DetikHot

Cerita Pendek

Hukum Kekekalan Sunyi

Minggu, 17 Feb 2019 10:32 WIB  ·   Gaza Manta - detikHOT
Hukum Kekekalan Sunyi Ilustrasi: Anggi Dimas Ramadhan/detikcom
Jakarta - Kaki Maruta hampir menyusul tangannya yang lebih dulu mengeras dan membatu, ketika ia menemukan sudut terbaik yang bisa dipikirkannya sebelum berubah sempurna menjadi sebuah patung. Alih-alih menatap ke barat dan melihat pada senja yang membakar langit dan awan, matanya terpancang pada sebuah halte kecil dengan lengkung kanopi warna biru yang mulai pudar. Dengan kanopi sekecil itu, ia yakin halte itu telah lama ditinggalkan, dan orang-orang lebih memilih menunggu di halte lain yang ada di ujung jalan: halte yang lebih besar dan lebih nyaman dan sama sekali tak tergapai oleh kakinya yang batu. Pada malam hari, halte kecil itu mungkin hanya akan menjadi tempat berjualan stiker mesum atau kamar kecil bagi anjing.

Dia bingung. Maruta tak pernah tahu apa saja yang harus dibicarakan dengan sebuah halte untuk mengisi keabadian dan keheningan. Kekasihnya dulu tak pernah menjawab pertanyaannya. Ia barangkali menganggapnya sekadar lelucon; sama seperti pertanyaan-pertanyaan yang lain. Karena Mi hanya diam dan tertawa ketika Maruta bertanya padanya pada suatu senja, bertahun-tahun yang lalu, "Apa yang akan dikatakan oleh sebuah monumen kepada bangunan berangka 101 yang menjulang di sisinya?"

Saat itu adalah pertemuaan kelimanya dengan Mi tahun itu dan pertanyaan keduanya yang ia ajukan hari itu. Pertanyaan pertamanya punya nasib yang tak jauh berbeda. Mi tidak mengacuhkannya dan pertanyaan itu menguap di sebuah lapangan ketika mereka melihat sepasang beringin yang dipagari beton. Namun, alih-alih tidak menjawab lantas diam, Mi malah bertanya dengan keceriaan yang mencerminkan ketidakacuhan sebatang bambu. Apa dua beringin ini menikah? tanyanya.

Maruta mengangkat bahu. Namun, kemudian berkata, ya, mereka menikah. Ratusan tahun lalu mereka pergi ke gereja dan menikah di sana. Seorang pendeta menikahkan mereka dengan saksi ribuan batang padi, batu-batu kali, dan seekor kerbau bertanduk tiga puluh senti.

Namun, pertanyaan itu bukanlah awalan ataupun akhir untuk senja yang telah membakar ekor-ekor awan yang berlarian. Berjam-jam sebelumnya mereka telah bertemu, bercinta di sebuah kamar hotel warna-warni, lalu bersama-sama menganggap diri mereka adalah orang pertama yang menyaksikan merkuri-merkuri menyala: kuning atau jingga. Mereka menunggu hampir satu jam untuk itu. Dan, ketika akhirnya merkuri itu bersinar, Maruta merasakan ketiaknya mulai dingin. Namun, malam belum turun dan senja belum selesai kala itu. Baru ketika malam telah tiba dan mereka akhirnya berpisah, Maruta sadar bahwa mendunglah yang telah memantik para merkuri.

Pada pertemuan kelima mereka tahun itu, untuk pertama kalinya Mi ingin menghabiskan waktu selain bercinta dan berduaan. Maruta mengiyakan permintaan kekasihnya. Ia menemani ke mana pun tempat yang ingin Mi kunjungi. Ia mengawasi Mi dengan ganjil ketika perempuan mungil itu berkejar-kejaran dengan ombak dengan tawa yang keras. Ia mengantarkan Mi keluar-masuk kampus hanya untuk mengenang masa kuliahnya yang tak pernah selesai. Bahkan Maruta menemani Mi duduk di nol kilometer-yang lebih terasa seperti tindakan konyol karena melakukannya pada siang hari bolong.

"Sudah berapa lama sejak hari itu?" tanya Mi seusai Maruta mengambil gambarnya di gerbang sebuah benteng kuno.

Yang dimaksud hari itu pasti adalah hari ketika Mi memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya, lalu pergi dengan lelaki separuh botak yang gemar merokok tanpa filter. Bibirnya hitam dan giginya kuning. Dan, meskipun bibir dan gigi Mi tetap semenawan dulu, Maruta masih dapat merasakan rasa tembakau yang pedas dan memuakkan. Maruta sendiri benci rokok, kecuali kalau dia sedang berkendara. Ia pemabuk kendaraan berat dan merokok menjaganya tidak memuntahkah semua yang ditelannya.

Pasti sekitar tujuh tahun, jawab Maruta. Kau sudah menikah dan punya anak, lanjutnya. Aku masih begini-begini saja. Ini sedikit menjijikkan.

"Apa kau akan tetap begini-begini saja sampai mati?"

Tidak. Tapi, kemudian Maruta menatap perempuan itu, benarkah tidak? Ia tak bisa ingat lagi musim-musim yang membentang dan telah mereka lalui bersama. Ada jeda lain antara kepergian Mi dengan pertemuan-pertemuan mereka yang diisi penuh dengan kesunyian. Maka Maruta merasa bahwa bukan cinta dan perasaan yang saling terkait yang telah mengikat mereka bertahun-tahun setelah perpisahan mereka. Tapi, lebih kepada rasa kesepian yang memuakkan. Hal itu benar-benar dipikirkan oleh Maruta, ia bahkan pernah mual memikirkan betapa busuknya kehidupan yang telah ia jalani. Betapa menyedihkannya kehidupan manusia yang menjadikan kesunyian sebagai panduan hidupnya.

"Kau bertahan hidup dengan cara yang aneh," kata Mi. Tahukah kau, katanya lagi, aku menceritakanmu kepada anakku. Kukatakan bahwa hampir semua gedung tinggi di kotanya adalah ciptaanmu, termasuk apartemen tempat kami tinggal. Ia suka pergi ke taman di lantai bawah, lalu melihat ke atas. Katanya, "Teman ibu itu membuat gedung dan kamar-kamar ini, apa dia tuhan buat mereka?"

Haha. Anakmu terlalu liberal.

"Barangkali karena ayahnya."

Tapi, aku memang bukan tuhan mereka, kata Maruta. Barangkali bukan secara langsung.

"Lalu aku harus bercerita apa padanya nanti?"

Maruta diam. Mi menggandeng tangannya, tapi enggan bersuara.

Dan, kenangan masa lalu seperti terlintas ketika mereka melihat rombongan muda-mudi berjaket sama, semua menenteng ponsel dan kamera. Mereka tertawa.

Hanya karena kau meninggalkanku, maka aku membuat mereka. Hanya karena ada jarak, sakit hati, dan rasa sepi yang ganjil.

Aku membayangkan, Mi, kata Maruta lagi, bahwa karena rasa sepilah yang membuat gedung-gedung itu. Aku tak bisa menyembuhkan sakit hatiku, memulihkan sikapku. Kesunyian memang tak bisa dibunuh, barangkali.

"Kau tahu, aku tak pernah meminta maaf karena telah meninggalkanmu."

Ya, kau memang tak pernah.

"Kurasa aku memang tak perlu begitu."

Ya, kau memang tak perlu.

Lalu menit demi menit pada hari itu melintas pelan dan menyakitkan, seperti sebuah kereta api yang berjalan masuk di sebuah stasiun. Seolah kebersamaan mereka memang menjadi tak menyenangkan lagi. Gelak tawa masih bisa didengar, namun Mi tetap tak mau menjawab pertanyaan Maruta saat melihat sepasang beringin.

