5 Alasan Harus Nonton Pertunjukan Kelas Dunia 'I La Galigo'

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 02 Jul 2019 13:40 WIB
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Pertunjukan kelas dunia 'I La Galigo' segera menyapa publik Ibu Kota. Digelar pada 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 di Ciputra Artpreneur Theatre, pentas yang disutradarai Robert Wilson itu diadaptasi dari naskah 'Sureq Galigo' abad ke-14.

Bagi kamu pencinta teater, pertunjukan kelas dunia 'I La Galigo' ini wajib ditonton. Berikut 5 alasan mengapa kamu harus menonton pementasan 'I La Galigo':



1. Pentas di 9 Negara dan 12 Kota di Dunia

'I La Galigo' sukses menyambangi ke 9 negara dan 12 kota di dunia. Di antaranya adalah Lincoln Center Festival New York, Het Muziektheater Amsterdam, Forum Universal de les Cultures Barcelona, Les Nuits de Fourviere Rhone Prancis, Ravenna Festival Italia, Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival Taipei, Melbourne International Arts Festival, Teatro Arcimboldi Milan, lalu pulang kampung ke Makassar.

Bahkan 'I La Galigo menjadi pementasan khusus kelas dunia saat pembukaan Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali.

2. Diakui Dunia Internasional

'I La Galigo' yang naskahnya diadaptasi dari 'Sureq Galigo' atau naskah Bugis kuno dari abad ke-14 telah diakui dunia internasional. 'Sureq Galigo' sendiri diakui oleh UNESCO sebagai world heritage-memory of the world.

Media sekelas The New York Times pun tak segan menyebutnya "stunningly beautiful music-theater work" ketika I La Galigo menjadi pembuka pada Lincoln Center Festival 2005.

3. Terinspirasi Sastra Klasik Bugis

Naskah cerita 'I La Galigo' diadaptasi dari 'Sureq Galigo' yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah. Kemudian dituliskan dalam bentuk syair menggunakan bahasa Bugis dan huruf Bugis kuno.

Dalam adaptasi naskah panggung ini, 'Sureq Galigo' menjadi dasar dari sebuah kisah yang menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, pernikahan yang rumit, dan pengkhianatan.



4. 300 Kostum Rancangan Bin House

Untuk pementasan sekelas 'I La Galigo' dibutuhkan 300 rancangan Bin House. Selama hampir dua dekade pula, kostum-kostum Bin House dipakai para pemain yang terlibat di atas panggung.

Tekstil design dan koordinator kostum 'I La Galigo', Airlangga Komara, menuturkan sejak pertama kali berkenalan dengan sutradara Robert Wilson pihak Bin House merasakan pengalaman baru.

"Saya dari bagian kostum dan tim sama-sama belajar di Bali selama 8 jam sehari untuk mengikuti kira-kira akan seperti apa kostumnya. Pembuatan kostum dari Bin House, memuat materi sendiri dari benang, memilih benang, memintal, dan membuat bahan, termasuk sampai jadi kostumnya," ujar Airlangga.

5. Musik Digubah Rahayu Supanggah, Terdiri 70 Instrumen Musik

Karya musik-teater I La Galigo ini bercerita melalui tarian, gerak tubuh, soundscape dan penataan musik gubahan maestro musik Rahayu Supanggah. Untuk menciptakan ekspresi yang lebih dramatis, sebanyak 70 instrumen musik, mulai dari instrumen tradisional Sulawesi, Jawa, dan Bali akan dimainkan 12 musisi untuk mengiringi pertunjukan ini.

Penataan bunyi dan musik ini merupakan sebuah hasil karya dan hasil kerja intensif melalui riset yang tidak main-main di bawah penyelia Rahayu Supanggah.

Simak Video "Mengintip Proses Latihan Pementasan Kelas Dunia, I La Galigo"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)