detikHot

Cerita Pendek

Carlos

Sabtu, 24 Agu 2019 11:15 WIB Armin Bell - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Tiga pastor dibunuh di Gereja Ave Maria di Cova Lima pada tahun 1999. Saya sedang memeriksa catatan-catatan tentang peristiwa itu ketika Carlos bicara lagi. Saya tidak suka tetapi tak punya pilihan lain. Kami sedang di udara, terbang dari Tambolaka menuju Kupang, duduk sederet.

"Itu Rote," katanya sambil menunjuk ke arah kanan.

Saya beringsut, melongok keluar. Carlos merapat ke sandaran kursi. Ada senyum di wajahnya. Mungkin merasa telah berhasil membuatku mengagumi tempat asalnya itu. Pulau Rote, Selat Pukuafu, dan pasir putih di sepanjang garis pantai. Juga tentang kunjungan presiden ke pulau mereka belum lama ini.

"Presiden pernah cuci muka di Nemberala," ceritanya tadi dengan ceria. Begitu cerianya sehingga bagiku justru terdengar seperti pertanyaan: sudah berapa presiden cuci muka di tempatmu?

Karena itulah saya menjadi tak berminat bercakap-cakap dengannya-apa pentingnya seorang presiden berkunjung? Tetapi kami sedang di udara dan Carlos, teman sederetan itu, sepertinya tak suka keheningan.

Pramugari datang. Menawarkan beberapa pilihan minuman. "Tidak ada kopi pada penerbangan jarak pendek," jelasnya menjawab permintaanku. Carlos tertawa kecil. "Orang Manggarai tidak bisa tidak minum kopi?" tanyanya setelah pramugari berlalu.

Saya pikir saya semakin tak menyukainya dan berharap dapat menelan kemarahan dengan menyeruput sirup sampai habis tanpa jeda. Suara pilot terdengar di pengeras suara. Mengatakan sesuatu. Atau menggumam? Barangkali tentang ketinggian kami saat itu. Atau hal lainnya, tetapi jelas bukan informasi yang saya perlukan saat ini. Mungkin untuk pramugari itu.

"Saya sedang menulis tentang Timor Leste sebelum merdeka. Kemarin ke Sumba karena ada pensiunan tentara yang pernah bertugas di sana. Wawancara," kata saya sekadar memindahkan topik ke sesuatu yang lebih saya sukai.

"Kalau bukan tentara tetapi pernah di sana, mau dengar ceritanya?"

"Tergantung. Tahu seseorang yang tahu sesuatu?"

"Tahu sesuatu tentang otak Rote?" Carlos balik bertanya. Pertanyaan yang membuat saya merindukan suara pilot di pengeras suara. Selalu lebih baik mendengar seseorang menggumam daripada setiap kalimat dengan jelas, tetapi tak jelas hubungan di antaranya. Saya pernah tahu tentang otak Rote. Gerson Poyk-semoga dia beristirahat dalam damai-menulis cerpen itu beberapa tahun lalu, tetapi apakah hubungannya dengan Timor Timur?

"Di Timor, kalau ada yang bohong, pasti dibilang otak Rote."

"Tidak tersinggung?"

Carlos tertawa. Terbahak-bahak. Dua penumpang di deret kiri serentak menoleh. Sepertinya terganggu. Saya memutar knop AC di langit-langit kabin. Setelah bosan, jengkel, dan merindukan keheningan-atau gumaman pilot di pengeras suara, kini gerah. Berapa lama lagi pesawat ini mendarat?

"Tuhan menciptakan setiap waktu, setiap hal, setiap titik dengan tujuan," Carlos bicara lagi dan saya sungguh berharap akan segera tahu untuk apa detik-detik membosankan Tuhan ciptakan.

"Saya pernah selamat dari kematian di Manatuto."

Saya tersentak. "Pernah di Timor Timur?" tanya saya lantas malu dengan suara sendiri yang terlampau bersemangat.

"Timor Leste."

"Ya. Tentu saja. Timor Leste. Pernah di sana?"

"Carlos itu nama saya di sana."

"Versi Portugis dari..."

"Charles."

***

Carlos sedang dalam perjalanan dari Dili menuju Baucau ketika terpaksa harus melintas ratusan orang bersenjata parang, batu, pentungan. Di Manatuto hari itu ada demonstrasi besar dengan amarah penuh. Seorang tentara membunuh adik seorang pastor. Carlos sudah remaja dan tahu belaka bahwa demonstrasi yang berisi amarah hanya akan berakhir jika telah ada darah yang tumpah.

Gas sepeda motor menjadi tak stabil karena tangannya bergetar hebat. Lelaki tua di boncengannya mengetatkan peluk. Seperti mengirim sinyal bahwa meski telah tua dan pernah mengalami ribuan peristiwa menegangkan, hari itu adalah yang paling menakutkan. Carlos mendengar teman seperjalanannya itu merapal doa dengan suara bergetar. Jikalau boleh, biarlah peristiwa ini segera berlalu. Aku takut, hingga seperti mau mati rasanya.

Carlos dengan segera merasa dia harus berjudi dan memenangkannya. Hanya itu pilihan yang dia punya setelah sadar bahwa mereka telah salah arah. Menuju orang-orang yang marah dengan mudah akan dianggap sebagai lawan. Tersisa semenit saja jarak mereka ketika seseorang berlari lebih cepat dari kerumunan demonstran: lelaki kurus memegang parang di satu tangan dan batu sekepalan di tangannya yang lain adalah kupon yang Carlos pakai.

"O nia sa naran?" Carlos memulai perjudiannya dengan bentakan. Kencang sekali sampai dia kaget sendiri. Tetapi perjudian telah dimulai. Carlos memilih "O", bukan "Ita", untuk menegaskan posisi. Yang ditanyai namanya itu serentak berhenti. Beberapa jengkal saja dari sepeda motor mereka.

Dua tangan kurusnya serempak meluruh dan raut ragu mereka di wajahnya. Menoleh meminta dukungan, yang dia lihat adalah gerombolan yang menyebar ke kiri kanan jalan, menghancurkan apa saja. Akan butuh waktu lama sebelum orang-orang marah itu tiba di tempat di mana seorang lelaki muda membentaknya.

"Hei! O nia sa naran?" bentak Carlos sekali lagi.

"Pedro. Ha'u nia naran, Pedro," lelaki itu menjawab dengan suara bergetar.

Merasa angin kemenangan sedang bertiup, Carlos mencecarnya dengan nada yang lebih tinggi sebelumnya: "O ko'alia Indonesia? Bisa? Bisa bahasa Indonesia?" Lelaki kurus itu mengangguk lalu diam seperti menunggu petunjuk berikutnya.

Carlos merasa lebih ringan. Pertama, itu berarti dia tidak harus terbata-bata menjelaskan dalam bahasa Tetun. Carlos hanya fasih menggunakan Bahasa Tetun untuk percakapan pendek dan makian sedang yang ingin dia sampaikan adalah karangan yang panjang. Kedua, karena peluk teman seperjalanannya mengendur dan tidak lagi bergetar.

Carlos segera bercerita-yang dikarangnya sembari bicara, dia datang ke Manatuto untuk mengingatkan bahwa orang-orang yang sedang marah itu akan berhadapan dengan lawan yang tangguh, bahwa para tentara bersenjata lengkap sedang menunggu di pusat kota tempat di mana kerumunan itu menuju.

Carlos menjelaskan seluruh kondisi karangannya itu dengan suara keras. Semakin keras ketika dilihatnya kerumunan mendekat dan seperti menyimak. Akibat yang diharapkan terjadi. Para demonstran, setelah bicara satu sama lain, memutuskan bubar. Carlos dan temannya lolos. Menuju Baucau. Setelah mendapat ucapan terima kasih karena membawa kabar baik.

Di Baucau Carlos tahu, celana teman seperjalannya basah dan menebar bau. Pesing yang buruk yang hanya datang dari kencing laki-laki dewasa. Tetapi yang lebih buruk adalah mendengar kabar bahwa di Cova Lima ratusan orang dibantai bersama tiga orang pastor yang melindungi mereka di Gereja Ave Maria.

***

"Kau di sana saat itu?"

"Saya beruntung. Yang datang pertama mengerti Indonesia. Kalau tidak? MATI!" Jelasnya lalu membuang napas panjang. Telunjuk kanan menyentuh jidatnya sendiri, seperti berterima kasih pada otaknya.

"Otak Rote?"

"Otak siapa saja," jawab Carlos, "Semua orang berbohong untuk menang. Kamu tahu peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari setelah hasil referendum diumumkan, bukan? Merdeka tetap saja sulit." jawab Carlos.

Saya memperlihatkan beberapa catatan, juga tentang tragedi di Cova Lima.

"Itu hari-hari yang sulit. Setelah berhasil pulang, tempat pertama yang saya kunjungi adalah Nemberala. Berenang. Mandi sampai lupa kalau saya pernah hampir mati." Suaranya lirih. Seperti bicara pada diri sendiri. Lalu bersemangat kembali ketika bercerita tentang presiden cuci muka di Nemberala. Saya bilang bahwa saya sudah tahu karena itu adalah yang pertama yang dia ceritakan tadi, dan bertanya mengapa itu penting?

"Karena dia presiden. Seberapa sering kau lihat presiden cuci muka?"

Setelah kalimat itu tak ada percakapan lagi. Pesawat mendarat mulus di Bandara El Tari. Kami berpisah di terminal. Carlos tidak bersedia menjadi narasumber penelitian saya. "Beberapa kenangan harus dihapus," katanya.

Armin Bell tinggal di Ruteng, bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Yayasan Klub Buku Petra. Menulis kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam (Dusun Flobamora, 2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com