detikHot

Cerita Pendek

Aroma

Sabtu, 05 Okt 2019 11:42 WIB Dody Wardy Manalu - detikHot
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Masdar terbangun dari tidur. Hidungnya kembang-kempis serupa pantat ayam. Lehernya dijulurkan ke depan, lobang hidungnya makin membesar mencari sumber aroma. Perutnya keroncongan mencium aroma itu. Sangat yakin, aroma itu pasti aroma ikan gurame digulai pakai kecombrang. Namun ada bumbu lain tidak ia ketahui namanya dicampur dalam gulai membuat aromanya sangat harum.

Masdar turun dari ranjang, keluar kamar sembari membaui udara. Ia berjalan menuju dapur, membuka tudung saji, siapa tahu istrinya diam-diam bangun, masak enak, lalu tidur lagi. Hanya ada tempe goreng sisa lauk tadi malam. Terlalu berharap ada makanan enak dalam tudung. Masakan istrinya belum pernah enak selama delapan tahun mereka berumah tangga. Miduk hanya tahu menggoreng dan merebus sayur. Ikan atau tempe gorengnya lebih sering gosong. Sayurnya kematangan hingga berubah warna mirip daun talas direbus untuk makanan babi.

Aroma gulai makin menyiksa hidung Masdar. Sepertinya aroma itu berasal dari balik pintu belakang. Ia membuka pintu. Aroma semakin dekat ke hidungnya. Ia melangkah ke sebelah kandang ayam, melintasi kebun singkong, melewati kolam ikan dan tiba di dekat jendela dapur Pak Mahidin. Ternyata aroma itu berasal dari sana. Masdar sembunyi di balik pohon nangka sebelum istri Pak Mahidin menyadari kehadirannya.

Gulai ikan masakan istri Pak Mahidin sudah matang. Air liur Masdar hampir menetes melihat ikan gulai disendok ke dalam rantang. Selesai sudah ia memasak. Ia mencuci kuali, mengelap pinggiran kompor, mengembalikan pisau dan sendok ke tempatnya, lalu menutup jendela. Masdar pulang dengan perut keroncongan. Ia bertanya-tanya, dari mana istri Pak Mahidin belajar memasak. Mereka sudah bertetangga lama, baru kali ini masakannya sangat harum menggugah selera. Masdar masuk rumah. Ia mendapati Miduk sedang memotong kacang panjang. Di atas meja, dua siung bawang merah siap untuk diiris. Pasti mau direbus lagi. Selera makan Masdar langsung hilang.

***

Masdar jadi punya kebiasaan baru. Ia sangat rajin bangun pagi, lalu membuka jendela dapur dan berdiri di sana. Aroma masakan dari dapur Pak Mahidin mampu mengalahkan rasa ngantuk. Ia menghirup udara beraroma bumbu hingga mata terpejam. Sore hari, sesibuk apa pun Masdar di kebun, seseru apa pun pokok pembicaraan di warung kopi, bila sekira istri Pak Mahidin sebentar lagi akan memasak, Masdar buru-buru pulang. Tak seorang pun mampu menghalangi. Ia berdiri di mulut jendela dapur sambil mencium udara beraroma bumbu.

Selama ini, bagaimanapun masakan Miduk, Masdar tidak pernah komentar. Masih bersyukur istrinya mau masak meski tidak enak. Sewaktu gadis, Miduk tidak pernah bekerja di dapur. Semua masakan yang terhidang di meja adalah masakan ibunya. "Kalau istri mesti memasak, lalu apa guna pembantu?" ujar Miduk kala itu, saat sang ibu meminta dirinya belajar memasak. Namun nasib berkata lain. Ia berjodoh dengan laki-laki sederhana yang tidak mampu membayar pembantu. Miduk terpaksa bekerja sendiri di dapur menyiapkan makanan pagi dan sore.

Sejak terbiasa dengan aroma dari dapur tetangga, Masdar mulai berani mengkritik masakan Miduk: Kurang garam, sangat pedas, bawangnya gosong, terlalu berminyak, demikian kritikan-kritikan Masdar. Pagi ini, Masdar mengajak Miduk ikut berdiri di mulut jendela. Mereka bersama-sama membaui udara. Berharap, Miduk mau memasak makanan beraroma harum seperti yang mereka hirup. Masdar dan Miduk menebak bumbu apa terkandung dalam masakan isteri Pak Mahidin.

"Ini aroma ketumbar," ujar Masdar. Matanya terpejam menikmati aroma harum yang ia hirup.

"Bukan! Ini aroma buah pala," Miduk membantah.

"Dari mana kamu tahu? Selama ini kamu hanya tahu menggoreng dan merebus. Aroma cabai dan bawang gosong yang biasa kamu cium," ujar Masdar.

"Bukankah tempe goreng dan sayur rebus menu kesukaanmu?"

"Meski aku menyukainya, kalau itu terus-terusan akan bosan juga."

"Berarti kamu juga bosan denganku."

"Mengapa kamu berkata begitu."

"Aku temanmu tidur setiap malam. Apa kamu bosan dengan tubuhku?"

Masdar mematung. Pertanyaan Miduk membuatnya bingung. Apa betul, ia sudah bosan dengan istrinya? Miduk menangis melihat kebimbangan di wajah Masdar. Ia tinggalkan jendela dan mengurung diri di kamar. Miduk takut bila Masdar meninggalkannya.

***

Diam-diam, Miduk ikut membaui udara ketika istri Pak Mahidin bekerja di dapur. Menebak menu apa yang tengah dimasak. Mencatat kira-kira bumbu apa saja dalam masakannya. Selain membaui udara beraroma bumbu, Miduk juga membeli buku-buku resep. Ia mempelajarinya saat sendirian di rumah. Bahkan mencari informasi bagaimana cara istri Pak Mahidin bisa pintar masak. Miduk malu untuk bertanya langsung. Akhirnya, ia membayar seseorang untuk menyelidiki. Informasi yang Miduk dapat, istri Pak Mahidin belajar masak pada Mpok Darmi penjual gado-gado simpang jalan dekat sekolah dasar.

Mpok Darmi terkenal pintar masak. Namun jarang sekali orang mau belajar masak padanya. Kabar berembus, para ibu yang belajar masak pada Mpok Darmi adalah mereka yang mau selingkuh: "Bila kamu ingin selingkuh, puaskan dulu lidah suamimu. Ia akan makan dengan lahap di rumah. Dan kamu bisa bebas melakukan apa saja di luar. Bukankah tugasmu di rumah sudah selesai?" Demikian perkataan Mpok Darmi ke setiap orang yang belajar masak padanya.

Bagi Miduk, tidak mesti memuaskan lidah suami kalau ingin berselingkuh. Cukup bersandiwara di hadapan suami seakan semuanya baik-baik saja. Miduk tidak mau mengikuti cara istri Pak Mahidin untuk menjinakkan suami. Lebih baik belajar sendiri dari buku-buku resep yang ia beli. Lagi pula, ia belajar masak agar Masdar memuji masakannya. Bukan untuk berselingkuh.

Masdar terkejut saat pertama kali melihat menu selain tempe goreng dan sayur rebus terhidang di atas meja.

"Itu gulai ikan gurame bumbu kecombrang," ujar Miduk saat Masdar membuka tudung saji dengan raut keheranan. Masdar mencicipi gulai ikan buatan istrinya. Rasanya lumayan enak. Namun aromanya berbeda dengan aroma masakan istri Pak Mahidin. Masdar mengambil piring, mengisinya dengan nasi menggunung, lalu menyendok dua potong ikan gurame. Ia makan dengan lahap. Miduk tidak sanggup melihat kebohongan pada wajah Masdar. Suaminya hanya pura-pura makan lahap. Lagi-lagi, ia gagal menduplikasi masakan istri Pak Mahidin.

Miduk menangisi ranjang tanpa sosok Masdar di sampingnya. Tidak perlu capek mencari Masdar. Ia pasti berada di mulut jendela menatap ke arah dapur tetangga. Bila istri Pak Mahidin terlambat bangun, Masdar sabar menunggu sampai jendela itu terbuka menghantarkan aroma ke hidungnya. Semakin hari, kegilaan Masdar pada aroma itu makin menjadi. Dulu, Masdar pura-pura lahap makan masakan istrinya. Kini, ia tak malu lagi mengakui bahwa masakan Miduk tak ada apa-apanya dibanding masakan istri Pak Mahidin.

"Semua makanan di pesta Pak Haji Hanung dimasak oleh istri Pak Mahidin. Sangat lezat. Aku tiga kali tambah," ujar Masdar saat Miduk menghampirinya ke jendela. Hati Miduk remuk meski Masdar berbicara sambil tertawa. Ia berdiri di samping Masdar, menatap lurus ke jendela tetangga masih tertutup rapat.

Beberapa bulan ini, aroma dari balik jendela itu telah merusak rumah tangganya.
Tiba-tiba jendela dapur Pak Mahidin terbuka. Daun jendela dibanting begitu keras pada dinding. Masdar dan Miduk terkejut melihat Pak Mahidin mencekik leher istrinya.

"Sudah aku bilang tidak suka gulai. Kamu ingin kolestrolku naik? Aku ingin makanan rebus, tapi tidak pernah kamu turuti."

Pak Mahidin melepaskan tangan dari leher istrinya. Ia menatap kuali di atas kompor. Ditendangnya kuali itu. Isinya tumpah. Miduk menjadi tidak percaya pada mantra Mpok Darmi untuk melengketkan suami. Buktinya, Pak Mahidin marah-marah pada istrinya.

Masdar geram melihat perempuan jago masak itu disakiti. Andai ia ada di sana, akan ia hajar wajah Pak Mahidin. Dasar suami idiot! Para suami di dunia ini pasti mendambakan istri jago masak. Kecuali Pak Mahidin. Sementara, Miduk senang melihat kejadian itu. Semoga istri Pak Mahidin berhenti memasak. Masdar akan meninggalkan jendela berhenti mencari aroma.

***

Istri Pak Mahidin masih tetap masak gulai ikan dan Masdar makin lengket di jendela setiap pagi dan sore. Miduk tidak lagi peduli pada Masdar yang kecanduan aroma itu. Ia berhenti belajar memasak. Kembali pada masakan andalannya terdahulu: Tempe goreng dan sayur rebus.

"Sayur rebus lagi?" ujar Masdar begitu membuka tudung saji pagi ini.

"Itu bukan untukmu."

Masdar mengernyitkan kening. Lantas untuk siapa sayur rebus itu?

"Pak Mahidin minta tolong agar aku masak makanannya setiap hari. Aku buka katering khusus untuknya."

Masdar terperanjat. Ia dekatkan hidung pada tudung saji. Sayur rebus itu mengeluarkan aroma perselingkuhan.

Dody Wardy Manalu lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menghabiskan masa remaja di Sibolga. Karya fiksinya dimuat di sejumlah media

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com