DetikHot

Cerita Pendek

Labirin

Minggu, 14 Apr 2019 10:28 WIB  ·   Daisy Rahmi - detikHOT
Labirin Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Kelopak mata Re terbuka. Gelap. Dirabanya tempat berbaring. Keras dan kasar. Perlahan penglihatannya menyesuaikan dengan kegelapan. Ia terbaring di tengah ruangan yang lantai dan keempat sisinya terbuat dari batu. Re bangkit. Di luar ruangan terdapat lorong berdinding batu. Sepi. Penerangan yang lemah membuat semua terlihat menakutkan.

"Priska...Sarah...Kiki...di mana kalian?" panggilnya.

Setelah lama menanti tanpa jawaban, Re memutuskan pergi. Ia tidak mungkin terus menunggu. Re menggali ingatannya sambil berjalan. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum dirinya terbangun. Lambat laun gambaran itu muncul.

***

Mobil melaju dan berhenti di depan villa. Pengemudinya keluar diikuti tiga penumpang.

"Indah sekali," seru Priska. Tatapannya beralih dari hamparan ladang teh ke pegunungan di kejauhan, langit biru serta gumpalan awan putih yang menghiasinya.

"Hawanya juga sejuk," timpal Kiki.

"Ayo masuk," ajak Sarah sambil membuka bagasi.

Keempat gadis mengambil koper masing-masing sebelum masuk villa. Sarah menyapukan jari telunjuk ke tepian rak. Alur kecil terbentuk di permukaannya.

"Sedikit berdebu. Kami jarang ke sini."

Ia berjalan mendahului.

"Kamar tidur ada di atas," katanya sambil naik tangga.

Di atas terdapat dua kamar tidur yang berhadapan. Sarah masuk ke salah satu kamar lalu menyibak gorden. Tampak bagian belakang villa. Jalan setapak yang mengarah ke hutan melintasi rumput di halaman belakang.

"Dapur di bawah," katanya yang terpotong pekikan Priska.

"Kita lupa belanja!"

Sarah tersentak. Ditatapnya jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah hari.

"Sebaiknya cepat," gumamnya gelisah, "Toko-toko di sini lebih cepat tutup."

Re menyela.

"Aku di sini saja. Biar kubereskan baju-baju kalian."

"Terima kasih, Re."

Tiga gadis bergegas keluar kamar. Tak lama berselang terdengar bunyi mobil dijalankan. Re berlutut, mengeluarkan isi tas-tas. Bersamaan dengan pakaian terakhir yang ditatanya ke lemari, sesuatu di hutan tertangkap ekor mata Re. Tanpa sadar ia melangkah ke jendela. Mata gadis itu membulat.

Ingatan Re terhenti. Lorong yang dilaluinya bercabang tiga di satu titik. Dimasukinya yang sebelah kanan. Empat meter kemudian tempat itu kembali bercabang. Kali ini ia memilih yang kiri. Lorong itu berakhir seperti lorong sebelumnya. Nekad, Re masuk ke lorong tengah. Hal sama terulang. Gadis itu mulai putus asa. Wajah orangtuanya terbayang. Re terisak.

***

Mobil melaju menembus senja yang mulai datang. Sarah mematikan mesin, keluar dari mobil bersamaan dengan Priska dan Kiki. Titik-titik air yang turun dari langit membasahi pakaian mereka. Ketiganya mengambil kantong-kantong belanjaan dari bagasi lalu berlari ke villa. Sarah mengibaskan air di rambut sebelum mengetuk pintu depan.

"Re, buka pintu. Kami pulang."

Pintu tetap tertutup meski sudah lama menunggu. Priska tak sabar. Gadis itu memanggil dan mengetuk lebih keras. Tetap tak ada reaksi. Pintu terbuka begitu Priska menekan gagangnya. Dahi Sarah berkerut.

"Dia tidak mengunci pintu. Ceroboh sekali."

Ketiganya masuk dengan bawaan masing-masing. Sarah menekan saklar lampu.

"Re, kami pulang," serunya sambil menaruh belanjaan di meja.

Tak ada jawaban.

"Mungkin dia tidur. Biar kulihat ke atas."

Kiki naik tangga, langsung menuju kamar di mana mereka berkumpul beberapa jam lalu.

"Re...."

Ucapannya terhenti mendadak. Kamar itu terlihat sama seperti saat mereka tinggalkan, kecuali tidak ada Re. Kiki menjengukkan kepala dari ujung tangga.

"Dia tak ada di kamar."

"Cari ke ruangan lain."

Kiki menghilang dan kembali sesaat kemudian. Wajahnya cemas.

"Di mana pun tak ada," lapornya.

Dua gadis yang semula duduk santai serentak berdiri. Mereka gelisah.

"Coba aku telpon dia."

Priska menekan nomer Re. Terdengar dering telepon. Kiki melesat kembali ke kamar, diikuti Sarah dan Priska yang lari naik tangga. Benda itu ditemukan di atas meja.

"Dia pergi tanpa ponsel."

"Ayo kita cari."

Mereka turun. Gerimis berubah jadi hujan. Di bawah cuaca yang tak bersahabat, tiga gadis berkeliaran sambil berseru-seru. Suara ketiganya terbawa angin tanpa jawaban. Malam merangkak datang. Gelap memaksa mereka berhenti mencari. Hujan makin deras menimpa tiga buah payung yang bergerak menuju villa.

***

Re terjaga. Pipinya sakit karena lantai batu yang keras dan kasar. Gadis tersebut duduk. Dipandangnya dinding batu. Ia harus keluar dari sini. Terdengar gema langkah kaki di belakang. Re berharap siapa pun yang datang bisa membantu menemukan jalan keluar. Sinar terang menyambut begitu dirinya berbalik badan. Bunyi langkah makin dekat dan berhenti di depannya.

Terdengar suara di balik sinar.

"Mengapa kau di sini, Nak?"

"Tolong turunkan lampunya. Aku tidak bisa melihat."

Cahaya yang menyilaukan matanya turun. Re berhadapan dengan lelaki tua yang berambut kelabu acak-acakan. Mata di wajah penuh kerut menatap dirinya heran.

"Kau tersesat?"

"Aku tak tahu mengapa ada di sini. Aku ingin keluar."

Re menatap penuh harap.

"Anda bisa membantuku?"

Yang ditanya diam. Matanya mencermati sosok gadis di depannya.

"Tolong, Kek!" pinta Re memelas, "Aku ingin pulang."

"Baiklah. Camkan pesanku baik-baik, jangan pernah menengok ke belakang."

"Aku janji," jawab Re gembira.

Laki-laki tua itu mendahului berjalan. Terlihat pemandangan berbeda selama perjalanan. Lorong yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi berbagai bayangan dan bisikan. Re gemetar.

"Kek...." rintihnya.

Orang tua itu menenangkan.

"Tak apa. Jangan melihat ke belakang, Nak. Ingat itu."

Re patuh. Ia tak memperdulikan lagi bayangan yang mengganggu. Sesaat berselang mereka sampai di depan pintu. Re bisa menyaksikan daun-daun di pohon yang bergoyang tertiup angin, mendengar kicauan burung, bahkan merasakan hangatnya sinar mentari. Hatinya berdebar.

"Terima kasih, Kek," ucapnya, "Anda tinggal di sini?"

Orang tua itu tak menjawab. Didorongnya perlahan pundak Re.

"Pergilah. Teman-temanmu menunggu."

***

Pagi yang muram. Kabut tipis menggantung di batas cakrawala membuat suasana makin kelam. Di ruang makan, tiga gadis menghadapi piring masing-masing tanpa minat. Tak ada yang berselera makan. Mereka mencemaskan Re. Sarah mendesah. Ditangkupkannya sendok-garpu di atas sarapan yang tak tersentuh.

"Aku pergi dulu," ucapnya sambil bangkit, "Melapor ke polisi sekaligus memberitahu orangtua Re."

"Aku ikut," kata Kiki.

Priska menumpuk piring-piring dekat tempat cuci dan menyusul.

Terdengar bunyi gemerisik di belakang villa begitu ada di luar. Ketiga gadis berpandangan kemudian lari ke arah datangnya suara. Mereka terbelalak, bergegas menyambut sosok yang melangkah tertatih-tatih. Sosok itu terkulai pingsan di pelukan Sarah. Priska menepuk pipinya sambil memanggil-manggil. Re bergeming. Tanah basah mengotori rambut dan pakaiannya.

Mereka membawa Re masuk, membaringkan ke tempat tidur dan mengganti bajunya. Lima menit berlalu. Re siuman. Kiki mencegah si gadis yang berusaha bangkit. Disodorkannya segelas susu hangat dan setangkup roti.

"Makan dulu."

Re menurut. Perlahan-lahan rona merah muncul di pipinya yang pucat. Sesaat berselang baru ia sadar tatapan ganjil ketiga temannya.

"Kenapa menatapku seperti itu?"

"Ke mana kamu pergi kemarin malam, Re?" tanya Sarah.

"Aku...pergi...?" ulangnya bingung.

Priska, Kiki, dan Sarah tercengang.

"Kamu tidak ingat?"

"Tidak. Hal terakhir yang kuingat aku menata pakaian sementara kalian berbelanja."

"Itu kemarin," gumam Priska.

"Benar aku tidak di sini kemarin?"

Sarah mengangguk.

"Kamu tak ada ketika kami pulang, pergi tanpa ponsel. Kami bertiga mencarimu tanpa hasil. Pagi ini kami menemukanmu di belakang villa. Berjalan sempoyongan, entah dari mana. Kamu pingsan. Kami membawamu masuk dan mengganti bajumu."

Re terbelalak. Rasa takut terpancar dari bola matanya.

"Kenapa aku tidak ingat?"

Hening. Tak ada yang bisa menjawab. Semilir angin berhembus dari jendela yang terbuka. Priska membuka mulut.

"Perasaanku tak enak. Sebaiknya kita pergi dari sini."

Sarah dan Kiki setuju.

Beberapa saat kemudian keempat gadis turun ke bawah. Sarah mendahului berjalan. Empat buah tas tersandang di pundaknya. Priska dan Kiki memapah Re yang masih lemas. Mereka masuk ke mobil. Selagi kendaraan bergerak, Re melihat sesuatu di hutan di belakang villa yang tak tampak oleh ketiga temannya. Mata Re membulat.

Daisy Rahmi lahir di Manado, 30 April 1976. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed