DetikHot

art

'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur

Jumat, 26 Apr 2019 10:00 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Para Pensiunan 2049: Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur 'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur Foto: Teater Gandrik/ Istimewa
Jakarta - Bukan Teater Gandrik namanya kalau tidak menampilkan cerita yang menyentil kondisi sosial politik yang dikemas dalam balutan humor. Tampil selama 2,5 jam, Teater Gandrik sukses mengocok perut penonton dengan dialog yang renyah, segar, dan dibawakan secara jenaka.

Di pementasan perayaan hari jadi ke-36 tahun, kelompok teater asal Yogyakarta itu menggelar lakon 'Para Pensiunan 2049'. Tak tanggung-tanggung tema yang dihadirkan yakni soal kematian dan korupsi.

Lakon bermula dari seorang pensiunan besar yang tadinya sangat berkuasa di negara antah berantah dan meninggal dunia. Pensiunan yang bernama Doorstoot (Butet Kartaredjasa) tak bisa dikubur jenazahnya kalau tak ada Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB) dan Surat Izin Meninggal (SIM).

Aturan surat keterangan dalam Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi (Pelakor) ingin membuat koruptor jera. Jenazah Doorstoot yang gelisah pun menuntut mengapa dirinya tak kunjung dikubur kepada Kerkop (Susilo Nugroho).



"Kenapa aku dari tadi belum dikuburkan? Apa karena aku belum mempunyai SKKB? Aku capek tahu, dari tadi nggak boleh bergerak. Diem aja, suwok tahu," ujar Doorstoot.

Keluarga Doorstoot mengatakan jenazahnya sudah mendapatkan surat keterangan dokter yang bernama Wajah Tanpa Pengecualian. Pihak RT, RW, Dinas Pariwisata juga menyurati agar lokasi pemakaman jadi wisata religi. Dirjen Pajak memberikan surat pelunasan pajak bahkan kelebihan pembayaran pajak pada negara, kantor polisi pun mengeluarkan SIM, tinggal SKKB saja.

'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur Foto: Teater Gandrik/ Istimewa


Di tengah pembicaraan, ada Eyang Onderdeel yang berpakaian pemulung membawa jenazah koruptor dibungkus plastik hitam. "Itu contoh yang dibawa Eyang Onderdeel. Koruptor itu merugikan masyarakat. Utangnya sudah dilunasi semasa hidup, tapi bagaimana sesudah mati? Jenazahnya harus bermanfaat," tutur Kerkop.

Ada dua cara agar jenazah koruptor bermanfaat. Daging jenazah dicacah lalu dikeringkan dan dijadikan abon untuk makan ternak yang bernama abon sripah. Kedua, bagian perut, tulang belulang hingga daging dicacah lalu difermentasikan jadi pupuk organik jenazah koruptor (punik cetor) lalu dibagikan secara cuma-cuma.

Gara-gara UU Pelakor yang menimpa Doorstoot, para pensiunan lain yang menunggu akhir hidup jadi tambah gelisah. Mereka adalah pensiunan jenderal, politisi, pejabat sampai hakim.



UU Pelakor kembali diperdebatkan manfaat dan keburukannya, termasuk oleh arwah tak tenang Doorstoot. Aturan tersebut dianggap mengkriminalisasi dan penistaan terhadap jasa para pensiunan terdahulu.

Dari situ cerita terus bergulir, ketika para pensiunan yang terbukti koruptor semasa hidupnya tak boleh dikubur ketika mati. Naskah yang ditulis untuk durasi 2 jam lamanya pun menjadi bertambah agak lama karena tradisi Teater Gandrik yang kerap berimprovisasi di atas panggung.

Ada banyak guyonan dan sindiran halus hingga plesetan blak-blakan yang dimainkan para pemain dan sesuai dengan konteks sosial politik di Tanah Air. Meski latar cerita dalam 'Para Pensiunan 2049' ini adalah 30 tahun setelah 2019 atau ketika korupsi semakin merajalela sampai dibuatkan UU Pelakor.

'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur Foto: Teater Gandrik/ Istimewa


Naskah hasil saduran dari mendiang Heru Kesawa Murti di tahun 1986 ditulis ulang Agus Noor. Februari lalu, naskahnya didiskusikan kembali dan digodok oleh tim Teater Gandrik hingga diubah total. Alasannya hanya satu, naskah saduran Agus Noor terlalu 'berani'.

"Naskah ini latarnya bukan ada di Indonesia. Awalnya di Indonesia, tapi karena kami ketakutan betul masuk Cipinang, masa saya atau Butet ikut-ikutan masuk Cipinang," ujar sutradara 'Para Pensiunan 2049', Djaduk Ferianto sembari tertawa.

"Cari jalan yang paling aman. Bongkar naskah, setting di negara antah berantah. Visual kostum juga perpaduan gaya klasik Eropa, China, Mesir, dan lain-lain. Dari aspek visual kami menggunakan pendekatan tidak manual, ada tambahan mix juga supaya ada artikulasi yang jelas. Ini kan cara baru kami gimana menggarap repetoar dan melemparkannya pada publik," tutur Djaduk Ferianto kembali menjelaskan.

Dengan desain artistik sederhana khas teater modern, musik yang didukung Kua Etnika, tata cahaya yang membuat tambah khidmat, lakon 'Para Pensiunan 2049' menambah satu hiburan wajib di tengah panasnya situasi politik di luar panggung.

'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur'Para Pensiunan 2049': Ketika Seorang Koruptor Tak Boleh Dikubur Foto: Teater Gandrik/ Istimewa


Teater Gandrik mengajak penonton untuk menertawakan drama klaim presiden-presidenan hingga kelakar Pemilu 2019 yang sedang terjadi.

Seperti kata Butet Kartaredjasa, ada banyak berkah-berkah yang bertaburan di atas panggung. Termasuk perubahan spontan para pemain yang hanya mengandalkan ketangkasan tanpa harus mengorbankan alur cerita utama.

"Ada banyak pesan yang disampaikan lewat lakon ini. Korupsi, moralitas, suasana Pilpres, dan segala perubahan yang cukup menarik," tukasnya.

Lakon 'Para Pensiunan 2049' masih bisa ditonton nanti malam pukul 20.00 WIB di Ciputra Artpreneur Theater. Tiketnya dibanderol 6 kategori dari Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta.



(tia/doc)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed