DetikHot

art

21 Tahun Reformasi di Mata Ayu Utami dan Mella Jaarsma

Senin, 13 Mei 2019 15:15 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
21 Tahun Reformasi di Mata Ayu Utami dan Mella Jaarsma 21 Tahun Reformasi di Mata Ayu Utami dan Mella Jaarsma Foto: Museum MACAN/ Istimewa
Jakarta - Mella Jaarsma masih ingat betul reaksi masyarakat saat karya performans 'Pribumi-pribumi' yang dibuatnya tahun 1998 silam. Sejak tahun 1984, seniman asal Belanda itu tinggal di Yogyakarta dan turut merasakan beragam peristiwa yang terjadi di Indonesia.

"Saya percaya makanan adalah salah satu idiom yang bisa membangun komunikasi, termasuk saat saya memasak kaki kodok di jalanan sekitar Malioboro di tahun 1998," ujar Mella Jaarsma saat diskusi seputar kebebasan berekspresi di Museum MACAN, Minggu (12/5/2019).

Menurutnya, kaki kodok merupakan sebuah contoh dari perbedaan persepsi budaya bagi masyarakat Tionghoa. Kaki kodok dianggap lezat namun bagi kaum muslim adalah makanan haram serta tak boleh dikonsumsi.



Mella terkenang saat itu ada seorang bapak yang bertanya mengenai kaki kodok tersebut. "Dia bilang itu haram, lalu kami mencoba berdiskusi dan akhirnya bapak itu membeli dan banyak masyarakat sekitar yang ikut membelinya," lanjut Mella.

"Sebagai seorang minoritas karena saya berasal dari Belanda dan londo yang tinggal di Indonesia dari tahun 1984, saya merasakan ketakutan tersebut," ujar Mella menceritakan.

Perubahan peta politik yang terjadi di Museum MACAN diakui Mella juga mengalami pergeseran dalam prosesnya berkarya. Sebagai seorang seniman, ia lebih kritis lagi dan kembali bertanya 'apa yang relevan bagi publik'.
21 Tahun Reformasi di Mata Ayu Utami dan Mella Jaarsma21 Tahun Reformasi di Mata Ayu Utami dan Mella Jaarsma Foto: Museum MACAN/ Istimewa

Ayu Utami yang dikenal sebagai penulis novel 'Saman' ini turut hadir dalam diskusi. Karya perdananya tersebut lahir bertepatan dengan tumbangnya Orde Baru dan munculnya era baru Reformasi.

Ketika novel 'Saman' terbit, karyanya dianggap mendobrak berbagai tabu yang ada saat itu. "Di waktu Soeharto semuanya serba satu suara. Kita tidak boleh punya sejarah versi lain, sebagai wartawan kita tidak boleh menulis tentang ini atau itu, maka reaksinya adalah 'memecahkan' aturan itu," ujarnya ketika mengobrol usai diskusi.

Novel 'Saman' dan 'Larung', lanjut dia, lebih dekonstruktif. Berbeda dengan novel 'Bilangan Fu' yang lebih terstruktur dan ada paradigma tersendiri.

"Sekarang kan tidak ada nilai bersama, punya suara-suara sendiri maka karya saya menawarkan paradigma baru. Bukan hancur-hancuran seperti 'Saman' dan 'Larung', sudah ada struktur baru," tukasnya.

Diskusi yang hadir dalam pameran seni 'Dunia dalam Berita' menyajikan berbagai isu terkini dan kembali mengenang ingatan Reformasi yang terbuka 21 tahun yang lalu. Sabtu (18/5) mendatang, Museum MACAN menghadirkan seniman Tisna Sanjaya dan FX Harsono.

Keduanya berbicara hubungan antara media massa dan seni rupa lewat kacamata dua perupa penting yang ada di Indonesia. Bagi kamu yang ingin Ngabuburit di bulan puasa ke Museum MACAN, museum buka hingga pukul 18.00 WIB.

Ada pameran seni 'Dunia dalam Berita' yang menghadirkan 10 perupa kontemporer. Kemudian, ada pameran 'Matter and Place' yang menampilkan di antaranya karya instalasi fenomenal Andra Martin 'Elevation', ruang seni anak yang berjudul 'Main Getah' karya seniman Malaysia Shooshie Sulaiman. Pameran tunggal Jeihan Sukmantoro 'Hari-hari di Cicadas' juga masih bisa dinikmati. Serta yang tak kalah seru instalasi Yayoi Kusama.


(tia/doc)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed