detikHot

Cerita Pendek

Matilda

Minggu, 26 Mei 2019 11:26 WIB Artie Ahmad - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Kali pertama dia datang, tepat saat jam ruang tengah berdentang dua kali. Tatkala codot-codot di kebun samping rumah sedang asyik masyuk mengunyah buah-buahan. Bayangannya sekali berkelebat di jendela, membuat tirai jendela bergoyang-goyang meski tak ada angin yang berembus. Tepat di puncak malam seperti itu, dia akan datang. Tanpa perlu diundang dengan merapal mantra atau repot-repot menyiapkan sesajen. Dia akan datang dengan sendirinya.

Aku tak pernah menyangka dia akan datang menyambangiku setiap malam setelah malam itu. Tangannya yang sedingin es batu secara perlahan meraba tengkuk dan wajah. Senyumnya yang sebengis pembunuh mengembang di bibirnya yang semerah darah.

"Aku datang setelah sekian lama hanya bisa mengawasimu," ucapnya perlahan. Bola matanya yang hitam seolah bergulir ke kiri dan kanan.

"Kenapa kau datang menemuiku?" suaraku bergetar lantaran ketakutan yang luar biasa. Tak kusangka, hantu yang menjadi legenda di kota ini sekarang terbaring di sampingku.

"Aku datang karena sudah waktunya aku datang. Lantaran ada aku, maka kau ada," Matilda masih berbisik.

Aroma bunga kantil memenuhi ruangan kamar. Aku tercekat. Kepalaku terasa berat, leherku serasa tak bisa digerakkan. Tubuhku seakan membeku. Matilda kini tak hanya berbaring di sampingku, dia sudah berada di atas tubuhku. Tubuhnya melayang satu jengkal di atasku.

"Aku sama sekali tak pernah memanggilmu seperti orang-orang iseng di luaran sana. Mungkin kau salah sasaran. Seharusnya bukan aku yang kau sambangi." Aku berusaha mendorong tubuh Matilda dengan kasar.

Matilda melayang. Dari sudut kamar dia hanya mengawasi dan tersenyum tipis. Entah mimpi apa sebelumnya, hantu itu datang menyambangiku dan seolah enggan pergi. Baru menjelang subuh, dia menghilang begitu saja, lesap ditelan tembok kamar.

***

Awalnya, bagiku Matilda hanyalah sebuah dongeng picisan untuk menakuti bocah-bocah ingusan. Sejak kecil aku tak percaya dengan segala macam wujud demit, hantu, jin, bahkan iblis sekalipun. Mereka tak nyata. Mereka tercipta hanya lantaran ilusi optik mata manusia semata. Selebihnya cerita-cerita picisan tentang hantu itu hanya kebohongan saja.

Hantu Matilda sudah kudengar sejak pertama kali pindah ke kota ini. Sejak perpisahan ayah dan ibu berpuluh tahun lalu, aku ikut ayah. Ibu memilih kembali ke kota kelahirannya dan memilih hidup sendiri di rumah tua peninggalan leluhur. Namun, dua tahun lalu, aku memutuskan hidup bersama ibu setelah ayah memilih seorang perempuan muda untuk dijadikan istri baru.

Nyatanya hidup bersama ibu tak jauh lebih baik. Ibu terlalu sibuk bekerja. Dia menjadi pedagang barang-barang antik. Hampir seluruh waktunya dihabiskannya untuk pergi dari satu kota ke kota lain untuk mencari barang dagangan. Sejak awal pindah ke rumah ibu, sejak itu pula aku jarang bertatap muka dengannya.

Cerita tentang Matilda pun aku dengar tak lama setelah aku tinggal bersama ibu. Seorang perempuan peranakan Belanda yang malang. Perempuan molek yang menyia-nyiakan hidupnya lantaran cintanya yang sepihak. Pengkhianatan yang berujung kematiannya. Matilda melemparkan dirinya ke sungai, jasadnya ditemukan di kali Tempur dengan keadaan utuh tanpa luka lecet sedikit pun. Keajaiban mencampuri utuhnya jasad perempuan yang tubuhnya terbawa arus sehari semalam.

Warga kota merasa takut dengannya, sekaligus mengaguminya. Beberapa rumah warga bahkan menyimpan lukisan dirinya. Seorang perempuan peranakan mengenakan kebaya berwarna marun dipadu dengan kain jarik parang berwarna hitam bercorak putih. Rambutnya yang sedikit pirang kehitaman tergerai melambai-lambai seolah membiarkan angin bebas menjilati rambutnya dengan liar.

Awal melihat lukisan sosok Matilda, aku mengira itu hanya karangan pelukisnya semata meski dari pengakuan-pengakuan yang kudengar lukisan itu lahir setelah melihat sosok hantu Matilda secara kasat mata. Ternyata setelah dia datang menemuiku, pelukis itu tak membual. Begitulah sebenarnya sosok Matilda. Perempuan peranakan berpakaian layaknya priyayi Jawa, namun menyimpan siksa kesedihan di wajahnya.

***

Matilda datang tanpa diminta, seperti biasanya. Sudah tujuh hari berturut-turut hantu itu menyambangiku tepat malam mencapai puncaknya. Sekuat tenaga aku mencoba mengacuhkannya, tapi ketika belaian tangannya yang sedingin es batu kerap membelai wajah dan tanganku, aku tak bisa hanya berdiam diri. Dengan marah aku mencoba mengusirnya, tapi nyatanya hantu yang menjadi legenda ini begitu keras kepala.

"Aku datang untuk menemanimu," ucapnya perlahan sembari tangannya membelai rambutku.

"Aku tidak membutuhkanmu. Aku tidak pernah memanggilmu, itu tandanya aku tak mengharapkan kehadiranmu!"

Mata Matilda menyipit, bibirnya yang merah merekahkan senyum tipis.

"Kesepianmu yang mengundangku. Kesepianmu yang membawaku datang menyambangimu. Lantaran aku tak rela kau dirundung kesepian seperti diriku."

Tak lama setelah mengucapkan kalimat itu, mata Matilda menatapku dengan tajam. Tangannya yang pucat menekan pelipisku. Seketika aku seperti orang yang terkena bius. Entah pingsan atau tertidur, yang jelas aku memimpikan sesuatu. Bermimpi tentang Matilda.

***

Dalam mimpi itu aku melihat Matilda masih seperti manusia pada umumnya. Seperti sebuah drama tanpa suara, aku melihat bagaimana kisah Matilda. Seorang lelaki Jawa, datang ke kamarnya. Entah apa yang mereka bicarakan, seolah-olah ada kegentingan yang menyelimuti mereka. Seorang bocah kecil dalam gendongan Matilda terlihat meronta-ronta. Tak berselang lama, seorang perempuan muda masuk ke dalam, menarik tangan lelaki itu dan membawanya pergi entah ke mana.

Matilda terlihat menangis tersedu-sedu sembari mendekap bocah lelaki itu ke dalam pelukannya.

Layar drama seolah cepat sekali berganti. Siang diganti malam dengan gegas sekali. Bocah lelaki kecil sudah terlelap dalam box bayi di sudut kamar. Matilda duduk diam di depan cermin. Perlahan dia melepaskan sanggul rambutnya. Wajahnya yang cantik rupawan terlihat begitu muram. Air matanya sudah berhenti, tak mengalir seperti tadi. Tapi kemudian dia berlalu keluar dari kamar. Dia berlari ke arah sungai. Dalam cekatan malam yang mulai merambat, embusan angin menggoyangkan dedaunan.

Matilda berdiri di bibir jembatan. Kemudian, tanpa berpikir panjang dia melompat ke dalam air yang terlihat bergejolak. Aku memekik melihatnya terjun bebas ke dalam air, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Matilda mati sia-sia.

Aku terbangun dari mimpi buruk itu dengan kepala pening. Matilda masih duduk di sisi ranjang. Senyumnya yang mengerikan itu mengembang. Tangannya yang sedingin es batu membelai-belai rambutku secara perlahan.

"Bagaimana? Kau melihatku terjun bebas ke kali itu kan?"

Aku menatapnya dengan ngeri.

"Apa untungnya aku melihatmu terjun bebas seperti itu?" aku menepiskan tangannya.

"Agar kau tahu betapa tak beruntungnya diriku,"

"Penderitaanmu terlahir dari dirimu sendiri."

Matilda menatapku dengan kedua matanya yang sekelam jelaga.

"Laki-laki berengsek itu yang membuatku terjun ke kali. Dia lebih memilih pelacur murahan itu ketimbang aku dan anaknya! Dia sebengis kekasihmu itu, yang meninggalkanmu untuk meniduri sahabatmu!"

Aku tersentak. Bagaimana Matilda bisa sampai tahu tentang mantan kekasihku itu. Selepas Matilda mengucapkan itu, aku merasa mual. Sudah lama aku berusaha membunuh pria muda yang pernah kupilih untuk menjadi kekasih itu di dalam ingatanku.

"Aku tak peduli bagaimana kau bisa tahu tentang mantan kekasihku. Aku hanya ingin tahu, sebagai hantu kenapa kau menemaniku?" aku beringsut bangun.

"Kau ingin tahu kenapa?" Matilda menahan lenganku.

"Tentu?" aku menatapnya tajam.

"Karena aku nenek buyutmu," Matilda berbisik di samping telingaku.

Untuk kesekian kalinya aku mendapat kejutan dari hantu yang menjadi legenda di kota ini. Bagiku, ucapan Matilda adalah kebohongan belaka. Tapi sebelum aku mengatakan sesuatu, Matilda keluar kamar. Dia menuju ruang tengah. Matilda menatap foto keluarga.

"Kau tahu siapa lelaki reyot ini?" Matilda menunjuk foto kakek buyut. Ayah dari kakekku.

"Kakek buyut," jawabku singkat.

"Dialah lelaki yang membawa perempuan murahan itu pulang. Dia suamiku yang sah! Tapi rela meninggalkanku untuk perempuan yang memberikannya cinta sesaat. Dia yang menuntunku dalam penderitaan. Dia yang menyuguhkan kematian kepadaku," Matilda memukul foto kakek buyut dengan kesal.

"Dan kau tahu ini siapa? Dia anakku lanang," Kali ini Matilda membelai foto kakek dengan lembut.

"Aku tidak tahu jika ibu dari kakek itu dirimu. Aku tidak percaya," aku menggeleng. Tidak mungkin hantu yang berdiri di depanku itu nenek buyutku, cikal bakal diriku.

"Kenapa kau tak tanya ibumu? Dia cucuku itu, sangat mengenalku," ucap Matilda sebelum menghilang.

Sesaat setelah Matilda menghilang, aku masih termangu-mangu. Tidak mungkin dia nenek buyutku. Tidak mungkin hantu yang menjadi legenda di kota ini adalah nenek ibu. Mana mungkin, hantu yang ditakuti sekaligus digemari warga kota itu ibu kesayangan kakekku. Dan bagaimana bisa, nasibku, nasib ibu dan nasibnya bisa serupa dalam cinta?

***

Aku sudah merancang kata-kata untuk bertanya kepada ibu tentang Matilda. Benarkah Matilda itu neneknya? Sesuai pesan yang aku terima, ibu pulang dari Surabaya. Malam itu aku ingin bertanya tentang Matilda kepadanya. Tapi apa yang aku lihat dari balik pintu kamar menjawab semuanya. Ibu terlihat tidur di sofa panjang ruang tengah. Matanya sesekali terbuka dan terpejam. Kepalanya terkulai di atas pangkuan Matilda. Hantu itu dengan lembut membelai-belai rambut ibu.

"Nenek, cerita tentang kesatria yang setia membawa cinta di pundaknya itu belum selesai. Teruskan, Nek. Aku ingin tahu tentang akhir dongeng itu," ucap ibu perlahan.

"Kau ingin tahu tentang kelanjutan cerita itu, Sayangku?" Ucap Matilda perlahan.

"Tentu saja. Ceritakan, Nek. Sejak kecil, setiap tengah malam nenek mendongengiku tentang apa saja. Tapi kesatria yang setia itu cerita yang paling menarik."

Setelah itu Matilda mendongeng. Tentang kesatria yang setia, dan ibu mendengarkannya dengan khidmat. Di dalam kamar aku menggigil.

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga, 21 November 1994. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Novel terbarunya berjudul Sunyi di Dada Sumirah (Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018) dan kumpulan cerpen terbarunya Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri (Penerbit Buku Mojok, Januari 2019).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com