"Aku selalu membayangkan bangunan-bangunan ini bisa bicara satu sama lain," kata Mi seusai mereka menunggu merkuri menyala. "Misalnya rel itu bicara dengan palang pintu, trotoar dengan gerobak angkringan, lalu...."

Halte dengan bus, roda kendaraan dengan aspal, merkuri dengan tiang telepon.

"Ya-ya-ya. Memang tipikal orang kesepian kau ini. Atau, jangan-jangan semua benda diciptakan karena kesunyian penciptanya."

Ya. Teori bagus, kata Maruta.

Dan, bangunan itu ada di sana: menjulang tak seberapa tinggi dan tetap mempertahankan empat sisinya dari bawah sampai atas. Tugu itu terlihat menyedihkan. Berdiri sendirian di perempatan jalan, jauh dari bangunan mana pun. Barangkali, satu-satunya teman yang masuk akal adalah gedung tinggi berangka 101.

Bagaimana jika Tugu itu dulunya adalah seseorang yang membatu karena sebuah alasan, tanya Maruta, namun lebih kepada dirinya sendiri sebenarnya. Monumen itu mungkin seorang lelaki tambun atau perempuan hamil karena bagian tengahnya yang membesar.

Kemudian, pertanyaan yang mengejutkan --bahkan bagi dirinya sendiri-- itu terucap: apa yang akan dikatakan oleh sebuah monumen kepada bangunan berangka 101 yang menjulang di sisinya?

Kali ini ia bertanya pada Mi, tapi perempuan itu tak menjawab. Ia berlari ke seberang jalan karena gerimis kecil yang tiba-tiba datang, meninggalkan Maruta menengadahkan kepala sendirian di bawah tugu. Perempuan mungil itu memanggilnya sekali dari pinggir, namun Maruta bergeming. Ketika Maruta menengok kepadanya lagi, ia sudah pergi. Padahal hujan tak pernah sama sekali lebih deras lagi dan perasaannya tak pernah lebih sakit daripada yang Maruta rasakan saat itu.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Mi tak lagi datang ke kotanya, kesunyian dan kepedihan yang begitu sangat mulai mengeraskan hati Maruta. Ia lebih sering berdiam diri di pinggir jalan, begitu lama hingga tubuhnya pun mulai kaku. Sakit hati yang menderanya seharusnya cukup untuk membunuhnya dan ia tahu itu. Namun, ia juga sadar bahwa satu-satunya alasan dirinya tak mati adalah karena kesunyian yang begitu pekat. Baginya kesunyian seperti punya enam sisi dan dua belas rusuk: penjara yang menyedihkan. Dan, kini kesunyian akan mengubah dirinya menjadi bentuk lain tak berapa lama lagi.

Pertanyaan keduanya tak terjawab, jadi ia harus mereka-reka apa yang selalu dikatakan monumen itu kepada Gedung 101 itu dulu. Apa cukup hanya dengan mengucapkan selamat pagi? Apa yang mereka perbincangkan sepanjang hari? Dan lagi, apa halte akan sepintar sebuah gedung untuk menanggapi obrolan yang ia buat. Ia harus mencari tahu sendiri jawaban pertanyaannya. Masih ada waktu yang mendekati selamanya.

Namun, pertanyaannya yang pertama pada Mi bertahun-tahun yang lalu tak pernah mendapatkan jawabannya. Mi hanya diam. Ia tak menangis, tertawa, ataupun tersenyum. Tak ada yang bisa menjawab selain Mi sendiri tentu saja ketika seseorang menanyakan kepadanya, "Apa kau bahagia?"

Jogja, 31 Agustus 2014

Gaza Manta lahir di Lamongan, menyelesaikan studi di Semarang, kini bertempat tinggal di Lombok Timur


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed