detikHot

Cerita Pendek

Pengamal Sabda Marie Kondo

Minggu, 21 Jul 2019 11:28 WIB Indah Darmastuti - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Sepeda lipat itu sudah mengilap, bahkan hingga jerujinya. Mayo sudah membersihkan sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati seperti ia membersihkan tubuh si empunya sepeda ketika berbaring di saat-saat terakhir hidupnya. Dulu dengan sepeda itu, setiap Sabtu pagi suaminya berolah raga bersama teman-temannya, lalu pulang sekira pukul sembilan dengan tubuh berkeringat. Tetapi terlihat sangat bugar.

Itu sebelum dokter mengabarkan trombositnya terus merosot turun dan akhirnya semesta mengambil suaminya kembali saat malam pergantian tahun. Semua benda-benda milik mendiang sudah dipindahkan ke rumah teman-temannya kecuali sepeda, sepatu roda pemberian Mayo, dan tas kerja yang setiap hari bersama suaminya. Semua itu masih terawat dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan tersingkir meskipun Mayo sudah lebih dari dua minggu sibuk membongkar-bongkar semua lemari, bufet dan rak untuk mengurangi benda-benda yang ada di rumahnya. Ia tak menyangka kalau dua minggu tidak cukup untuk membuat rumahnya menjadi simpel dan rapi minimalis.

Dua bulan sebelum itu, Mayo singgah di gedung pertemuan yang sedang disewa untuk mengadakan obral buku besar-besaran. Gerai-gerai penerbit dan pengepul buku berlomba membanting harga tanpa menimbang harga diri penulisnya yang sangat mungkin turut terbanting. Mayo memikirkan kawannya seorang penulis, bagaimana kira-kira perasaannya ketika melihat karyanya diobral dengan harga sangat murah. Satu eksemplar dijual mulai dari lima ribu hingga dua puluh lima ribu rupiah. Bahkan ada satu gerai yang menaruh buku dagangannya di lantai hingga menggunung, mengingatkannya pada obral pakaian di mal-mal jelang Lebaran. Sangat mungkin buku karya temannya menjadi bagian dari gundukan itu. Tetapi akhirnya Mayo berpikir bahwa buku pun hanya benda seperti produk ketrampilan lainnya. Pikiran itu membuat perasaannya baik-baik saja terhadap temannya yang penulis itu.

Ketika Mayo memutuskan menyudahi setelah mendapatkan tiga buah novel detektif, matanya menangkap sebuah buku yang ditaruh di rak menghadap arah jalan keluar gedung. Ia berhenti dan menatap buku itu dari jarak sekira satu setengah meter, sebuah seni beberes dan menata rumah oleh Marie Kondo. Mayo singgah dan mengambil buku itu, membuka-buka sekilas dan akhirnya ia putuskan membelinya.

Hanya semalam saja ia selesaikan membaca, dan bertekad memenuhi arahan Marie Kondo untuk menata rumah. Tengah malam sudah lewat ketika Mayo keluar kamar berjalan ke ruang tengah, lalu ia ke dapur, mencermati perabot masak dan peralatan makan yang melimpah. Ia melihat dapur lebih gampang meringkasnya karena panci, piring, gelas dan segala tetek bengek itu perkakas yang bernilai setara dengan fungsinya.

Kemudian ia ke ruang tamu, tak ada apa-apa selain meja kursi dan dinding-dindingnya terpasang lukisan serta foto keluarga berukuran besar. Ia memutuskan tak banyak menyortir barang di ruang tamu selain satu pot besar yang keberadaannya tak terlalu menunjang ruang tamunya. Kemudian ia kembali ke kamar, membuat catatan dan rancangan langkah-langkah arahan Konmari.

Sebenarnya sudah cukup lama ia menyadari kalau rumahnya terlalu banyak barang yang tak soal jika tak ada. Tetapi ia masih terlalu sayang untuk menyingkirkan dengan alasan macam-macam. Salah satunya, siapa tahu suatu saat berguna.

Ia merenung, memikirkan benda-benda dan sejarah yang terbawa di dalamnya. Rupanya hal pertama sebelum ia membereskan rumah, ia harus membereskan dulu pikiran dan hatinya. Ia harus ikhlas mutlak untuk melepas benda-benda penyimpan kenangan itu. Karena hampir semua benda yang ada di rumahnya selalu bersinggungan dengan momen dan kehadiran orang-orang yang disayanginya. Benda-benda itu menyimpan cerita dan masa.

Tak tega hatinya membuang koper beroda yang dulu selalu dipakai kakaknya melakukan perjalanan jauh sebelum akhirnya perjalanan hidupnya dihentikan oleh pemabuk ugal-ugalan yang menggasak motor kakaknya hingga dia jatuh gelimpangan mengalami pendarahan otak cukup parah. Itu salah satu benda kesayangan kakaknya, ia merasa tak menghormati kakaknya jika harus membuangnya.

Tak tega juga ia melenyapkan vandel-vandel, trofi, dan benda-benda penanda ucapan terima kasih untuk adiknya sebagai pemateri di seminar-seminar atau keikutsertaannya dalam berbagai organisasi yang berkonsentrasi pada isu gender. Sementara adiknya tak mau menjejalkan benda-benda itu ke rumahnya ketika ia harus tinggal di luar negeri mengikut suaminya.

Belum lagi pernak-pernik peninggalan penuh kenangan ibu dan bapaknya. Mayo pusing. Otaknya disesaki banyak kenangan yang tak akan memberi apa pun bagi masa depannya ditambah lagi barang-barang di rumah ini. Ada dobel penyimpanan: otaknya menyimpan kenangan, rumahnya menyimpan benda pengingat momen. Ia merasa seperti museum yang hanya bisa dikunjungi oleh dirinya sendiri, jiwanya dan ingatannya.

Rupanya Marie Kondo tahu betul bahwa manusia adalah makhluk sentimental sehingga ia menempatkan benda-benda kenangan ada di tahap paling akhir dalam upaya penyingkiran, tak peduli besar atau kecil benda itu.

Tetapi semua itu sudah diselesaikan dengan baik oleh Mayo setelah melapor dan berdebat dengan adiknya di luar negeri. Soal vandel-vandel dan trofi, adiknya tak keberatan bila Mayo menyingkirkan, tetapi benda-benda milik kakak dan ibunya, adiknya terus meminta Mayo untuk menimbang.

"Tak cukupkah ingatan dan hatimu menyimpan wajah dan kebaikan semasa hidup mereka? Aku tak mau dibebani dengan banyak kenangan yang didatangkan oleh benda-benda itu. Kita pernah bahagia bersama mereka, dan masih bahagia ketika kita mengenangnya. Apa lagi?" adiknya menyerah, telepon diakhiri dengan pertanyaan retoris: kerasukan roh apa sehingga kakaknya menjadi demikian ekstrem berubah.

Soal pakaian ibu, suami, dan kakaknya, Mayo sudah menyortir maksimal di hari pertama mengikuti arahan Marie Kondo. Lalu pakaiannya sendiri, ini lebih mudah lagi. Sehelai demi sehelai tersingkir tanpa negosiasi alot dengan dirinya.

Ia sisihkan semua yang sudah tak muat untuk tubuhnya, di keranjang A. Pakaian yang masih muat tetapi modelnya sudah tak terlalu suka, masuk ke keranjang B. T-shirt kampanye dengan tagar dari SaveOrangutan, SavePegununganKapur, SaveHutanBakau, SavePantai, SavePetani, SaveBumi hingga SaveYourself dan SaveYourHeart sudah ia kepak dalam satu kotak karton. Total terkumpul empat karton besar sudah diberangkatkan ke lembaga yang menampung pakaian pantas pakai.

Perabot rumah tangga peninggalan ibunya juga sudah lebih dari separo tersingkir dari dapurnya. Buku-buku yang yang dikumpulkan keluarganya sedari ia dan kakak dan adiknya remaja juga sudah pindah ke lemari kolektor buku kenalannya. Kini hanya tinggal satu lemari yang lolos setelah melalui pertimbangan dan pertaruhan cukup berat. Yang pasti ia tak akan melenyapkan Le Petit Prince pemberian mendiang suaminya.

Empat hari lalu ia sudah bertarung mati-matian dengan dirinya, dengan bau, suara dan benda pemilik potensi membangkitkan kenangan yang ditanam oleh para sahabat. Hadiah ulang tahun, oleh-oleh dari luar negeri, suvenir saat ia mengunjungi di beberapa pulau, sampai benda hasil barter yang tak kalah sentimental menyimpan cerita. Akhirnya ia berhasil meletakkan benda-benda itu di kotak karton dan menyerahkan kepada petugas sampah di kompleksnya. Silakan bila mau dijual di pasar loak atau terserah mau diapakan.

"Ini masih bagus, Mbak Mayo. Mengapa dibuang?" tanya Pak Mul tukang sampah kompleksnya.

"Saya sudah puas merawatnya, Pak. Dan benda itu sudah menjalankan fungsinya sebagai penanda kasih dan eratnya hubungan perkawanan. Nama-nama mereka sudah tersimpan baik di hati dan pikiran saya, jadi ada atau tidak ada benda itu di rumah ini, mereka yang memberi benda itu tetap akan menjadi sahabat baik saya dan saya akan terus mengingatnya," Pak Mul tersenyum setengah hati untuk kalimat Mayo, yang setengahnya lagi karena girang menerima apkiran barang-barang bagus dari Mayo.

Lalu minggu sore itu, setelah selesai membersihkan sepeda, ia mengambil tas kerja dan sepatu roda milik mendiang suaminya kemudian disangkutkannya pada stang sepeda itu. Hanya tinggal tiga itu benda peninggalan suaminya. Itu akan menjadi prasasti dalam hidupnya.

Dengan puas ia memandang setiap sudut-sudut rumahnya, jauh lebih lapang dan simple. Hanya berisi benda-benda yang benar-benar ia butuhkan. Ketika ia bersantai di teras rumah sore itu sambil membaca novel detektif yang ia beli bulan lalu, tiba-tiba dari ujung gang terdengar seorang anak meraung-raung menangis sambil berlari. Terlalu keras suara tangisnya sehingga para tetangga pada nongol dari pintu rumah dan melihat apa yang terjadi.

"Ada apa, Dik?" tanya Bu Mugi mencegat anak itu dan mencoba menenangkan.

Ah, rupanya lelaki kecil itu anak Pak Mul tukang sampah.

"Sepeda saya hilang, Budhe...dicuri orang," lapor anak lelaki itu sambil menunjukkan anak kunci. "Tadi saya kunci, tapi maling itu tetap bisa mengambil sepeda saya," lanjutnya masih sesenggukan lalu meraung lagi. Ibu-ibu kompleks sudah berkumpul di antara anak lelaki itu. Mayo menatap di balik pagar rumahnya. Sejeda kemudian, ia teringat sepeda mendiang suaminya yang tadi ia bersihkan. Ia merasa yakin, takdir sepeda itu harus keluar dari rumahnya. Sepeda itu harus berpisah dengan tas kerja dan sepatu roda menunggu takdirnya.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com