Gema 'Nyanyi Sunyi Revolusi' Amir Hamzah dari Panggung Teater

Tia Agnes - detikHot
Minggu, 03 Feb 2019 17:15 WIB
Foto: dok. isti
Jakarta - "Apa yang terjadi pada negeri ini? Banyak nian desas desus dan kesumat. Rasanya seperti ada yang mengancam kami," berkali-kali Tengku Kamaliah bertanya soal kondisi di Kesultanan.

Dia merasa ada yang tak beres dengan negerinya, Kesultanan Langkat, termasuk orang-orang di sekeliling suaminya Tengku Amir Hamzah. Tengku Kamaliah merupakan putri dari Sultan Mahmud dari Langkat.

Tapak bangunan dari reruntuhan Kesultanan Langkat berada di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta. Malam itu untuk pertama kalinya kisah penyair Amir Hamzah diangkat ke atas panggung teater lewat pertunjukan 'Nyanyi Sunyi Revolusi' yang disutradarai Iswadi Pratama.

Lakon 'Nyanyi Sunyi Revolusi' dimulai dengan masa kecil Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera yang belajar mengaji di surau dan diajarkan silat oleh orang kepercayaan keluarga. Filosofi silat ditanamkan dalam benak Amir Hamzah.


Nyanyi Sunyi Revolusi.Nyanyi Sunyi Revolusi. Foto: Seno/ detikHOT


"Bertahan bila diserang, tidak menyerang lawan lebih dahulu, memaafkan, dan tidak memendam kebencian," ucap guru silat kepada Amir Hamzah.

Pesan itu yang terus membekas dalam hidup Amir Hamzah. Ketika dewasa, ia mengenyam pendidikan ke Pulau Jawa dan bertemu dengan seorang perempuan bernama Ilik Sundari. Persahabatan keduanya melahirkan kisah kasih yang tak sampai, seperti adegan dalam Siti Nurbaya karya Samsul Bachri.

Amir Hamzah terpaksa menikahi Tengku Kamaliah demi melanggekan kekuasaan antara Kesultanan Langkat dan Belanda. Amir yang merasa utang budi akhirnya mengiyakan dan pulang kampu. Meski saudara sepupunya sempat menghasut agar Amir menerima tawaran mengajar bahasa Indonesia ke Jepang lalu kawin lari dengan Ilik namun ia menolaknya.

Revolusi Sosial pada 1946 membuat Kesultanan Langkat dan rakyat berkecamuk. Amir yang berasal dari keluarga bangsawan terpaksa diadili, disiksa sampai dipenggal kepalanya.

Menonton 'Nyanyi Sunyi Revolusi' seperti melihat sejarah tragis dari seorang tokoh bangsa yang kisahnya tak dijelaskan secara detail dalam buku pelajaran sejarah. Nama Amir Hamzah hanya sebatas disebut Raja Penyair Pujangga Baru yang menulis puisi maupun prosa liris.

Nyanyi Sunyi RevolusiNyanyi Sunyi Revolusi Foto: Seno/ detikHOT


Namun kisah ironinya yang dibunuh oleh bangsanya sendiri, hanya termuat di segelintir buku maupun saksi hidup yang mengetahuinya. Menuju suasana politik yang bakal memanas di tahun ini, Titimangsa Foundation mengadaptasi kisah Amir Hamzah ke panggung teater tak hanya sebagai pengingat cerita hidupnya.

"Amir Hamzah juga punya peran besar dalam lahirnya Republik Indonesia. Saat masih sekolah di AMS Solo, Amir sudah aktif bersama teman-teman sekolahnya dalam berbagai perkumpulan pemuda seperti Jong Sumatera, dan Amir tergabung juga dalam perkumpulan 'Indonesia Moeda' yang menyuarakan kesadaran nasionalisme melawan kolonialisme Belanda," ujar produser pementasan, Happy Salma.

Pertunjukan selama dua jam lamanya sukses membuat penonton terhanyut dengan alur, setting, dan musik yang dimainkan. Meski narasi tak linier seperti pementasan pada umumnya, namun para pemain memainkan lakon dengan dialek Melayu yang apik. Di monolog panjang antara Tengku Tahura (Prisia Nasution) dan Tengku Kamaliah (Dessy Susanti) ada humor yang diselipkan sehingga membuat lakon tak monoton.

Lukman Sardi pun membawakan karakter Amir Hamzah tanpa kesalahan. Akting Lukman Sardi di puluhan layar lebar terbukti lewat peran yang dimainkannya di teater. Ia tak main-main menjadi seorang Amir Hamzah. Di akhir pertunjukan, monolog panjang Tengku Tahura mengungkap kelahiran dirinya berada di tengah kecamuk revolusi negeri, kisah cinta tiga manusia, dan kehidupan ayahnya yang penuh ironi.

Kisah hidup Amir Hamzah mungkin seperti syair syahdu yang pernah dituliskannya. "Sunyi itu duka.. sunyi itu kudus.. sunyi itu lupa.. sunyi itu lampus..."


''Nyanyi Sunyi Revolusi'', Kisah Cinta Tragis Amir Hamzah,Tonton Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


Gema 'Nyanyi Sunyi Revolusi' Amir Hamzah dari Panggung Teater

(tia/nkn)