir Elia untuk menutupi baunya. Seharusnya ia tahu waktu akan memaksanya untuk mengungkapkan ini semua. Namun cinta kerap kali membodohi dan hal itu seolah takdir yang tidak mampu terelakkan.

"Tuhan adalah maha percobaan," kata kekasih Elia kepadanya di suatu Sabtu yang biasa di bangku taman tengah kota.

"Tapi orang-orang tanpa sadar bersikeras melebihi Tuhan," balas Elia yang berbicara seraya menatap burung-burung terbang pulang.

"Dan orang-orang bersikeras menjadi hal itu."

Kemudian Elia dan kekasihnya tertawa. Tertawa dalam tekanan. Hingga angin menjatuhkan harapan bahwa esok adalah hari yang akan makin membuat runyam.

Elia berpamitan kepada kekasihnya. Kekasihnya membiarkan Elia beranjak dan kekasihnya tahu, mengantarkan Elia sebuah petaka. Tidak lama punggungnya menghilang di balik keramaian malam hari Sabtu. Waktu memang masih menyisakan kesempatan baginya untuk berlama-lama dengan kekasihnya malam ini. Tetapi kedatangannya bukan menghabiskan waktu bersama. Sebab setelah kebenaran itu tak mampu dijaganya lebih lama, kebersamaan merupakan pisau bermata dua.

***

Maksud menunjukkan calon suaminya di depan keluarga-karena kerap ditanya kapan akan menyusul saudara-saudara kandungnya yang lain dan terlebih usia orangtuanya yang rentan-ternyata tak semudah seperti yang ia harapkan. Ketika menghadiri pernikahan kakaknya bersama kekasihnya, ia sadar bahwa pernikahan adalah kesialan. Seperti tebing yang curam dengan curah hujan yang mencekam.

Orang-orang melihat Elia dan kekasihnya seperti melihat orang yang tengah melakukan perbuatan tercela. Bisik-bisik mulai mengudara. Sorot mata yang tajam tidak henti-henti bersarang pada Elia dan kekasihnya. Dan puncak yang paling merajam ketika orang-orang menyinggung posisi ayahnya.

Mulanya saat kekasihnya meminta masakan yang dang margota [1]. Tentu perbedaan adalah keset kaki di atas meja makan. Keluarganya yang menyaksikan tergidik. Bagi keluarga Elia masakan margota [2] adalah sebuah kewajiban dalam pesta pernikahan adat Batak. Ibarat arsik [3] tanpa andaliman, begitulah orang-orang mengatakan. Masakan seperti itu merupakan puncak dari sebuah pernikahan.

Namun ketika parhobas [4] datang kembali dan mengatakan bahwa masakan kekasih Elia minta telah habis, raut menyesal coba ditahannya. Dengan terpaksa kekasih Elia memakan makanan yang ada. Bagi kekasih Elia, ini merupakan penghinaan besar terhadap lidah. Tapi demi menghargai Elia, ia coba tandaskan jatah yang telah diberi.

Hidung kekasih Elia mati rasa ketika aroma makanan menyeruak. Lidahnya tertusuk-tusuk. Tenggorokan bergejolak. Dan makanan yang sempat ia telan keluar kembali.

***

"Kau tahu kan, Elia, saya ini di gereja memegang posisi apa?" kata ayahnya setelah seminggu pesta pernikahan kakak keduanya berlalu.

"Kau tahu juga kan, apa yang terjadi pada kakakmu yang pertama? Cukup sudah satu kali itu saya dibuat malu. Anakku direbut orang. Hilang dari genggamanku. Jika kau masih mau menikah dengannya ajaklah ia ikut dengan kita. Saya akan membantu."

"Dan jika kau ikut dengannya, habislah harga diri saya sudah."

Elia hanya menatap ayahnya dengan pandangan tidak jelas. Pikirannya adalah pohon dengan rantingnya yang bercabang-cabang.

***

Tidak seperti kebanyakan anak muda yang kelak akan menikah. Masalah-masalah remeh seperti pekerjaannya apa, apakah kedua orangtuanya masih hidup, apa pendidikan terakhirnya, dan sebagainya merupakan ketentuan kekanak-kanakan. Dulu Elia pernah berhubungan dengan lelaki yang beda agama. Ia ingat cinta pertamanya, namun ia tahu sekuat apa cintanya akan kalah dengan kehendak orangtua. Maka dua tahun berselang, ia temukan orang yang tepat. Orang yang tidak lagi terbentur bila ditanya soal tetek-bengek agama.

"Kemarin ayah berpesan mengapa kau tak pernah lagi datang?"

"Aku masih belum menemukan jawaban yang tepat bila ayahmu bertanya."

"Tinggal ikut saja apa yang dikatakan ayah."

Elia menatap mata kekasihnya, tidak ada jawaban di sana, bahkan bibir kekasihnya membeku. Berbicara saat ini lebih sulit ketimbang berjalan seperti diafragmanya diciptakan bukan untuk menghasilkan bunyi; pita suaranya kehilangan gema. Elia tahu semua memiliki kebenaran atas diri sendiri, namun adakah keselamatan dalam kebenaran? Kekasihnya tidak mempermasalahkan hal-hal seperti ini. Kekasihnya hanya tidak tega harus menyakiti ibunya karena keegoisan.

Setelah ayah kekasihnya meninggal tujuh tahun lalu, kekasihnya Elia satu-satunya yang dapat mengobati kesepian ibunya. Kekasihnya ingat bahwa kesepian berdampak negatif bagi kesehatan, sama seperti mengisap 15 batang rokok sehari [5]. Sedari kecil keluarga mereka telah lama menjadi jemaat Karismatik. Kekasihnya ingat kenapa mereka menjadi jemaat Karismatik, waktu itu kakeknya sakit keras dan dipanggillah pendeta dari gereja Karismatik untuk mendoakan kakeknya. Lambat laun penyakit kakeknya yang menahun membaik.

Sebagaimana dalam agama tentu ada golongan-golongan. Dan setiap golongan mempunyai peraturan, mempunyai kebijakan yang seolah-olah sahih dan mau menang sendiri. Golongan Elia adalah golongan yang memberi adat dalam kedudukan yang semestinya.

Namun hal itu berbeda jauh dengan kekasih Elia. Golongan kekasihnya begitu tertutup dengan adat dan budaya. Seperti pesta pernikahan kakak Elia yang menggunakan ulos [6] dan makanan margota yang harus ada. Hal-hal tersebut tentulah pantangan bagi kekasihnya.

Ketika kekasihnya membayangkan mengenai jawaban ibunya saat ia ingin pindah status jemaat, tentulah sangat menakutkan.

"Semuanya sama aja itu," ketus ibunya.

"Tapi...."

"Sudah kubilang itu semua aja! Kau lelaki kan? Jangan mau di bawah ketiak wanita! Ajak ia masuk menjadi jemaat seperti kita! Tunjukkan dirimu lelaki!"

Setelah itu telah dipastikan, berhari-hari mereka akan memilih berdiam diri. Dan kadang kalah rumah lebih menyeramkan ketimbang kuburan.

***

"Kau tahu pastinya kalau ayahku sintua [7]?"

"Kau tahu juga pastinya ibuku pengingat yang baik?"

Elia menundukkan kepala. Mengapa peraturan gereja selalu menjadi tembok besar bagi cintanya. Elia mulai bertanya-tanya hingga akal gila menghantui. Adakah mulai tumbuh benih benci di hati?

Tas Elia bergetar. Ia melihat sebentar, telepon masuk dari ayahnya.

"Ya, aku di luar, sebentar lagi akan pulang."

Telepon tertutup. Elia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Lampu-lampu taman dihidupkan. Bangunan besar di sekitar taman mulai memancarkan cahaya. Malam boleh tiba tapi kota akan tetap bercahaya.

"Jika akhirnya kita tidak jadi menikah dan kita tidak lagi bisa bersama, bagaimana?"

"Aku tidak akan pernah menghendakinya."

"Maksudmu?"

"Malam akan datang. Pulanglah, kau tadi telah berjanji pada ayahmu."

Kemudian Elia merengkuhkan tubuhnya kepada kekasihnya. Dan Elia dekatkan bibirnya yang semula kering menjadi basah. Hingga angin menjatuhkan harapan bahwa esok adalah hari yang akan makin membuat runyam.

Elia berpamitan kepada kekasihnya. Kekasihnya membiarkan Elia beranjak dan kekasihnya tahu, mengantarkan Elia sebuah petaka. Tidak lama punggungnya menghilang di balik keramaian malam hari Sabtu. Waktu memang masih menyisakan kesempatan baginya untuk berlama-lama dengan kekasihnya malam ini. Tetapi kedatangannya bukan menghabiskan waktu bersama. Sebab setelah kebenaran itu tak mampu dijaganya lebih lama, kebersamaan merupakan pisau bermata dua.

Siborong-borong

Catatan:
[1] masakan yang tidak dicampur atau dimasak dengan darah.
[2] kebalikan poin pertama.
[3] masakan daerah dari Tapanuli.
[4] sebutan kepada orang yang melayani atau bekerja membantu di acara pesta adat.
[5] penelitian Holt-Lunstad, Smith and Layton (2010).
[6] kain tenun tradisional masyarakat Batak.
[7] majelis gereja.

Radja Sinaga mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas HKBP Nommensen Medan. Salah satu cerpennya terhimpun dalam antologi bersama Lantai Dua Balai Bahasa Sumatera Utara (2019)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com